Tahlilan dalam Pandangan NU, Muhammadiyah, PERSIS , Al Irsyad, Wali Songo, Ulama Salaf dan 4 Mazhab

Penjelasan Dari Nahdalatul Ulama (NU),Para Ulama Salafus salih,WaliSongo, 4 MahzabTentang Bid’ahnya Tahlilan

Segala puji bagi Allah, sholawat serta salam kita haturkan kepada Nabi Muhammad beserta keluarga dan sahabat-sahabatnya. Do’a dan shodaqoh untuk sesama muslim yang telah meninggal menjadi ladang amal bagi kita yang masih di dunia ini sekaligus tambahan amal bagi yang telah berada di alam sana.

Sebagai agama yang mencerahkan dan mencerdaskan, Islam membimbing kita menyikapi sebuah kematian sesuai dengan hakekatnya yaitu amal shalih, tidak dengan hal-hal duniawi yang tidak berhubungan sama sekali dengan alam sana seperti kuburan yang megah, bekal kubur yang berharga, tangisan yang membahana, maupun pesta besar-besaran.


Bila diantara saudara kita menghadapi musibah kematian, hendaklah sanak saudara menjadi penghibur dan penguat kesabaran, sebagaimana Rasulullah memerintahkan membuatkan makanan bagi keluarga yang sedang terkena musibah tersebut, dalam hadits:

“Kirimkanlah makanan oleh kalian kepada keluarga Ja’far, karena mereka sedang tertimpa masalah yang menyesakkan”.(HR Abu Dawud (Sunan Aby Dawud, 3/195), al-Baihaqy (Sunan al-Kubra, 4/61), al-Daruquthny (Sunan al-Daruquthny, 2/78), al-Tirmidzi (Sunan al-Tirmidzi, 3/323), al- Hakim (al-Mustadrak, 1/527), dan Ibn Majah (Sunan Ibn Majah, 1/514)

Namun ironisnya kini, justru uang jutaan rupiah dihabiskan tiap malam untuk sebuah selamatan kematian yang harus ditanggung keluarga yang terkena musibah.

Padahal ketika Rasulullah ditanya shodaqoh terbaik yang akan dikirimkan kepada sang ibu yang telah meninggal, Beliau menjawab ‘air’.

Bayangkan betapa banyak orang yang mengambil manfaat dari sumur yang dibuat itu (menyediakan air bagi masyarakat indonesia yang melimpah air saja sangat berharga, apalagi di Arab yang beriklim gurun), awet dan menjadi amal jariyah yang terus mengalir.

Rasulullah telah mengisyaratkan amal jariyah kita sebisa mungkin diprioritaskan untuk hal-hal yang produktif, bukan konsumtif; memberi kail, bukan memberi ikan; seandainya seorang pengemis diberi uang atau makanan, besok dia akan mengemis lagi; namun jika diberi kampak untuk mencari kayu, besok dia sudah bisa mandiri. Juga amal jariyah yang manfaatnya awet seperti menulis mushaf, membangun masjid, menanam pohon yang berbuah (reboisasi; reklamasi lahan kritis), membuat sumur/mengalirkan air (fasilitas umum, irigasi), mengajarkan ilmu, yang memang benar-benar sedang dibutuhkan masyarakat.

Bilamana tidak mampu secara pribadi, toh bisa dilakukan secara patungan. Seandainya dana umat Islam yang demikian besar untuk selamatan berupa makanan (bahkan banyak makanan yang akhirnya dibuang sia-sia; dimakan ayam; lainnya menjadi isyrof) dialihkan untuk memberi beasiswa kepada anak yatim atau kurang mampu agar bisa sekolah, membenahi madrasah/sekolah islam agar kualitasnya sebaik sekolah faforit (yang umumnya milik umat lain),atau menciptakan lapangan kerja dan memberi bekal ketrampilan bagi pengangguran, niscaya akan lebih bermanfaat. Namun shodaqoh tersebut bukan suatu keharusan, apalagi bila memang tidak mampu. Melakukannya menjadi keutamaan, bila tidak mau pun tidak boleh ada celaan.

Sebagian ulama menyatakan mengirimkan pahala tidak selamanya harus dalam bentuk materi, Imam Ahmad dan Ibnu Taimiyah berpendapat bacaan al- Qur’an dapat sampai sebagaimana puasa, nadzar, haji, dll; sedang Imam Syafi’i dan Imam Nawawi menyatakan bacaan al-Qur’an untuk si mayit tidak sampai karena tidak ada dalil yang memerintahkan hal tersebut, tidak dicontohkan Rasulullah dan para shahabat.

Berbeda dengan ibadah yang wajib atau sunnah mu’akad seperti shalat, zakat, qurban, sholat jamaah, i’tikaf 10 akhir ramadhan, yang mana ada celaan bagi mereka yang meninggalkannya dalam keadaan mampu.

Akan tetapi di masyarakat kita selamatan kematian/tahlilan telah dianggap melebihi kewajiban- kewajiban agama.

Orang yang meninggalkannya dianggap lebih tercela daripada orang yang meninggalkan sholat, zakat, atau kewajiban agama yang lain.

Sehingga banyak yang akhirnya memaksakan diri karena takut akan sanksi sosial tersebut.

Mulai dari berhutang, menjual tanah, ternak atau barang berharga yang dimiliki, meskipun di antara keluarga terdapat anak yatim atau orang lemah.

Padahal di dalam al-Qur’an telah jelas terdapat arahan untuk memberikan perlindungan harta anak yatim; tidak memakan harta anak yatim secara dzalim, tetapi menjaga sampai ia dewasa (QS an-Nisa’: 2, 5, 10, QS al- An’am: 152, QS al-Isra’: 34) serta tidak membelanjakannya secara boros (QS an- Nisa’: 6)

Dibalik selamatan kematian tersebut sesungguhnya juga terkandung tipuan yang memperdayakan. Seorang yang tidak beribadah/menunaikan kewajiban agama selama hidupnya, dengan besarnya prosesi selamatan setelah kematiannya akan menganggap sudah cukup amalnya, bahkan untuk menebus kesalahan-kesalahannya.

Juga seorang anak yang tidak taat beribadahpun akan menganggap dengan menyelenggarakan selamatan, telah menunaikan kewajibannya berbakti/mendoakan orang tuanya.

Imam Syafi’i rahimahullah dalam kitab al-Umm berkata:

“…dan aku membenci al-ma’tam, yaitu proses berkumpul (di tempat keluarga mayat) walaupun tanpa tangisan, karena hal tersebut hanya akan menimbulkan bertambahnya kesedihan dan membutuhkan biaya, padahal beban kesedihan masih melekat.” (al-Umm (Beirut: Dar al-Ma’rifah, 1393) juz I, hal 279)

Namun ketika Islam datang ke tanah Jawa ini, menghadapi kuatnya adat istiadat yang telah mengakar. Masuk Islam tapi kehilangan selamatan-selamatan, beratnya seperti masyarakat Romawi disuruh masuk Nasrani tapi kehilangan perayaan kelahiran anak Dewa Matahari 25 Desember.

Dalam buku yang ditulis H Machrus Ali, mengutip naskah kuno tentang jawa yang tersimpan di musium Leiden, Sunan Ampel memperingatkan Sunan Kalijogoyang masih melestarikan selamatan tersebut:“Jangan ditiru perbuatan semacam itu karena termasuk bid’ah”. Sunan Kalijogo menjawab:“Biarlah nanti generasi setelah kita ketika Islam telah tertanam di hati masyarakat yang akan menghilangkan budaya tahlilan itu”.

Dalam buku Kisah dan Ajaran Wali Songo yang ditulis H. Lawrens Rasyidi dan diterbitkan Penerbit Terbit Terang Surabaya juga mengupas panjang lebar mengenai masalah ini. Dimana Sunan Kalijaga, Sunan Bonang, Sunan Kudus, Sunan Gunungjati dan Sunan Muria (kaum abangan) berbeda pandangan mengenai adat istiadat dengan Sunan Ampel, Sunan Giri dan Sunan Drajat (kaum putihan).

Sunan Kalijaga mengusulkan agar adat istiadat lama seperti selamatan, bersaji, wayang dan gamelan dimasuki rasa keislaman.

Sunan Ampel berpandangan lain: “Apakah tidak mengkhawatirkannya di kemudian hari bahwa adat istiadat dan upacara lama itu nanti dianggap sebagai ajaran yang berasal dari agama Islam? Jika hal ini dibiarkan nantinya akan menjadi bid’ah?”Sunan kudus menjawabnya bahwa ia mempunyai keyakinan bahwa di belakang hari akan ada yang menyempurnakannya. (hal 41, 64)

Dalam penyebaran agama Islam di Pulau Jawa, para Wali dibagi menjadi tiga wilayah garapan

Pembagian wilayah tersebut berdasarkan obyek dakwah yang dipengaruhi oleh agama yang masyarakat anut pada saat itu, yaitu Hindu dan Budha.

Pertama: Wilayah Timur. Di wilayah bagian timur ini ditempati oleh lima orang wali, karena pengaruh hindu sangat dominan. Disamping itu pusat kekuasaan Hindu berada di wilayah Jawa bagian timur ini (Jawa Timur sekarang) Wilayah ini ditempati oleh lima wali, yaitu Syaikh Maulana Ibrahim (Sunan Demak), Raden Rahmat (Sunan Ampel), Raden Paku (Sunan Giri), Makdum Ibrahim (Sunan Bonang), dan Raden Kasim (Sunan Drajat)

Kedua : Wilayah Tengah. Di wilayah Tengah ditempati oleh tiga orang Wali. Pengaruh Hindu tidak begitu dominan. Namun budaya Hindu sudah kuat. Wali yang ditugaskan di sini adalah : Raden Syahid (Sunan Kali Jaga), Raden Prawoto (Sunan Muria), Ja’far Shadiq (Sunan Kudus)

Ketiga : Wilayah Barat. Di wilayah ini meliputi Jawa bagian barat, ditempati oleh seorang wali, yaitu Sunan Gunung Jati alias Syarief Hidayatullah. Di wilayah barat pengaruh Hindu-Budha tidak dominan, karena di wilayah Tatar Sunda (Pasundan) penduduknya telah menjadi penganut agama asli sunda, antara lain kepercayaan “Sunda Wiwitan”

Dua Pendekatan dakwah para wali.

1. Pendekatan Sosial Budaya

2. Pendekatan aqidah Salaf

Sunan Ampel, Sunan Bonang, Sunan Drajat, Sunan Gunung Jati dan terutama Sunan Giri berusaha sekuat tenaga untuk menyampaikan ajaran Islam secara murni, baik tentang aqidah maupun ibadah. Dan mereka menghindarkan diri dari bentuk singkretisme ajaran Hindu dan Budha.

Tetapi sebaliknya Sunan Kudus, Sunan Muria dan Sunan Kalijaga mencoba menerima sisa-sisa ajaran Hindu dan Budha di dalam menyampaikan ajaran Islam. Sampai saat ini budaya itu masih ada di masyarakat kita, seperti sekatenan, ruwatan, shalawatan, tahlilan, upacara tujuh bulanan dll.

Pendekatan Sosial budaya dipelopori oleh Sunan Kalijaga, putra Tumenggung Wilwatika, Adipati Majapahit Tuban. Pendekatan sosial budaya yang dilakukan oleh aliran Tuban memang cukup efektif, misalnya Sunan Kalijaga menggunakan wayang kulit untuk menarik masyarakat jawa yang waktu itu sangat menyenangi wayang kulit.

Sebagai contoh dakwah Sunan kalijaga kepada Prabu Brawijaya V, Raja Majapahit terakhir yang masih beragama Hindu, dapat dilihat di serat Darmogandul, yang antara lain bunyinya;

Punika sadar sarengat, tegese sarengat niki, yen sare wadine njegat; tarekat taren kang osteri; hakikat unggil kapti, kedah rujuk estri kakung, makripat ngentos wikan, sarak sarat laki rabi, ngaben aku kaidenna yayan rina” (itulah yang namanya sahadat syariat, artinya syariat ini, bila tidur kemaluannya tegak; sedangkan tarekat artinya meminta kepada istrinya; hakikat artinya menyatu padu , semua itu harus mendapat persetujuan suami istri; makrifat artinya mengenal ; jadilah sekarang hukum itu merupakan syarat bagi mereka yang ingin berumah tangga, sehingga bersenggama itu dapat dilaksanakan kapanpun juga).

Dengan cara dan sikap Sunan Kalijaga seperti tergambar di muka, maka ia satu-satunya Wali dari Sembilan Wali di Jawa yang dianggap benar-benar wali oleh golongan kejawen (Islam Kejawen/abangan), karena Sunan Kalijaga adalah satu-satunya wali yang berasal dari penduduk asli Jawa (pribumi).

[Sumber : Abdul Qadir Jailani , Peran Ulama dan Santri Dalam Perjuangan Politik Islam di Indonesia, hal. 22-23, Penerbit PT. Bina Ilmu dan Muhammad Umar Jiau al Haq, M.Ag, Syahadatain Syarat Utama Tegaknya Syariat Islam, hal. 51-54, Kata Pengantar Muhammad Arifin Ilham (Pimpinan Majlis Adz Zikra), Penerbit Bina Biladi Press.]

Nasehat Sunan Bonang

Salah satu catatan menarik yang terdapat dalam dokumen “Het Book van Mbonang”[1] adalah peringatan dari sunan Mbonang kepada umat untuk selalu bersikap saling membantu dalam suasana cinta kasih, dan mencegah diri dari kesesatan dan bid’ah. Bunyinya sebagai berikut:

“Ee..mitraningsun! Karana sira iki apapasihana sami-saminira Islam lan mitranira kang asih ing sira lan anyegaha sira ing dalalah lan bid’ah“.

Artinya: “Wahai saudaraku! Karena kalian semua adalah sama-sama pemeluk Islam maka hendaklah saling mengasihi dengan saudaramu yang mengasihimu. Kalian semua hendaklah mencegah dari perbuatan sesat dan bid’ah.[2]

[1] Dokumen ini adalah sumber tentang walisongo yang dipercayai sebagai dokumen asli dan valid, yang tersimpan di Museum Leiden, Belanda. Dari dokumen ini telah dilakukan beberapa kajian oleh beberapa peneliti. Diantaranya thesis Dr. Bjo Schrieke tahun 1816, dan Thesis Dr. Jgh Gunning tahun 1881, Dr. Da Rinkers tahun 1910, dan Dr. Pj Zoetmulder Sj, tahun 1935.

[2] Dari info Abu Yahta Arif Mustaqim, pengedit buku Mantan Kiai NU Menggugat Tahlilan, Istighosahan dan Ziarah Para Wali hlm. 12-13.

Muktamar NU ke-1 di Surabaya tanggal 13 Rabiuts Tsani 1345 H/21 Oktober 1926

Mencantumkan pendapat Ibnu Hajar al-Haitami dan menyatakan bahwa selamatan kematian adalah bid’ah yang hina namun tidak sampai diharamkan dan merujuk juga kepada Kitab Ianatut Thalibin.

Namun Nahdliyin generasi berikutnya menganggap pentingnya tahlilan tersebut sejajar (bahkan melebihi) rukun Islam/Ahli Sunnah wal Jama’ah. Sekalipun seseorang telah melakukan kewajiban-kewajiban agama, namun tidak melakukan tahlilan, akan dianggap tercela sekali, bukan termasuk golongan Ahli Sunnah wal Jama’ah.

Di zaman akhir yang ini dimana keadaan pengikut sunnah seperti orang ‘aneh’ asing di negeri sendiri, begitu banyaknya orang Islam yang meninggalkan kewajiban agama tanpa rasa malu, seperti meninggalkan Sholat Jum’at, puasa Romadhon,dll.

Sebaliknya masyarakat begitu antusias melaksanakan tahlilan ini, hanya segelintir orang yang berani meninggalkannya. Bahkan non-muslim pun akan merasa kikuk bila tak melaksanakannya. Padahal para ulama terdahulu senantiasa mengingat dalil-dalil yang menganggap buruk walimah (selamatan) dalam suasana musibah tersebut.

Dari sahabat Jarir bin Abdullah al-Bajali: “Kami (para sahabat) menganggap kegiatan berkumpul di rumah keluarga mayit, serta penghidangan makanan oleh mereka merupakan bagian dari niyahah (meratapi mayit)”. (Musnad Ahmad bin Hambal (Beirut: Dar al-Fikr, 1994) juz II, hal 204 & Sunan Ibnu Majah (Beirut: Dar al-Fikr) juz I, hal 514)

MUKTAMAR I NAHDLATUL ULAMA (NU) KEPUTUSAN MASALAH DINIYYAH NO: 18 / 13 RABI’UTS TSAANI 1345 H / 21 OKTOBER 1926 DI SURABAYA

TENTANG KELUARGA MAYIT MENYEDIAKAN MAKAN KEPADA PENTAKZIAH

TANYA :

Bagaimana hukumnya keluarga mayat menyediakan makanan untuk hidangan kepada mereka yang datang berta’ziah pada hari wafatnya atau hari-hari berikutnya, dengan maksud bersedekah untuk mayat tersebut? Apakah keluarga memperoleh pahala sedekah tersebut?

JAWAB :

Menyediakan makanan pada hari wafat atau hari ketiga atau hari ketujuh itu hukumnya MAKRUH, apabila harus dengan cara berkumpul bersama-sama dan pada hari-hari tertentu, sedang hukum makruh tersebut tidak menghilangkan pahala itu.

KETERANGAN :

Dalam kitab I’anatut Thalibin Kitabul Janaiz:

MAKRUH hukumnya bagi keluarga mayit ikut duduk bersama orang-orang yang sengaja dihimpun untuk berta’ziyah dan membuatkan makanan bagi mereka, sesuai dengan hadits riwayat Ahmad dari Jarir bin Abdullah al Bajali yang berkata: ”kami menganggap berkumpul di (rumah keluarga) mayit dengan menyuguhi makanan pada mereka, setelah si mayit dikubur, itu sebagai bagian dari RATAPAN (YANG DILARANG).”

Dalam kitab Al Fatawa Al Kubra disebutkan :

“Beliau ditanya semoga Allah mengembalikan barokah-Nya kepada kita. Bagaimanakah tentang hewan yang disembelih dan dimasak kemudian dibawa di belakang mayit menuju kuburan untuk disedekahkan ke para penggali kubur saja, dan TENTANG YANG DILAKUKAN PADA HARI KETIGA KEMATIAN DALAM BENTUK PENYEDIAAN MAKANAN UNTUK PARA FAKIR DAN YANG LAIN, DAN DEMIKIAN HALNYA YANG DILAKUKAN PADA HARI KETUJUH, serta yang dilakukan pada genap sebulan dengan pemberian roti yang diedarkan ke rumah-rumah wanita yang menghadiri proses ta’ziyah jenazah.

Mereka melakukan semua itu tujuannya hanya sekedar melaksanakan kebiasaan penduduk setempat sehingga bagi yang tidak mau melakukannya akan dibenci oleh mereka dan ia akan merasa diacuhkan. Kalau mereka melaksanakan adat tersebut dan bersedekah tidak bertujuaan (pahala) akhirat, maka bagaimana hukumnya, boleh atau tidak?

Apakah harta yang telah ditasarufkan, atas keingnan ahli waris itu masih ikut dibagi/dihitung dalam pembagian tirkah/harta warisan, walau sebagian ahli waris yang lain tidak senang pentasarufan sebagaian tirkah bertujuan sebagai sedekah bagi si mayit selama satu bulan berjalan dari kematiannya. Sebab, tradisi demikian, menurut anggapan masyarakat harus dilaksanakan seperti “wajib”, bagaimana hukumnya.”

Beliau menjawab bahwa semua yang dilakukan sebagaimana yang ditanyakan di atas termasuk BID’AH YANG TERCELA tetapi tidak sampai haram (alias makruh), kecuali (bisa haram) jika prosesi penghormatan pada mayit di rumah ahli warisnya itu bertujuan untuk “meratapi” atau memuji secara berlebihan (rastsa’).

Dalam melakukan prosesi tersebut, ia harus bertujuan untuk menangkal “OCEHAN” ORANG-ORANG BODOH (yaitu orang-orang yang punya adat kebiasaan menyediakan makanan pada hari wafat atau hari ketiga atau hari ketujuh, dst-penj.), agar mereka tidak menodai kehormatan dirinya, gara-gara ia tidak mau melakukan prosesi penghormatan di atas.

Dengan sikap demikian, diharapkan ia mendapatkan pahala setara dengan realisasi perintah Nabi terhadap seseorang yang batal (karena hadast) shalatnya untuk menutup hidungnya dengan tangan (seakan-akan hidungnya keluar darah). Ini demi untuk menjaga kehormatan dirinya, jika ia berbuat di luar kebiasaan masyarakat.

Tirkah tidak boleh diambil / dikurangi seperti kasus di atas. Sebab tirkah yang belum dibagikan mutlak harus disterilkan jika terdapat ahli waris yang majrur ilahi. Walaupun ahli warisnya sudah pandai-pandai, tetapi sebagian dari mereka tidak rela (jika tirkah itu digunakan sebelum dibagi kepada ahli waris).

[Buku “Masalah Keagamaan” Hasil Muktamar/ Munas Ulama NU ke I s/d XXX (yang terdiri dari 430 masalah) oleh KH. A. Aziz Masyhuri ketua Pimpinan Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyah dan Pengasuh Ponpes Al Aziziyyah Denanyar Jombang. Kata Pengantar Menteri Agama Republik Indonesia : H. Maftuh Basuni]

Keterangan lebih lengkapnya lihat dalam Kitab I’anatut Thalibin Juz 2 hal. 165 -166 , Seperti terlampir di bawah ini :

وقد أرسل الامام الشافعي – رضي الله عنه – إلى بعض أصحابه يعزيه في ابن له قد مات بقوله: إني معزيك لا إني على ثقة * * من الخلود، ولكن سنة الدين فما المعزى بباق بعد ميته * * ولا المعزي ولو عاشا إلى حين والتعزية: هي الامر بالصبر، والحمل عليه بوعد الاجر، والتحذير من الوزر بالجزع، والدعاء للميت بالمغفرة وللحي بجبر المصيبة، فيقال فيها: أعظم الله أجرك، وأحسن عزاءك، وغفر لميتك، وجبر معصيتك، أو أخلف عليك، أو نحو ذلك.وهذا في تعزية المسلم بالمسلم.

وأما تعزية المسلم بالكافر فلا يقال فيها: وغفر لميتك، لان الله لا يغفر الكفر.

وهي مستحبة قبل مضي ثلاثة أيام من الموت، وتكره بعد مضيها.ويسن أن يعم بها جميع أهل الميت من صغيروكبير، ورجل وامرأة، إلا شابة وأمرد حسنا، فلا يعزيهما إلا محارمهما، وزوجهما.ويكره ابتداء أجنبي لهما بالتعزية، بل الحرمة أقرب.ويكره لاهل الميت الجلوس للتعزية، وصنع طعام يجمعون الناس عليه، لما روى أحمد عن جرير بن عبد الله البجلي، قال: كنا نعد الاجتماع إلى أهل الميت وصنعهم الطعام بعد دفنه من النياحة، ويستحب لجيران أهل الميت – ولو أجانب – ومعارفهم – وإن لم يكونوا جيرانا – وأقاربه الاباعد – وإن كانوا بغير بلد الميت – أن يصنعوا لاهله طعاما يكفيهم يوما وليلة، وأن يلحوا عليهم في الاكل.ويحرم صنعه للنائحة، لانه إعانة على معصية.

وقد اطلعت على سؤال رفع لمفاتي مكة المشرفة فيما يفعله أهل الميت من الطعام.وجواب منهم لذلك.

(وصورتهما).

ما قول المفاتي الكرام بالبلد الحرام دام نفعهم للانام مدى الايام، في العرف الخاص في بلدة لمن بها من الاشخاص أن الشخص إذا انتقل إلى دار الجزاء، وحضر معارفه وجيرانه العزاء، جرى العرف بأنهم ينتظرون الطعام، ومن غلبة الحياء على أهل الميت يتكلفون التكلف التام، ويهيئون لهم أطعمة عديدة، ويحضرونها لهم بالمشقة الشديدة.فهل لو أراد رئيس الحكام – بما له من الرفق بالرعية، والشفقة على الاهالي – بمنع هذه القضية بالكلية ليعودوا إلى التمسك بالسنة السنية، المأثورة عن خير البرية وإلى عليه ربه صلاة وسلاما، حيث قال: اصنعوا لآل جعفر طعاما يثاب على هذا المنع المذكور ؟ أفيدوا بالجواب بما هو منقول ومسطور.

(الحمد لله وحده) وصلى الله وسلم على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه والسالكين نهجهم بعده.اللهم أسألك الهداية للصواب.

نعم، ما يفعله الناس من الاجتماع عند أهل الميت وصنع الطعام، من البدع المنكرة التي يثاب على منعها والي الامر، ثبت الله به قواعد الدين وأيد به الاسلام والمسلمين.

قال العلامة أحمد بن حجر في (تحفة المحتاج لشرحك المنهاج): ويسن لجيران أهله – أي الميت – تهيئة طعام يشبعهم يومهم وليلتهم، للخبر الصحيح.اصنعوا لآل جعفر طعاما فقد جاءهم ما يشغلهم

.

ويلح عليهم في الاكل ندبا، لانهم قد يتركونه حياء، أو لفرط جزع.ويحرم تهيئه للنائحات لانه إعانة على معصية، وما اعتيد من جعل أهل الميت طعاما ليدعوا الناس إليه، بدعة مكروهة - كإجابتهم لذلك، لما صح عن جرير رضي الله عنه.كنا نعد الاجتماع إلى أهل الميت وصنعهم الطعام بعد دفنه من النياحة.

ووجه عده من النياحة ما فيه من شدة الاهتمام بأمر الحزن.

ومن ثم كره اجتماع أهل الميت ليقصدوا بالعزاء، بل ينبغي أن ينصرفوا في حوائجهم، فمن صادفهم عزاهم.

اه.

وفي حاشية العلامة الجمل على شرح المنهج: ومن البدع المنكرة والمكروه فعلها: ما يفعله الناس من الوحشةوالجمع والاربعين، بل كل ذلك حرام إن كان من مال محجور، أو من ميت عليه دين، أو يترتب عليه ضرر، أو نحو ذلك.

اه.وقد قال رسول الله (ص) لبلال بن الحرث رضي الله عنه: يا بلال من أحيا سنة من سنتي قد أميتت من بعدي، كان له من الاجر مثل من عمل بها، لا ينقص من أجورهم شيئا.

ومن ابتدع بدعة ضلالة لا يرضاها الله ورسوله، كان عليه مثل من عمل بها، لا ينقص من أوزارهم شيئا.وقال (ص): إن هذا الخير خزائن، لتلك الخزائن مفاتيح، فطوبى لعبد جعله الله مفتاحا للخير، مغلاقا للشر.وويل لعبد جعله الله مفتاحا للشر، مغلاقا للخير.

ولا شك أن منع الناس من هذه البدعة المنكرة فيه إحياء للسنة، وإماته للبدعة، وفتح لكثير من أبواب الخير، وغلق لكثير من أبواب الشر، فإن الناس يتكلفون تكلفا كثيرا، يؤدي إلى أن يكون ذلك الصنع محرما.والله سبحانه وتعالى أعلم.

كتبه المرتجي من ربه الغفران: أحمد بن زيني دحلان – مفتي الشافعية بمكة المحمية – غفر الله له، ولوالديه، ومشايخه، والمسلمين.

(الحمد لله) من ممد الكون أستمد التوفيق والعون.نعم، يثاب والي الامر – ضاعف الله له الاجر، وأيده بتأييده – على منعهم عن تلك الامور التي هي من البدع المستقبحة عند الجمهور.

قال في (رد المحتار تحت قول الدار المختار) ما نصه: قال في الفتح: ويستحب لجيران أهل الميت، والاقرباء الاباعد، تهيئة طعام لهم يشبعهم يومهم وليلتهم، لقوله (ص): اصنعوا لآل جعفر

طعاما

(ما فقد جاءهم ما يشغلهم.حسنه الترمذي، وصححه الحاكم.

ولانه بر ومعروف، ويلح عليهم في الاكل، لان الحزن يمنعهم من ذلك، فيضعفون حينئذ.وقال أيضا: ويكره الضيافة من الطعام من أهل الميت، لانه شرع في السرور، وهي بدعة.روى الامام أحمد وابن ماجه بإسناد صحيح، عن جرير بن عبد الله، قال: كنا نعد الاجتماع إلى أهل الميت وصنعهم الطعام من النياحة.اه.

وفي البزاز: ويكره اتخاذ الطعام في اليوم الاول والثالث وبعد الاسبوع، ونقل الطعام إلى القبر في المواسم إلخ.وتمامه فيه، فمن شاء فليراجع.والله سبحانه وتعالى أعلم.كتبه خادم الشريعة والمنهاج: عبد الرحمن بن عبد الله سراج، الحنفي، مفتي مكة المكرمة – كان الله لهما حامدا مصليا مسلما

Terjemahan kalimat yang telah digaris bawahi atau ditulis tebal di atas, di dalam Kitab I’anatut Thalibin :

  1. Ya, apa yang dikerjakan orang, yaitu berkumpul di rumah keluarga mayit dan dihidangkannya makanan untuk itu, adalah termasuk Bid’ah Mungkar, yang bagi orang yang melarangnya akan diberi pahala.
  2. Dan apa yang telah menjadi kebiasaan, ahli mayit membuat makanan untuk orang-orang yang diundang datang padanya, adalah Bid’ah yang dibenci.
  3. Dan tidak diragukan lagi bahwa melarang orang-orang untuk melakukan Bid’ah Mungkarah itu (Haulan/Tahlilan : red) adalah menghidupkan Sunnah, mematikan Bid’ah, membuka banyak pintu kebaikan, dan menutup banyak pintu keburukan.
  4. Dan dibenci bagi para tamu memakan makanan keluarga mayit, karena telah disyari’atkan tentang keburukannya, dan perkara itu adalah Bid’ah. Telah diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Ibnu Majah dengan sanad yang Shahih, dari Jarir ibnu Abdullah, berkata : “Kami menganggap berkumpulnya manusia di rumah keluarga mayit dan dihidangkan makanan , adalah termasuk Niyahah”

  5. Dan dibenci menyelenggarakan makanan pada hari pertama, ketiga, dan sesudah seminggu dst. 

Muhammadiyah, PERSIS dan Al Irsyad, sepakat mengatakan bahwa Tahlilan (Selamatan Kematian) adalah perkara bid’ah, dan harus ditinggalkan

Dari Thalhah: “Sahabat Jarir mendatangi sahabat Umar, Umar berkata: Apakah kamu sekalian suka meratapi mayat? Jarir menjawab: Tidak, Umar berkata: Apakah di antara wanita-wanita kalian semua suka berkumpul di rumah keluarga mayit dan memakan hidangannya? Jarir menjawab: Ya, Umar berkata: Hal itu sama dengan meratap”. (al-Mashnaf ibn Aby Syaibah (Riyad: Maktabah al-Rasyad, 1409), juz II hal 487) dari Sa’ied bin Jabir dan dari Khaban al-Bukhtary, kemudian dikeluarkan pula oleh Abd al-Razaq: “Merupakan perbuatan orang-orang jahiliyyah niyahah , hidangan dari keluarga mayit, dan menginapnya para wanita di rumah keluarga mayit”. (al-Mashnaf Abd al-Razaq al-Shan’any (Beirut: al-Maktab al- Islamy, 1403) juz III, hal 550. dikeluarkan pula oleh Ibn Abi Syaibah dengan lafazh berbeda melalui sanad Fudhalah bin Hashien, Abd al-Kariem, Sa’ied bin Jabbier) Dari Ibn Aby Syaibah al-Kufy: “Telah berbicara kepadaku Yan’aqid bin Isa dari Tsabit dari Qais, beliau berkata: saya melihat Umar bin Abdul Aziz melarang keluarga mayit mengadakan perkumpulan, kemudian berkata: kalian akan mendapat bencana dan akan merugi”.

Dari Ibn Aby Syaibah al-Kufy: “Telah berbicara kepada kami, Waki’ bin Jarrah dari Sufyan dari Hilal bin Khabab al Bukhtary, beliau berkata: Makanan yang dihidangkan keluarga mayat adalah merupakan bagian dari perbuatan Jahiliyah dan meratap merupakan bagian dari perbuatan jahiliyah”.

Syekh Nawawi al-Bantani, Syekh Arsyad al-Banjary dan Syekh Nuruddin ar- Raniry yang merupakan peletak dasar-dasar pesantren di Indonesia pun masih berpegang kuat dalam menganggap buruknya selamatan kematian itu.

“Shadaqah untuk mayit, apabila sesuai dengan tuntunan syara’ adalah dianjurkan, namun tidak boleh dikaitkan dengan hari ke tujuh atau hari- hari lainnya, sementara menurut Syaikh Yusuf, telah berjalan kebiasaan di antara orang-orang yang melakukan shadaqah untuk mayit dengan dikaitkan terhadap hari ketiga dari kematiannya, atau hari ke tujuh, atau keduapuluh, atau keempatpuluh, atau keseratus dan sesudahnya hingga dibiasakan tiap tahun dari kematiannya, padahal hal tersebut hukumnya makruh.

Demikian pula makruh hukumnya menghidangkan makanan yang ditujukan bagi orang-orang yang berkumpul pada malam penguburan mayit (biasa disebut al-wahsyah), bahkan haram hukumhukumnya biayanya berasal dari harta anak yatim”. (an-Nawawy al-Bantani, Nihayah al-Zein fi Irsyad al-Mubtadi’ien (Beirut: Dar al-Fikr) hal 281).

Pernyataan senada juga diungkapkan Muhammad Arsyad al-Banjary dalam Sabiel al-Muhtadien (Beirut: Dar al-Fikr) juz II, hal 87, serta Nurudin al-Raniry dalam Shirath al-Mustaqim (Beirut: Dar al-Fikr) juz II, hal 50)

Dari majalah al-Mawa’idz yang diterbitkan oleh NU pada tahun 30-an, menyitir pernyataan Imam al-Khara’ithy yang dilansir oleh kitab al-Aqrimany disebutkan: “al-Khara’ithy mendapat keterangan dari Hilal bin Hibban r.a, beliau berkata: ‘Penghidangan makanan oleh keluarga mayit merupakan bagian dari perbuatan orang-orang jahiliyah’. kebiasaan tersebut oleh masyarakat sekarang sudah dianggap sunnah, dan meninggalkannya berarti bid’ah, maka telah terbalik suatu urusan dan telah berubah suatu kebiasaan’. (al-Aqrimany dalam al-Mawa’idz; Pangrodjong Nahdlatoel ‘Oelama Tasikmalaya, Th. 1933, No. 18, hal.286).

Dan para ulama berkata: “Tidak pantas orang Islam mengikuti kebiasaan orang Kafir, oleh karena itu setiap orang seharusnya melarang keluarganya dari menghadiri acara semacam itu”. (al-Aqrimany hal 315 dalam al-Mawa’idz; Pangrodjong Nahdlatoel Oelama Tasikmalaya, Th. 1933, No. 18, hal.285)

Al-Sayyid al-Bakry Abu Bakr al-Dimyati dalam kitabnya I’anah at- Thalibien menghukumi makruh berkumpul bersama di tempat keluarga mayat, walaupun hanya sebatas untuk berbelasungkawa, tanpa dilanjutkan dengan proses perjamuan tahlilan.

Beliau justru menganjurkan untuk segera meninggalkan keluarga tersebut, setelah selesai menyampaikan ta’ziyah. (al-Sayyid al-Bakry Abu Bakr al-Dimyati, I’anah at- Thalibien (Beirut: Dar al-Fikr, 1414) juz II, hal 146)

Ibnu Taimiyah ketika menjawab pertanyaan tentang hukum dari al-Ma’tam: “Tidak diterima keterangan mengenai perbuatan tersebut apakah itu hadits shahih dari Nabi, tidak pula dari sahabat-sahabatnya, dan tidak ada seorangpun dari imam-imam muslimin serta dari imam madzhab yang empat (Imam Hanafy, Imam Maliki, Imam Syafi’i, Imam Ahmad) juga dari imam-imam yang lainnya, demikian pula tidak terdapat keterangan dari ahli kitab yang dapat dipakai pegangan, tidak pula dari Nabi, sahabat, tabi’ien, baik shahih maupun dlaif, serta tidak terdapat baik dalam kitab-kitab shahih, sunan-sunan ataupun musnad-musnad, serta tidak diketahui pula satupun dalam hadits-hadits dari zaman nabi dan sahabat.

” Menurut pendapat Mufty Makkah al-Musyarafah, Ahmad bin Zainy Dahlan yang dilansir dalam kitab I’anah at-Thalibien: “Tidak diragukan lagi bahwa mencegah masyarakat dari perbuatan bid’ah munkarah tersebut adalah mengandung arti menghidupkan sunnah dan mematikan bid’ah, sekaligus berarti menbuka banyak pintu kebaikan dan menutup banyak pintu keburukan”. (al-Sayyid al-Bakry Abu Bakr al-Dimyati, I’anah at-Thalibien juz II, hal 166)

Memang seolah-olah terdapat banyak unsur kebaikan dalam tahlilan itu, namun bila dikembalikan ke dalam hukum agama dimana Hadits ke-5 Arba’in an- Nawawiyah disebutkan: “Dari Ummul mukminin, Ummu ‘Abdillah, ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, ia berkata bahwa Rasulullah bersabda: “Barangsiapa yang mengada-adakan sesuatu dalam urusan agama kami ini yang bukan dari kami, maka dia tertolak”. (Bukhari no. 2697, Muslim no. 1718)

Ahli Sunnah wal Jama’ah adalah instrumen untuk menjaga kemurnian Islam ini meskipun sampai akhir zaman Allah tidak mengutus Rasul lagi. Dibalik larangan bid’ah terkandung hikmah yang sangat besar, membentengi perubahan- perubahan dalam agama akibat arus pemikiran dan adat istiadat dari luar Islam.

Bila pada umat-umat terdahulu telah menyeleweng agamanya, Allah mengutus Rasul baru, maka pada umat Muhammad ini Allah tidak akan mengutus Rasul lagi sampai kiamat, namun membangkitkan orang yang memperbarui agamanya seiring penyelewengan yang terjadi. Ibadah yang disunnahkan dibandingkan dengan yang diada-adakan hakikatnya sangat berbeda, bagaikan uang/ijazah asli dengan uang/ijazah palsu, meskipun keduanya tampak sejenis.

Yang membedakan 72 golongan ahli neraka dengan 1 golongan ahli surga adalah sunnah dan bid’ah. Umat ini tidak berpecahbelah sehebat perpecahan yang diakibatkan oleh bid’ah. Perpecahan umat akibat perjudian, pencurian, pornografi, dan kemaksiatan lain akan menjadi jelas siapa yang berada di pihak Islam dan sebaliknya.

Sedang perpecahan akibat bid’ah senantiasa lebih rumit, kedua belah pihak yang bertikai kelihatannya sama-sama alim.

Ibn Abbas r.a berkata: “Tidak akan datang suatu zaman kepada manusia, kecuali pada zaman itu semua orang mematikan sunnah dan menghidupkan bid’ah, hingga matilah sunnah dan hiduplah bid’ah. tidak akan ada orang yang berusaha mengamalkan sunnah dan mengingkari bid’ah, kecuali orang tersebut diberi kemudahan oleh Allah di dalam menghadapi segala kecaman manusia yang diakibatkan karena perbuatannya yang tidak sesuai dengan keinginan mereka serta karena ia berusaha melarang mereka melakukan apa yang sudah dibiasakan oleh mereka, dan barangsiapa yang melakukan hal tersebut, maka Allah akan membalasnya dengan berlipat kebaikan di alam Akhirat”.(al- Aqriman y hal 315 dalam al-Mawa’idz; Pangrodjong Nahdlatoel ‘Oelama Tasikmalaya, Th. 1933, No. 18, hal.286)

Sehingga disimpulkan oleh Majalah al-Mawa’idz bahwa mengadakan perjamuan di rumah keluarga mayit berarti telah melanggar tiga hal:

  1. Membebani keluarga mayit, walaupun tidak meminta untuk menyuguhkan makanan, namun apabila sudah menjadi kebiasaan, maka keluarga mayit akan menjadi malu apabila tidak menyuguhkan makanan. 
  2. Merepotkan keluarga mayit, sudah kehilangan anggota keluarga yang dicintai, ditambah pula bebannya. 
  3. Bertolak belakang dengan hadits. Menurut hadits, justeru kita (tetangga) yang harus mengirimkan makanan kepada keluarga mayit yang sedang berduka cita, bukan sebaliknya. (al-Mawa’idz; Pangrodjong Nahdlatoel ‘Oelama Tasikmalaya, hal 200)

Kemudian, berdasarkan keterangan Sayid Bakr di dalam kitab ‘Ianah, ternyata para ulama dari empat madzhab telah menyepakati bahwa kebiasaan keluarga mayit mengadakan perjamuan yang biasa disebut dengan istilah nyusur tanah, tiluna, tujuhna, dst merupakan perbuatan bid’ah yang tidak disukai agama (hal 285).

Melalui kutipan-kutipan tersebut, diketahuilah bahwa sebenarnya yang menghukumi bid’ah munkarah itu ternyata ulama-ulama Ahl as-Sunnah wa al- Jamaah, bukan hanya (majalah) Attobib, al-moemin, al-Mawa’idz. tidak tau siapa yang menghukumi sunat, apakah Ahl as-Sunnah wa al-Jamaah atau bukan (hal 286). Dan dapat dipahami dari dalil-dalil terdahulu, bahwa hukum dari menghidangkan makanan oleh keluarga mayit adalah bid’ah yang dimakruhkan dengan makruh tahrim (makruh yang identik dengan haram). Demikian dikarenakan hukum dari niyahah adalah haram, dan apa yang dihubungkan dengan haram, maka hukumnya adalah haram”. (al-Aqrimany hal 315 dalam al- Mawa’idz; Pangrodjong Nahdlatoel ‘Oelama Tasikmalaya, Th. 1933, No. 18, hal.286)

Kita tidaklah akan lepas dari kesalahan, termasuk kesalahan akibat ketidaktahuan, ketidaksengajaan, maupun ketidakmampuan. Namun jangan sampai kesalahan yang kita lakukan menjadi sebuah kebanggaan. Baik yang menghukumi haram maupun makruh, sebagaimana halnya rokok, tahlilan, dll selayaknya diusahakan untuk ditinggalkan, bukan dibela-bela dan dilestarikan.

BERIKUT INI ADALAH FATWA-FATWA DARI ULAMA 4 MADZHAB MENGENAI SELAMATAN KEMATIAN

I. MADZHAB HANAFI

HASYIYAH IBN ABIDIEN

Dimakruhkan hukumnya menghidangkan makanan oleh keluarga mayit, karena hidangan hanya pantas disajikan dalam momen bahagia, bukan dalam momen musibah, hukumnya buruk apabila hal tersebut dilaksanakan. Imam Ahmad dan Ibnu Majah meriwayatkan hadits dengan sanad yang shahih dari sahabat Jarir bin Abdullah, beliau berkata: “Kami (para sahabat) menganggap kegiatan berkumpul di rumah keluarga mayit, serta penghidangan makanan oleh mereka merupakan bagian dari niyahah”. Dan dalam kitab al-Bazaziyah dinyatakan bahwa makanan yang dihidangkan pada hari pertama, ketiga, serta seminggu setelah kematian makruh hukumnya. (Muhammad Amin, Hasyiyah Radd al- Muhtar ‘ala al-Dar al-Muhtar (Beirut: Dar al-Fikr, 1386) juz II, hal 240)

AL-THAHTHAWY

Hidangan dari keluarga mayit hukumnya makruh, dikatakan dalam kitab al- Bazaziyah bahwa hidangan makanan yang disajikan PADA HARI PERTAMA, KETIGA, SERTA SEMINGGU SETELAH KEMATIAN MAKRUH HUKUMNYa. (Ahmad bin Ismain al-Thahthawy, Hasyiyah ‘ala Muraqy al-Falah (Mesir: Maktabah al-Baby al-Halaby, 1318), juz I hal 409).

IBN ABDUL WAHID SIEWASY

Dimakruhkan hukumnya menghidangkan makanan oleh keluarga mayit, karena hidangan hanya pantas disajikan dalam momen bahagia, bukan dalam momen musibah. hukumnya bid’ah yang buruk apabila hal tersebut dilaksanakan. Imam Ahmad dan Ibnu Majah meriwayatkan sebuah hadits dengan sanad yang shahih dari sahabat Jarir bin Abdullah, beliau berkata: “Kami (para sahabat) menganggap kegiatan berkumpul di rumah keluarga mayit, serta penghidangan makanan oleh mereka merupakan bagian dari niyahah”. (Ibn Abdul Wahid Siewasy, Syarh Fath al-Qadir (Beirut: Dar al-Fikr) juz II, hal 142)

II.MADZHAB MALIKI

  • AL-DASUQY

Adapun berkumpul di dalam rumah keluarga mayit yang menghidangkan makanan hukumnya bid’ah yang dimakruhkan. (Muhammad al-Dasuqy, Hasyiyah al- Dasuqy ‘ala al-Syarh al-Kabir (Beirut: Dar al-Fikr) juz I, hal 419)

ABU ABDULLAH AL-MAGHRABY

Adapun penghidangan makanan oleh keluarga mayit dan berkumpulnya masyarakat dalam acara tersebut dimakruhkan oleh mayoritas ulama, bahkan mereka menganggap perbuatan tersebut sebagai bagian dari bid’ah, karena tidak didapatkannya keterangan naqly mengenai perbuatan tersebut, dan momen tersebut tidak pantas untuk dijadikan walimah (pesta)… adapun apabila keluarga mayit menyembelih binatang di rumahnya kemudian dibagikan kepada orang- orang fakir sebagai shadaqah untuk mayit diperbolehkan selama hal tersebut tidak menjadikannya riya, ingin terkenal, bangga, serta dengan syarat tidak boleh mengumpulkan masyarakat. (Abu Abdullah al-Maghraby, Mawahib al-Jalil li Syarh Mukhtashar Khalil (Beirut: Dar al-Fikr, 1398) juz II, hal 228)

III.MADZHAB SYAFI’I

AL-SYARBINY

Adapun penghidangan makanan oleh keluarga mayit dan berkumpulnya masyarakat dalam acara tersebut, hukumnya bid’ah yang tidak disunnahkan. (Muhammad al-Khathib al-Syarbiny, Mughny al-Muhtaj (Beirut: Dar al-Fikr) juz I, hal 386) Adapun kebiasaan keluarga mayit menghidangkan makanan dan berkumpulnya masyarakat dalam acara tersebut, hukumnya bid’ah yang tidak disunnahkan. (Muhammad al-Khathib al-Syarbiny, al-Iqna’ li al-Syarbiny (Beirut: Dar al-Fikr, 1415) juz I, hal 210)

AL-QALYUBY

Guru kita al-Ramly telah berkata: sesuai dengan apa yang dinyatakan di dalam kitab al-Raudl (an-Nawawy), sesuatu yang merupakan bagian dari perbuatan bid’ah munkarah yang tidak disukai mengerjakannya adalah yang biasa dilakukan oleh masyarakat berupa menghidangkan makanan untuk mengumpulkan tetangga, baik sebelum maupun sesudah hari kematian.(a l- Qalyuby, Hasyiyah al-Qalyuby (Indonesia: Maktabah Dar Ihya;’) juz I, hal 353)

AN-NAWAWY

Adapun penghidangan makanan oleh keluarga mayit berikut berkumpulnya masyarakat dalam acara tersebut tidak ada dalil naqlinya, dan hal tersebut merupakan perbuatan bid’ah yang tidak disunnahkan. (an-Nawawy, al-Majmu’ (Beirut: Dar al-Fikr, 1417) juz V, hal 186) IBN HAJAR AL-HAETAMY Dan sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan dari pada penghidangan makanan oleh keluarga mayit, dengan tujuan untuk mengundang masyarakat, hukumnya bid’ah munkarah yang dimakruhkan, berdasarkan keterangan yang shahih dari sahabat Jarir bin Abdullah. (Ibn Hajar al-Haetamy, Tuhfah al-Muhtaj (Beirut: Dar al-Fikr) juz I, hal 577)

  • AL-SAYYID AL-BAKRY ABU BAKR AL-DIMYATI

Dan sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan dari pada penghidangan makanan oleh keluarga mayit, dengan tujuan untuk mengundang masyarakat, hukumnya bid’ah yang dimakruhkan, seperti hukum mendatangi undangan tersebut, berdasarkan keterangan yang shahih dari sahabat Jarir bin Abdullah. (al-Sayyid al-Bakry Abu Bakr al-Dimyati, I’anah at-Thalibien (Beirut: Dar al-Fikr) juz II, hal 146)

AL-AQRIMANY

Adapun makanan yang dihidangkan oleh keluarga mayit pada hari ketiga, keempat, dan sebagainya, berikut berkumpulnya masyarakat dengan tujuan sebagai pendekatan diri serta persembahan kasih sayang kepada mayit, hukumnya bid’ah yang buruk dan merupakan bagian dari perbuatan jahiliyah yang tidak pernah muncul pada abad pertama Islam, serta bukan merupakan bagian dari pekerjaan yang mendapat pujian oleh para ulama. justeru para ulama berkata: tidak pantas bagi orang muslim mengikuti perbuatan-perbuatan yang biasa dilakukan oleh orang kafir. seharusnya setiap orang melarang keluarganya menghadiri acara-acara tersebut. ((al-Aqrimany hal 314 dalam al-Mawa’idz; Pangrodjong Nahdlatoel ‘Oelama Tasikmalaya, Th. 1933, No. 18, hal.285)

RAUDLAH AL-THALIBIEN

penghidangan makanan oleh keluarga mayit dan pengumpulan masyarakat terhadap acara tersebut, tidak ada dalil naqlinya, bahkan perbuatan tersebut hukumnya bid’ah yang tidak disunnahkan. (Raudlah al-Thalibien (Beirut: al- Maktab al-Islamy, 1405) juz II, hal 145)

 

  1. MADZHAB HAMBALI

IBN QUDAMAH AL-MUQADDASY

Adapun penghidangan makanan untuk orang-orang yang dilakukan oleh keluarga mayit, hukumnya makruh. karena dengan demikian berarti telah menambahkan musibah kepada keluarga mayit, serta menambah beban, sekaligus berarti telah menyerupai apa yang biasa dilakukan oleh orang-orang jahiliyah. dan diriwayatkan bahwa Jarir mengunjungi Umar, kemudian Umar berkata: “Apakah kalian suka berkumpul bersama keluarga mayat yang kemudian menghidangkan makanan?” Jawab Jarir: “Ya”. Berkata Umar: “Hal tersebut termasuk meratapi mayat”. Namun apabila hal tersebut dibutuhkan, maka diperbolehkan, seperti karena diantara pelayat terdapat orang-orang yang jauh tempatnya kemudian ikut menginap, sementara tidak memungkinkan mendapat makanan kecuali dari hidangan yang diberikan dari keluarga mayit. (Ibn Qudamah al-Muqaddasy, al-Mughny (Beirut: Dar al-Fikr, 1405) juz II, hal 214)

ABU ABDULLAH IBN MUFLAH AL-MUQADDASY

Sesungguhnya disunahkan mengirimkan makanan apabila tujuannya untuk (menyantuni) keluarga mayit, tetapi apabila makanan tersebut ditujukan bagi orang-orang yang sedang berkumpul di sana, maka hukumnya makruh, karena berarti telah membantu terhadap perbuatan makruh; demikian pula makruh hukumnya apabila makanan tersebut dihidangkan oleh keluarga mayit) kecuali apabila ada hajat, tambah sang guru [Ibn Qudamah] dan ulama lainnya).(A bu Abdullah ibn Muflah al-Muqaddasy, al-Furu’ wa Tashhih al-Furu’ (Beirut: Dar al-Kutab, 1418) juz II, hal 230-231)

ABU ISHAQ BIN MAFLAH AL-HANBALY

Menghidangkan makanan setelah proses penguburan merupakan bagian dari niyahah, menurut sebagian pendapat haram, kecuali apabila ada hajat, (tambahan dari al-Mughny). Sanad hadits tentang masalah tersebut tsiqat (terpercaya). (Abu Ishaq bin Maflah al-Hanbaly, al-Mabda’ fi Syarh al-Miqna’ (Beirut: al-Maktab al-Islamy, 1400) juz II, hal 283)

MANSHUR BIN IDRIS AL-BAHUTY

Dan dimakruhkan bagi keluarga mayit untuk menghidangkan makanan kepada para tamu, berdasarkan keterangan riwayat Imam Ahmad dari Shahabat Jarir. (Manshur bin Idris al-Bahuty, al-Raudl al-Marbi’ (Riyadl: Maktabah al-Riyadl al-Hadietsah, 1390) juz I, hal 355)

KASYF AL-QANA’

Menurut pendapat Imam Ahmad yang disitir oleh al-Marwadzi, perbuatan keluarga mayit yang menghidangkan makanan merupakan kebiasaan orang jahiliyah, dan beliau sangat mengingkarinya…dan dimakruhkan keluarga mayit menghidangkan makanan (bagi orang-orang yang sedang berkumpul di rumahnya kecuali apabila ada hajat, seperti karena di antara para tamu tersebut terdapat orang-orang yang tempat tinggalnya jauh, mereka menginap di tempat keluarga mayit, serta secara adat tidak memungkinkan kecuali orang tersebut diberi makan), demikian pula dimakruhkan mencicipi makanan tersebut. Apabila biaya hidangan makanan tersebut berasal dari peninggalan mayit, sedang di antara ahli warisnya terdapat orang (lemah) yang berada di bawah pengampuan, atau terdapat ahli waris yang tidak memberi izin, maka haram hukumnya melakukan penghidangan tersebut. (Kasyf al-Qina’ (Beirut: Dar al-Fikr, 1402) juz II, hal 149)

IBN TAIMIYAH

Adapun penghidangan makanan yang dilakukan keluarga mayit (dengan tujuan) mengundang manusia ke acara tersebut, maka sesungguhnya perbuatan tersebut bid’ah, berdasarkan perkataan Jarir bin Abdillah: “Kami (para sahabat) menganggap kegiatan berkumpul di rumah keluarga mayit, serta penghidangan makanan oleh mereka merupakan bagian dari niyahah”. (Ibn Taimiyah, Kutub wa Rasail wa Fatawa Ibn Taimiyah fi al-Fiqh (Maktabah Ibn Taimiyah) juz 24, hal 316)

About these ads

233 comments on “Tahlilan dalam Pandangan NU, Muhammadiyah, PERSIS , Al Irsyad, Wali Songo, Ulama Salaf dan 4 Mazhab

      • jangan saling mebid’ahkan seolah-olah anda hidup di jaman Rasulullah, mungkin perbuatan anda lebih banyak bid’ahnya karena mengurusi perbuatan yang bisa mengantar orang tuk berhubungan dgn allah dan sesama manusia, kalau anda mebid’ahkan tahlilan maka mungkin anda tidak mau di do’akan oleh sesama muslim. camkan itu

    • PARA KAUM MUSLIMIN, DISAAT ORANG LAIN SIBUK MENGISLAMKAN ORANG YANG BUKAN ISLAM, MENGAPA KITA SALING MENGKAFIRKAN ORANG YANG SESAMA MUSLIM ????

      • Siapa yang mengkafirkan orang lain ? Ucapan mana yang mengkafirkan orang ? Semoga kita tidak termasuk orang yang suka mengadu-domba.

      • Di sini bukan mengkafirkan mas, tetapi ndudohne hal yg sebenarnya, hanya orang orang yang sombonglah yang menolak kebenaran. tetapi kalo keyakinan sampeyan ga cocok ya silahkan. islam tanpa ada paksaan

      • bukan mengkafirkan sesama muslim, tapi “Amar ma’ruf nahi munkar” mengajak ke hal yg baik dan mencegah hal yang mungkar/buruk. dalam pandangan Islam menurut tuntunan Rasulullah SAW.

      • Bagaimana kita bisa membawa ummat lain kedalam Islam secara kaffah kalau kita sendiri masih menganut ajaran Islam yang sudah dicemari oleh bid’ah dari agama lain?

        Alangkah baiknya kalau kita bersihkan dulu agama yang mulia ini barulah kita bisa nyaman mengajarkannya kepada ummat lain.

      • Mana tulisan “mengkafirkan”? Anda terlalu su’udzon, cobalah dicermati, saya sendiri sesuai pengalaman saya, di desa saya sendiri, tradisi seperti itu memang sangat menyusahkan umat muslim dan bahkan dapat menyesatkan, mereka bela-belain utang sana-sini cuma buat biaya selamatan, tapi dengan mudah mereka seperti tanpa beban saat meninggalkan sholat dan puasa, sepertinya selamatan jauh lebih wajib dari pada rukun islam itu, itu terjadi pada tetangga saya yang jelas-jelas miskin, bahkan dia hanya bisa menyuguhkan nasi+krupuk saat acara selamatan selesai, setelah semua acara selamatan hari ke tujuh, dia terlilit hutang gara” menutupi biaya memberi makan pada jama’ah tahlil itu, apa itu ajaran islam? coba renungkan!

      • Kewajiban seorang muslim adalah saling mengingatkan, kami mengingatkan berdasarkan nas/dalil,,jika di antara kita tidak bisa menerima ujar kami, ga apa apa, karna allah ‘azza wa jal, memberi hidayah tdak ke setiap insannya..

      • JAWABAN FOTO COPYAN “MENGKAFIRKAN ORANG ” , biasa orang yang kebakaran jenggot begitu jawabannya

  1. Asalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh. Alhamdulillah dan Terimakasih juga kepada ikhwan penulis/admin smoga bermanfaat juga buat yang lain. Wasalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh

  2. “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia memuliakan tamunya, dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia menyambung hubungan silaturrahim, …” (Muttafaqun ‘alaih, al-Bukhari 10/336 dan Muslim no. 85.)

    Islam yang kita anut sekarang berkembang di Indonesia. Bukan di Arab atau negara timur tengah lainya.. Indonesia bukanlah negara Islam. Indonesia adalah negara Pancasila dan UUD 1945. berIslam, bukan berarti tidak bolah mengamalakan Pancasila dan UUD 1945.

    Tahlilan adalah budaya asli bangsa Indonesia, dan hanya ada di Indonesia. Pantas dan baik untuk dilestarikan. Tahlilan adalah manifestasi dari Pasal 28 UUD 1945 yg berbunyi :
    ” kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan dan sebagainya ditetapkan dengan undang-undang”

    Acara Tahlilan sama sekali tidak akan mempengaruhi aqidah, sama seperti budaya MUDIK LEBARAN, ini juga budaya asli Indonesia. Rosululloh tidak pernah mengajarkan untuk mudik lebaran. Tapi kita boleh dan sah2 saja mengamalkanya. Begitupun dengan acara Tahlilan.

    Tahlilan memupuk tali silaturrahmi. Tahlilan mengajarkan kita arti dan filosofi Pancasila.

    PANCASILA
    1. Ketuhanan yang maha esa.
    : ini adalah isi dari makna dari kalimat Laa ilaha Ilallah. Tiada Tuhan selain Allah. dalam Tahlilan kalimat inilah yang paling banyak dibaca dan diucapkan oleh jamaah Tahlilan.

    2. Kemanusiaan yang adil dan beradab
    : Para peserta Tahlilan bisa dipastikan berADAB. Pakaian yg dikenakan juga sopan dan beradab. Sifat dan tingkah lakunya pun santun dan beradab. Saling bertemu bersalaman dan senyuman. Tidak ada dalam acara tahlilan bertengkar ataupun baku hantam. Semua dalam situasi yang aman, damai dan tentram.

    3. Persatuaan Indonesia
    : Para peserta tahlilan sudah bisa dipastikan bersatu. Ukhuwah Islamiyahnya tampil. Tidak bercerai berai. Saling sambung silaturrahmi. Duduknya pun berdekatan dan sama rendah, bagaimanapun dan apapun strata sosialnya. Baik miskin atau kaya, pejabat atau rakyat, sipil maupun militer, semua sama. saling bersatu dalam kesatuan.

    4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan
    : dalam acara Tahlilan pasti ada seorang pemimpin Tahlilan. Pemimpinya mempunyai sifat hikmah ( manfaat ) bagi sesamanya ( Tokoh Masyarakat setempat ) setempat, biasanya dipimpin leh Kiyai atau ustadz.. Dalam Tahlilanpun adalah perwakilan. Biasanya yang diundang satu rumah hanya diwakili satu orang, tidak seluruh keluarga diajak semua.

    5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia
    : Ini sangat pas bila diartikan dalam acara tahlilan. Dalam acara Tahlilan diberlakukan sifat keadilan bagi seluruh rakyat Tahlilan. misalnya jatah makan sama, minumpun sama. Yang kaya dapat satu porsi, yang miskinpun satu porsi. Inilah keadilan. Setelah acara Tahlilan selesaipun masih mendapatkan bekal/ makanan untuk keluarga yang ada dirumah. sekali lagi porsinya sama. inilah Keadilan sosial.

    Sekali lagi, Tahlilan atau istilah Tahlilan adalah budaya asli bangsa Indonesia. Budaya yang baik harus tetap dilestarikan. Jangan lagi ada klaim oleh bangsa lain.Dizaman sekarang ini, khususnya dikota2 besar yang mayoritas penduduknya super sibuk dan individual, maka dengan mengamalkan budaya Tahlilan diharapkan ada sedikit rasa kebersatuan ukhuwah Islamiyyah. Satu agama, satu negara, satu Indonesia.

    • maaf ya bung agus widodo, saya tidak mengajari bebek berenang, tpi hanya mengingatkan, sebaiknya mempelajari manhaj Islam dulu baru katakan sesuatu,agar memahamkan ayat itu sesuai porsinya sehingga mampu membedakan haq dan bathil dalam syar`i, dan memahamkan Pancasila yang juga hasil karya pejuang muslim itu seperti pendahulu itu fikirkan. jadi pahami Pancasila, pahami manhaj Islam, pasti akan ketemu kebenarannya, apabila sesuatu dibicarakan dengan ilmu, hingga kita tau yang mana berhubungan, ibadah, muamalah, dsb/. sekali lagi maaf ya akhi. artikel diatas berdasarkan pendapat para ulama sesuai syar`i,.

      • Insya Allah ketika kita tujuannya mencari kebenaran kita tidak akan menolak kebenaran itu meskipun kebenaran itu datangnya terkadang harus bertentangan dengan adat, budaya dan kebiasaan kita atau kepercayaan yang sdh melekat pada kita. Baik belum tentu benar, benar sudah tentu baik, yang benar datangnya hanya dari Allah dan Rasul-Nya. Syariat Islam itu sudah sempurna, tidak mesti ditambah, dikurangi atau di rekayasa. Bila berlainan pendapat kita kembali kepada Allah dan Rasul-Nya, Rasul tidak pernah tahlilan meskipun sahabat2nya banyak yang meninggal dunia, begitupun Khulafaur Rasyidin tidak pernah tahlilan ketika Rasul meninggal dunia, padahal beliau2 sangat mencintai Rasul. Tahlilan adalah Budaya Hindu, Tahlilan bisa dikategorikan Tasabuh.

      • birin aja yang mau tahlilan silahkan yang gax juga silahkan,,,, diterima atau tidaknya ibadah kita hanya Allah SWT yang tau,,,,

    • Subhanalloh….!!! kbtulan turun temurun saya dibiasakan dengan tradisi tahlilan, namun ada perdebatan besar didalam hati, kenapa tradisi ini seperti bagian dari islam, tetangga saya termasuk abang saya yang ekonominya pas-pasan keluarganya yang berduka harus memaksakan untuk berhutang agar bisa tahlilan,fidiyah serta pengajian…padahal sangat nyata perintah Rasulullah SAW, untuk bertakziah,menghibur yang berduka,dan mengirimi makanan bagi yang berduka bukan malah sebaliknya….ironis sekali para yatim dan janda yang ditinggalkan harus terbebani hutang apalagi yang meninggalkan pastinya lebih tidak tenang, sungguh islam itu mudah dan tidak untuk menyulitkan, semoga Allah mengkaruniakan hidayah bagi kita semua dengan mengimani yang hak itu adalah hak dan yang batil itu selamanya Batil….

      • COBA TAHLILAN TANPA HIDANGAN MAKANAN, MASIHKAH ADA YG MAU DATANG, SAYA MINTA JUJUR JAWABNYA

    • Terimakasih sahabat atas komennya saya juga bukan admin tapi ingin menanggapi komen yang disampaikan, bahwa agama itu tidak bisa di campur begitu saja dengan adat, jadi Islam sudah baku, dinegerimana saja Islam ya seperti itu dasarnya adalah Al Qu’an dan Al Hadis, semua sudah kompli, dan tidak boleh ditambah tambah, kalo, hukum islam dirubah dan di campur dengan adat akan terjadi perubahan yang sangat jaug,
      Dalam Al Qu’an disebutkan masuklah kedalam Agama Islam secara keseluruhan, jadi tidak setengah setengah,dan yang mengamnggap tahlilan itu bidah justru para Imam2 terutama Imam 4 dan murid muridnya, semoga kita tidak salah faham dalam hal ini

    • Wallohu’alam bagi penulis mohon dibaca An Nisa ayat 148, An Nahl ayat 125-128 supaya dalam menyampaikan tidak tergoda oleh hawa nafsu karena bukan kita yang dapat merubah seseorang atau seseorang mendapat petunjuk itu hanyalah hak Alloh SWT semata (kita hanya menyampaikan saja). Dan untuk Agus Widodo Mohon dibaca sebagai pandangan yaitu Surat At Taubah ayat 84 dan ayat 107-110 dan ayat 114-115 supaya dalam menyampaikan pendapat berdasar sehingga ibadah kita tidak sia-sia (tidak seperti kebiasaan orang2 kafir yang mengutamakan kata nenek moyang atau istilah budaya). Dan Mudah2an ini semua menjadikan Hikmah dalam menjalani kehidupan. Aamiin

    • budaya bangsa memang perlu dilestarikan,tetapi jika ajaran agama dimasukkan dalam kebudayaan tidak perlu dilestarikan.

      • kerjasama dengan yang sepakat
        saling menghargai dengan apa yang tidak sepakat,

        semua tergantung niat,,,

    • budaya ya budaya bos, tapi jangan dicampuradukkan dengan syariat agama.

    • maaf ya mas mbak, saya ikut sumbang pendapat. dalam islam itu harusnya bisa membedakan apabila kita dalam urusan beribadah carilah tuntunannya, sedangkan urusan duniawi carilah larangannya. sekian dari saya. semoga dimengerti.

    • inilah pandangan yg dangkal tntng agama, tahlilan dibilang hal yg baik, klu itu melanggar larangan agma atau perkara baru hukmnya bid,ah… “ Dan Barangsiapa menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-oraang mukmin, kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatanyang telah di kuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam jahanam , dan jahanam itu seburuk tempat kembali.” (An-Nisa’ : 115).

    • ya bikin Islam versi indonesia sendiri mas?? dan angkat nabi sendiri dengan UUD 45 mas??Syariat Islam koq disamakan sama UUD dan Pancasila,gak level mas??gitu saja koq repot???

    • nggih pak guru, bloon. cerita cara membuat bakso kok cara membuat sapi biar gemuk….. BINGUNG AKU

  3. Assalamu’alaikum wr. wb.
    Maaaaas mas!!! Mbok yo sing jujur to kalau mengutip atau menukil sebuah kitab itu!

    • mas syamsuddin, jika kutipan kitab itu salah tolong donk tunjukkan kesalahannya, dan tolong juga tunjukkan kebenarrannya yang mana sesuai kitab yang di kutip akhi kita ini, karena saya n mungkin juga pembaca lain pengen tau juga mana yang benar dan mana yang salah dari pembahasan di nukillkan dari kitab2 diatas. agar bermanfaat buat semua

    • hhahaahahha…iya bener setuju mas syam…kalo nukil jangan setengah setengah (y)

      • Jangan Merasa Paling Benar Mas!!! Jangan mudah membid’ah mas!!! apakah Nabi Muhammad SAW menganjurkan mas untuk menbuat blog, bepergian menggunakan unta bkn dgn kendaraan bermotor!!! Bukannya Bid’ah ada beberapa golongan y? Jangan2 Mas ini gak pernah membaca Al Quran y? bukannya di zaman Nabi Muhammad SAW Kitab Suci Al Quran tidak di bukukan? Berarti Umat Islam zaman sekarang pd mengerjakan Bid’ah dong Mas??? Sekali lg Jangan Merasa Paling BENAR mas!!!!

      • saya tidak pernah merasa paling benar atau dengan mudah membid’ahkan sesuatu., tulisan di atas adalah pendapat para ulama.,

        Nabi tidak pernah menyuruh membuat blog atau menggunakan kendaraan bermotor, lalu apakah itu perkara bid’ah? jawabnya YA..itu adalah Bid’ah..Namun Bid’ah secara etimologi (bahasa) bukan Bid’ah dalam pengertian syar’i.
        ada baiknya Anda membaca tulisan mengenai Pengertian Bid’ah, agar anda faham tentang apa itu bid’ah.
        Begitu juga dengan pembukuan Al-Qur’an yang tidak dilakukan di zaman Nabi, namun mulai dilakukan di zaman Khalifah Abu Bakar ra bukanlah perkara bid’ah tetapi masuk dalam kategori Maslahah Mursalah.

      • @Muhibbul Islam LOL~ sepertinya anda yang harus membaca apa pengertian dan definisi bid’ah.

        bid’ah yang dimaksud disini inovasi dalam beragama. bukan inovasi dalam teknologi.

      • @muhibbul islam:
        maaf saya salah baca ternyata. rada ngantuk soalnya.
        hal itu benar. sekali lagi maaf…

      • bismillahirrohmannirrohim assalamu’alaikum wa rohmatullohi wa barokatuh :sebelumnya saya pribadi mohon maaf lahir & bathin semoga tidak ada yang tersinggung dengan comentnya saya; kebenaran sejati hanya milik ALLOH kita manusia yang dhoif tidak ada daya upaya serta kekuatan tuk menentukan kebenaran sejati kalau ada kata2 “aku tidak takut yang diungkap adalah kebenaran” jatuhnya jumawa alias sombong karena ada kata “Wa Allahu ‘Alam bi As Shawab” jangan cuma menghafal tapi mengkaji mengupas biar masuk dlm hati supaya bisa menuntun dalam laku maupun lisan

      • bismillahirrohmannirrohim assalamu’alaikum wa rohmatullohi wa barokatuh sebelumnya saya mohon maaf lahir dan bathinkebenaran sejati mutlak milik ALLOH kita manusia yang tidak punya daya upaya serta kekuatan tuk menentukan kebenaran sejati,ketika saya membaca “kenapa harus takut yang diungkap adalah kebenaran”kayanya jumawa sekali atau sombong padahal ada kata “waallahu alam bissawab”jangan cuma dihafal tapi dikaji dikupas biar meresap kedalam hati agar bisa menuntun laku dan lisan kita, mas tolong jangan dihapus coment saya

      • anda tahu hadits masalah ilmu yang bermanfaat, shodaqoh jariyah dan do’a anak itu yang dibawa mati, jadi tahlilan (do’a,Shodaqoh, ilmu baca quran)

  4. tahlil itu adala zikir masa zikir di tentang
    dan penyuguhan bagi orang talil itu di samakan dengan menyuguhkan tamu
    kata saya orang tahlil ga bisa di jadikan bid’ah dan yng tahlil pun tak semata buatan orang bodoh yng tidak memperhitungkan sebab dan akibat

    • Berdzikir memang baik, bahkan dianjurkan. Namun mengkhususkannya pada saat-saat tertentu membutuhkan dalil syar’i sebagai landasan hukumnya.
      Jika memang hal itu baik lalu mengapa Rasulullah, para sahabat dan generasi salafush shalih tidak melakukannya?

      • Muhibbul islam: karena di tanah arab gak ada agama hindu budha mas,,,

        tahlilan adl metode dkwah yg digunakan para wali jaman dulu, krna jaman dulu msyrakat kita beragama hindhu budha,, mknya digunakan pndekatan secara sosio budaya,

      • untuk saudara Muhibbul Islam, saya ingin memberi masukan, bagaimana jika anda melakukan safari kajian di beberapa pondok pesantren (jangan lupa kumpulkan kitab2 yang relevan dan linier dengan apa yang anda ragukan), misal kitab Nihayah al-Zain, Al-Hawi li Al-Fatawi, Al Rasa’i Al Salafiyah dll. karena saya baca secara keseluruhan dasar2 yang anda tuangkan “maaf” hanya sebagian terkecil dari dasar hukum penguat amalan2 tersebut. dengan bimbingan ulama2 yag BENAR-BENAR kompeten dibidangnya. dengan begitu anda akan mengetahui apa dasar hukum ulama aswaja untuk menjalankan ibadah yang dianggap sesat ini. itu akan lebih obyektif daripada hanya berdiskusi dengan ulama2 yang satu aliran dengan anda dan menuangkan pendapat di blog . karena langkah itu pula (safari ke beberapa ponpes) yang saya pribadi lakukan ketika pertanyaan2 seperti yang anda tuangkan datang ketika saya masih “nyantri” dulu… permasalahan ini benar2 sama dengan yang saya cari ketika itu, dan alhamdulillah saya telah mendapat jawaban yang bisa meyakinkan saya hingga detik ini. ^_^

      • maaf @akhi khakue, akhi kita ini tidak menentang zikir, caranya yang menjadi permasalahan. @ akhi muhibbull, sukron, artikel akhi menarik, semoga yang membaca berusaha membuka hati yang dingin dan fikiran yang teduh, agar kita bisa kembali pada manhaj shalifusshalih, mari kita jelaskan bagaimana syari`, itu, jika ada yang menolak bukan karena menghujat, mungkin belum memahami syar` secara konfrehensif, termasuk kaidah2 ilmu yang luas dalam Islam, termasuk perbedaan ibadah dan masailul mursalah. jika sesuatu difahami dengan ilmu Allah yang berikannya pada manusia yang hanya ibarat buih dilautan itu sajapun kita ikuti, maka hidup ini akan sangat indah dengan hati yang damai. zazakallahu khairan

      • kalo mau membandingkan iya tengok kanan kiri dulu, jangan langsung ng-judge!!.,.
        tinggalkan kebiasaan2 jahiliyah,.
        misal orang yang meninggal itu orang yang tidak mampu, apa anda tega memakan hidangannya??
        berturut2 selama 40 hari… atau berikutnya??

  5. Alhamduillah.. jangan pernah takut akhi menyampaikan kebenaran. antara yang hak dan bhatil gak akan pernah mungkin bisa beriringan seperti yang ALLAH jelaskan dalam 2:42
    Surga ini milik ALLAH kalo mau masuk surgaNYa ya harus ngikutin aturan-aturan ALLAH toh, gimana ceritanya kita mau masuk surgaNYA tapi aturan yang kita pakai bukan dari Syariat…

    @Agus Widodo: “Islam yang kita anut sekarang berkembang di Indonesia. Bukan di Arab atau negara timur tengah lainya”.
    Tolong dijawab, emang rukun Iman dan Rukun Islam di indonesia berbeda yaa dengan negara arab dan timur tengah lainya yaa ???…..

    • ibu ida yth dan muhibbul islam gini saja kalo anda mengatakan tahlilan itu bid’ah dan do’a2 dalam tahlilan itu tdk bisa sampai pada org yg telah meninggal buktikan saja dengan anda berdua mati duluan. klo anda berdua tdk berani berarti anda itu orang yng pengecut yg hanya bisa mencela dan mengkafirkan perbuatan sodara kita yg sesama muslim padahal perbuatan itu tdk pernah di lakukan oleh rosululloh saw.

    • @fath,,, anda risau dengan kesatuan umat islam indonesia,,, ???? saya ingin tanya kpda anda” apa hukumnya silaturahmi? dan apa hukumnya bersatu qta teguh bercerai qta berantakan? apa hukumnya kesatuan ? apa hukumnya musyawarah? ?
      kenapa gk di solatin aja sekalian !!!!
      anda ahli tafsir ya???? apa anda ahli hadits????

      anda ingin qta tidak saling peduli sesama muslim?
      anda ingin jika anda menderita tak ada seorang pun yang peduli pada anda?
      apa artinya kesatuan jika qta tak peduli pada seksama?
      tahlilan itu adalah tanda kesatuan!
      tahlilan itu mengingatkan qta pada kematian yang akan datang !
      tahlilan itu adalah mendoakan orang yang meninggal dunia tanda masyarakat itu peduli terhadaap sesamanya dan untuk menghibur orang yang berduka bukan untuk menyembahnya !!!
      apa jadinya jika qta hidup inividual tanpa ada kebersamaan? ? ? berusaha untuk melakukan kebaikan itu hukumnya wajib!
      kuatkan AQIDAH kuatkan KESATUAN NAHDIYYIN DAN JATMAN !!!!!

  6. Ass wr wb, ijin untuk sharing….saya bukan orang yang mengerti benar soal hukum Islam, tapi mencoba belajar…mengenai tahlilan pada awalnya saya pikir juga wajar aja kenapa harus ditentang? Tapi, memang setelah saya mengerti ternyata soal yang bid’ah ini sangat tipis sekali sehingga dikhawatirkan kita tergelincir akan apa yang telah diajarkan oleh Rasulullah…..Kebudayaan acara tahlilan masyarakat kita ini condong ke hal yang kadang berlebih atau boros, dan kekhawatiran sosial… Mungkin saya lebih sependapat kalau sodaqoh untuk si mayit dengan cara sosial lain seperti menyantuni anak yatim dengan bea siswa contohnya atau ikut menyumbang mesjid….dst. Saya sering datang ke tempat tahlilan pada masyarakat yang mampu, dipasanglah tenda yang bagus, makanan prasmanan seperti pesta, acara pengajiannya juga diisi ceramah…tamu yang datang dengan pakaian terbaik (baju muslim), yang ikut mengaji juga ada anak-anak yatim, tapi para tamu sebagian asyik mengobrol tidak ikut mengaji. Saya hanya bingung, kenapa harus dibuat seperti ini? Padahal Allah swt tidak menyukai hal yang boros? kalau dipikir seperti memperlihatkan status (ma’af memang tidak semua seperti ini, tp ini penilaian sy pribadi yang minim pengertian soal hukum Islam sedang belajar…mhn dima’afkan).

  7. assalamuaikum, saya jadi binggung yang benar yang mana? bukannya kalo banyak orang yang datang memberi semangat dan motifasi? dan biasanya yang datang ke tahlilan itu membawa makanan atau uang kepada keluarga mayit. itu fakta loh dilapangan seperti itu. bagaimana pendapat anda yang nulis artikel ini?

    • MASAK BOS,,UH PAS TAHLILAN 7 HARI KENAPA ABIS TAHLILAN KOK NUNGGUIN JAJANNYA, HAYO JUJUR..KASIANLAH ORANG KENA MUSIBAH MALAH SURUH MENJAMU BANYAK ORANG, APAKAH SODAKOH HARUS WAKTU ITU? APAKAH GA BISA DI HARI LAIN? BAYANGKAN SEBELUM MENINGGAL KELUARGA KORBAN HABIS HARTA BANYAK BUAT NGOBATIN SI SAKIT YANG SUDAH MENINGGAL, TRUS APA SEMUA ORANG JAWA ITU KAYA????? APAKAH ISLAM SERUMIT INI???? PAKAI HATI NURANI, JANGAN PAKAI NAFSU…INGET TIDAK SEMUA ORANG JAWA KAYA…

  8. kita ikuti islam yang praktis,hemat,dan aman(sesuai al quran dan hadis)?

  9. Begini mas, saya mencoba memilah-milah mas… Bid’ah itu memang perkara baru… bacaan yang ada di dalam tahlilan bukan perkara baru bahkan, mas juga tahu hadits-hadits yang mendorong untuk berdzikir dan membaca sebagian ayat-ayat Alquran yang memang memiliki keutamaan. Tunggu dulu jangan berfirasat buruk dulu, oke, saya setuju kalau tahlilan dikhususkan hanya saat setelah orang meninggal, itu adalah perkara baru. Dan sebenarnya dikalangan NU stau saya itu bukan sebuah kewajiban. Bidah itu bukan hukum. sama setujunya jika perkara baru itu datang saat salah satu sahabat membaca Robbana Walakalhamdu Hamdan Katsiron Mubarokan Fiih-semua tahu hadits ini, ini juga perkara yang baru namun Rosululloh memuji orang yang membacanya dimana Rosululloh tidak pernah memerintahkan sebelumnya. namun benar kata mas Agus Widodo, sebagai generasi pelestari, boleh di lestarikan tahlilan selama tidak dianggap wajib,

    Jadi, ini saran saja (dipakai or tidak monggo) he, untuk menulis sesuatu agar tidak menimbulkan salah faham judul dan isinya semestinya kongruen, dan seimbang. saya melihat mungkin yang tepat judul artikel mas muhibulislam ini “Tahlilan adalah bid’ah dholalah, jadi Tinggalkan lah”. Karena isinya mencoba mengesampingkan pandangan ulama’ lain. jangan salah bahwa, Tahlilan dibolehkan bahkan di sunnahkan, itu juga pendapat ulama’. So, hati-hati, agar persatuan or ukuwah islamiyah diIndonesia tetap terjaga, cz saya sudah melihat Semakin berpecah antara umat islam di Indonesia ini, smakin tidak menghargai pendapat yang lain.

    So,agar pembaca dapat memilah mana yang benar mana yang sekiranya perlu dibuang agar tidak “menyakiti” hati orang-orang yang mungkin awam dengannya.

  10. Saya sangat sedih dengan kondisi umat Islam hari ini, dengan jumlah yang banyak tapi tidak berdaya, selalu dipropaganda oleh agama lain, dan selalu pihak Islam yang menjadi korban, menurut hemat saya kelemahan itu disebabkan oleh umat Islam sendiri, karena umat Islam lebih senang membahas perbedaan dalam interen islam sendiri, daripada berpikir bagaimana umat Islam ini bisa bersatu, mau tahilan, mau zikir bersama, selama tidak ada larangan dalam Al-qur’an kenapa harus dihujat, Saya sangat sedih dengan kondisi ini, Wahai umat Islam berpikirlah secara produktif, tidak ada gunanya membicarakan hal-hal yang merusak hubungan silaturahhim kita sesama Muslim, Kalau Islam mau disegani oleh umat2 lain maka jauhilah hal-hal dapat memecah belah umat… Terima Kasih, Saya : Hanson Islam,S.Pd ( Mahasiswa Pasca Sarjana Bung Hatta University Padang, Prodi : Pengelolaan Perairan Pesisir Dan Kelautan )

    • sebuah penyampaian mengapa bisa di katakan hujatan.sebetulnya alqur an dan assunnah dah jelas.ingat jauhilah bid ah.

      • berarti shalat tarawih berjama’ah harus dijauhi dong,,,,!!!!

        Maaf,,,,!! dalam dalilnya jelas disebutkan bhw itu juga Bid’ah,,,,,

  11. orang yang sudah meninggal terputus hubungannya dengan segala bentuk duniawi kecuali 3 perkara, 1. doa anak yang sholeh, 2. amalannya 3. harta yang di wakafkan…itu yang saya tahu, mohon dikoreksi kalau salah.

  12. Kerjakan Yang Di Kerjakan Nabi Dan Ikuti Jalan Yang LuruS ALQURAN Pasti SELAMAT

  13. Kok ada yang paling merasa PANCASILA ya…itu cara argumen saja…agar ada pembenaran.

    • dari mana anda tau ajaran islam?
      dari mana anda tau shalat itu wajib?
      apa anda tidak menghargai kepada para ulama2 yang mengarkannya sebelum anda?
      apa anda ahli tafsir?
      atau mungkin anda ahli hadist?????

  14. klo tahlilan itu baik, kenapa rasullullah tidak melaksanakannya. bagi orang yang setuju dengan adanya tahlilan, maka orang tersebut tidak mengerti ajaran2 dalam al qur’an dan al hadist. maka dari itu, belajarlah dari ahli agama, bukan dari ahli budaya. karena budaya banyak yang menyesatkan dan tidak sesuai dengan syar’i

    • rupanya anda lebih tahu ttng agama, sehingga mengganggap yang tahlil nggak tahu agama, anda lebih pandai dari para kyai pesantren??????

  15. Ibnu Taimiyah menegaskan bahwa barangsiapa mengingkari sampainya amalan orang hidup pada orang yang meninggal maka ia termasuk ahli bid’ah. Dalam Majmu’ fatawa jilid 24 halaman 306 ia menyatakan, “Para imam telah sepakat bahwa mayit bisa mendapat manfaat dari hadiah orang lain. Ini termasuk hal yang pasti diketahui dalam agama Islam, dan telah ditunjukkan dengan dalil kitab, sunnah, dan ijma’ (konsensus) ulama’. Barang siapa menentang hal tersebut, maka dia termasuk ahli bid’ah”.

  16. Dalam lingkungan nahdliyin perbedaan pendapat dalam masalah furu’ adalah hal yang biasa, bukan sarana berpecah belah. Termasuk diantaranya adalah seandainya memang benar-benar adanya berbeda pendapat dalam hal tahlilan. Telah diketahui sejak dahulu hingga masa kini bahwa tahlilan telah mendarah daging dalam lingkungan NU, artinya tidak ada pertentangan dalam hal tahlilan. Mereka telah mempraktekkannya mulai dari kalangan ‘Ulama, santri hingga masyarakat nahdliyin. Maka, jadilah ini sebagai “ijma’ Nahdlatul ‘Ulama”.

    Namun, bagaimana dengan kitab, tulisan –tulisan yang berisi kemakruhan jamuan makan- dan ini banyak beredar di dunia maya (internet) yang disebarkan oleh pengingkar tahlilan. Dalam menyikapi hal ini adalah :

    Kalangan nahdliyin sejak dahulu telah mempraktekkan tahlilan maka praktek inilah yang dijadikan dasar bahwa nahdliyin menyetujui tahlilan (“maka jadilah ini semacam ijma’ nu). Jadi siapa nahdliyin yang tidak setuju tahlilan ? jawabnya tidak ada, kecuali mereka yang memang inkar.
    Kebanyakan yang dimakruhkan adalah terkait jamuan tertentu dengan alasan-alasan tertentu, namun tidak mutlak, dan bukan keseluruhan tahlilan,. Maka, itu tidak bisa dijadikan dalil untuk menolak tahlilan secara keseluruhan.

    Pernyataan (kesimpulan) dari para pengingkar tahlilan yang berdalih dengan sebagian tulisan-tulisan nahdliyin, tidak bisa di jadikan landasan sama sekali sebab nadliyin sejak dahulu sudah mempraktekkan tahlilan berdasarkan kitab-kitab yang menjadi tuntunan mereka, oleh karenanya itu bertentangan dengan praktek dan pernyataan ulama-ulama nadhliyin lainnya.

    “KH. Sahal Mahfud, ulama asal Kajen, Pati, Jawa Tengah, yang kini menjabat Rais Aam PBNU, berpendapat bahwa acara tahlilan yang sudah mentradisi hendaknya terus dilestarikan sebagai salah satu budaya yang bernilai islami dalam rangka melaksanakan ibadah sosial sekaligus meningkatkan dzikir kepada Allah.”

    Maka, yang dimungkinkan adalah para pengingkar itu –yang pada dasarnya memang membenci tahlilan- sebenarnya telah keliru menyimpulkan tulisan-tulisan dari kalangan nahdliyin baik hasil muktamar hingga buku-buku mereka.

  17. @Agus widodo : maaf sebelumnya anda agamanya islam/ agama PANCASILA ? kalo islam,,,ya ikuti aturan islam yg syar’i…

    • ndak usah merasa yng paling benar,itu masalah keyakinan,silahkan berjalan sesuai dg keyakinannya,dg tetap mengedapankan rukun islam dan rukun iman,ingat yang paling benar itu ALLAH,Bila ada dari ummatnya merasa yang paling benar berrti mereka itu kafir/setan yang tempat kekalnya di neraka jahanam

  18. klassssikkkk………………… harusnya kalian semua saling menghargai pendapat orang lain, selalu saja saling mencela dan menganggap yang tak sependapat adalah salah, merasa paling benar (meski ta mau ngaku…hehehe)……….beradu argumen dengan hati yang panas bukannya dengan perasaaan saling cinta, mungkin akan indah rasanya bila dalam perbedaan itu kita saling mengemukakan pendapat tanpa mencela atau merendahkan yang lainnya, sehingga yang ada adalah bertukar pikiran bukannya terus2an selama berabad-abad mempertengkarkan perkara yang memang bagian dari khilafiyah atau ikhtilaf…………subhanallaah….. semoga kalian semua istiqamah dan mendapat husnul khatimah………smoga senantiasa dirahmati dan diberi petunjuk yang terang oleh Allah SWT……………….aamiiiin…………….

    • maksudnya apa…ga ngerti !!!apakah anda cuma jadi penonton….terus merasa sikap anda paling benar!!!coba beri pendapat kalau memang anda hebat.Budi…!!!ingat membiarkan kejahatan berarti terlibat dalam kejahatan itu

  19. saya pribadi tidak akan menyerang balik untuk menunjukkan dalil penguat, akan tetapi jika anda2 berminat untuk membahasnya lebih dalam silahkan datang ke ulama2 kami yang jauh lebih tau (bagi kami) , saya pribadi yakin pastilah ada di setiap wilayah anda. atau jika ingin jauh lebih jelas lagi silahkan datang di PONDOK PESANTREN TEBUIRENG JOMBANG. dialog seperti ini justru akan mengarahkan kepada sikap saling offence… bagi kami, ulama kami tidak pernah mengajarkan kami untuk saling menyerang kepada saudara kami sendiri. hanya pesan inilah yang senantiasa melangkahi ibadah2 kami yang sering kali kalian anggap sebagai ibadah yang sesat.

    dikutip dari KH. HASYIM ASY’ARI

    Di antara kamu sekalian banyak orang menjadi kafir, bahkan sudah memenuhi berbagai negeri ini, maka siapakah yang akan mengajak berdialog mereka, sarasehan dengan mereka dan siapakah yang memberi petunjuk kepada orang-orang tersebut????

    Wahai para ulama!

    Untuk urusan seperti ini (membela Al-Quran dan menolak orang yang menodai agama), maka bersungguh-sungguhlah kalian dan silakan kalian berfanatik. Adapun fanatik kalian untuk urusan-urusan agama yang bersifat far’iyyah dan mengarahkan manusia ke madzhab tertentu atau pendapat tertentu, maka itu adalah suatu hal yang tidak akan diterima Allah swt. dan tidak disenangi Rasulullah saw.

    Apabila di antara saudara ada yang mengharuskan yang demikian itu, maka tidak lebih dari hanya karena rasa memihak, berebut pengaruh dan karena rasa dengki semata.

    Seumpanya saja Imam Syafi’I, Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Ahmad, Ibnu Hajar dan Imam Ramly masih hidup (di tengah-tengah kita), sungguh, semua mereka tidak akan senang dan sama sekali mengakui perjuangan saudara dan tidak mau bertanggung jawab atas apa yang telah kalian perbuat.

    Kalian mengingkari sesuatu yang masih dikhilafi para ulama, sementara kalian melihat banyak orang yang tak terhitung jumlahnya, meninggalkan shalat yang hukumannya, menurut Imam Syafi’I, Imam Malik dan Imam Ahmad, adalah potong leher. Dan kalian tidak mengingkarinya sedikitpun. Engkau tentunya tidak menginkari telah melihat diantara banyak tetangga kalian tidak ada melaksanakan shalat, tapi kalian diam seribu bahasa dan tidak menegurnya.

    Selanjutnya apakah perlunya dan gunanya engkau berselisih pada soal kecil dan urusan far’iyyah yang dalam masalah tersebut para ahli fiqih juga berselisih. Sementara pada saat yang sama kalian tidak pernah mengingkari sesuatu yang nyata-nyata diharamkan agama seperti zina, riba, minum khamar dll…

    Sama sekali tidak pernah terbersit dalam benak kalian untuk terpanggil mengurusi hal-hal yang diharamkan Allah swt. kalian hanya terpanggil oleh rasa fanatisme kalian kepada Imam Syafi’I dan Imam Ibnu Hajar. Hal itu akan menyebabkan tercerai-berainya persatuan kalian, terputusnya hubungan keluarga kalian, terkalahkannya kalian oleh orang-orang yang bodoh, jatuhnya wibawa kalian di mata masyarakat umum dan harga diri kalian akan jadi bahan omongan orang-orang bodoh.

    Akhirnya dengan demikian engkau menambah rusaknya orang-orang yang bodoh tadi karena ucapan-ucapan mereka. Itu semua terjadi karena daging kalian telah teracuni dan kalian telah merusak diri kalian dengan dosa-dosa besar yang kalian perbuat.

  20. eumz kshan.
    tw gx kaum yang pertama kali diperangi pasukan al-mahdi d akhir zaman nanti?mengapa?
    tahu gak apa yang terjadi di arab saudi?
    tahu gak sejarah kaum wahabi di arab saudi?

  21. Subhanalloh…..
    Maha Suci Alloh dengan segala Firmannya….
    Share sedikit ya, “inna akmalu biniat…” ALLOH akan meridhoi semua usaha yang diniati baik oleh hambanya….
    ISLAM ITU ROHMATAN LIL NGALAMIN, bukan punya orang arab saja, orang indonesia saja, atau orang negara lainnya….
    mari kita resapi rahmat yg diberikan Alloh untuk aqidah yg tertanam di hati kita masing2….
    Islam sangat indah,

  22. Pertama, Tahliil itu asal maknanya berdzikir Laa ilaaha illaLlah. Inilah dzikir paling utama menurut Nabi. Kemudian istilah –atau sering juga disebut tahlilan– itu digunakan untuk acara berdzikir bersama seperti yang lazim dilakukan di banyak tempat. Acara ini juga ada yang menyebutnya Kirim doa. Acara tahlil atau tahlilan ini ada juga yang disertai dengan berkat, makanan, yang diberikan kepada hadirin yang melakukan tahlil.
    Apakah amalan seperti membaca Fatihah, berdoa, dan memberi makan orang, dlsb itu bisa dikirim seperti paket kepada orang yang sudah meninggal? Apakah kiriman itu bisa sampai? Hal ini sudah lama menjadi perdebatan di kalangan ulama. Jadi memperdebatkan itu hanyalah pengulangan belaka.
    Imam Ahmad memberi jalan keluar yang menarik, Kalau amalan kita tidak bisa sampai dengan sendirinya, kita mohon saja kepada Allah agar menyampaikannya, pasti sampai. Bukankah Allah sendiri berfirman, “Ud’uunii astajib lakum”, Memohonlah kepadaku, pasti aku kabulkan. Dan ini sekarang banyak dilakukan oleh ‘imam tahlil’ setelah tahlilan. Berdoa agar pahala bacaan-bacaannya juga disampaikan kepada mereka yang ‘ditahlili’.
    Waba’du; bagaimana pun tahlilan, menurut saya, tetap positif. Seandainya pun pahalanya tidak sampai, kita kan sudah dapat pahalanya berdzikir. Lagi pula kebersamaan dengan sesama saudara dalam acara-acara tahlilan merupakan nilai tersendiri. Apalagi di alam dimana kebersamaan hampir terkalahkan oleh egoisme

  23. Assalamualaikum semua (pemilik blog, pembaca dan pemberi komentar),
    Budaya tahlilan itu kalo menurut pendapat saya yang awam adalah amalan beresiko besar. Terlepas dari pendapat mana yg benar, antara yg mendukung tahlilan dan yg menyebut budaya tahlilan tidak sesuai dengan syar’i,

    1. Bila budaya tahlilan adalah suatu yg baik menurut Allah, maka yg tahlilan akan mendapat pahala, sedangkan yang meninggalkan tidak memperoleh apa-apa tapi insya Allah juga tidak berdosa, karena kebaikan yg disebutkan dalam tahlilan bisa dilakukan dg cara lain yg syar’i yg tentu juga berpahala.

    2. Bila budaya tahlilan merupakan kesesatan, inilah yg saya takutkan, kelak di akhirat hanya neraka tempat yg paling nyaman untuk pelakunya. …ih ngeriiii…

    Getol dengan acara budaya tahlilan Ibarat sedang main judi akhirat, padahal judi jelas dilarang dalam agama kita. Karena saya hanya awam maka acara yg sedang jadi perdebatan ini sebaiknya kita tinggalkan, toh masih banyak ibadah wajib dan yg jelas disunnahkan dan dicontohkan Rosulullah belum sempurna kita lakukan.
    Semoga para penganut budaya tahlilan bisa memahami dan tak perlulah mendebat dg susah payah, cari dalil kesana kemari, hanya untuk mempertahankan masalah yg dianggap sunnah…
    Wassalamualaikum wa rahmatullahi wa barokatuh.

    • tahlil merupakan do’a bagi si mayit dan tahlil bukan merupakan perbuatan bid’ah
      selama tidak menyimpang dari syari’ah islam

      • JUSTERU SUDAH MENYIMPANG MANGKANYA GA BOLEH.!!!
        DALAM ARTIKEL SUDAH JELAS. menyimpang dalm arti syariat, karena baik dan benar dam beribadah harus sesuai syariat. bukan menyimpang atau tidak berdasarkan akal pikiran manusia.

  24. Assalamualaikum warahmatuLLahi wabarakatuh, trm ksh mas infonya… tugas mas hanya menyampaikan yg benar, tdk lebih dan tdk kurang, semoga ALLAH SWT membukakan pintu Rahmat & HidayahNya, perkara ada yg setuju dan tdk setuju, perkara ada yg bilang ini salah atau benar.. serahkan saja semua kepada ALLAH SWT krn hanya ALLAH SWT yg maha tahu dan maha benar, tulisan ini dpt memberikan wacana baru dalam pemikiran saya yg org awam ini.
    ” Dan milik ALLAH semua yg ada di langit dan di bumi, dan kepada ALLAH dikembalikan segala urusan” (QS.Ali Imran : 109)

  25. hehe.. ente2 pada ikut tahlilan kan cuma buat dapet besek aja, malu ngga tuh sama keluarga yang dalam masa berkabung? pantas ngga orang sedang kena musibah malah mesti melayani ente2 yang paling cuma baca yasin huruf latin aja ato asal komat-kamit aja…
    coba dirasakan dengan hati nurani, pantaskah saya dilayani oleh orang berduka atau malah sebaliknya saya yang memberikan sedekah kepada mereka? (kan ane udah ngasih uang duka tuh..) iye, ente cuma ngasih paling2 2 ribu perak pulang dapet nasi sm ayam, blm lagi dji sam soe 2 batang, kebeli tuh sm duit 2 ribu??
    ente ngaku orang islam? ikutin ajarannya dari sumber aslinya, klo perlu ente pergi ke tanah arab tuh, nabi ente kan lahir dan besar disana, kecuali klo nabi ente itu asli orang jawa….
    hahahaha….

    • kalau yang ngasih ikhlas knapa harus ditolak… bakannya tangan yang diatas itu lbih baik daripada tangan yang dibawah,,,, berarti ente ente ini termasuk orang yang pelit ya,,, orang batak kalian ya,,,,yg takut miskin karena bersedekah..

  26. Panutan kita umat Islam Rasulullah, dan beliau salallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah tahlilan, bahkan terhadap syuhada perang uhud yang disana terdapat paman beliau tercinta – Hamzah Radhiallahu ‘anhu – , mas.. Hamzah itu mulia, syuhada, dan pembela agama Islam, tapi Rasulullah tidak melakukan tahlilan atau yasinan untuknya, kenapa juga kita harus tahlilan untuk orang yang derajatnya lebh rendah dari Hamzah ???

    “Mereka menjadikan orang-orang alim dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah” (An-Nur : 63)
    Orang alim aja ga boleh di ikutin mas klo ga sesuai dengan ajaran Rasulullah, apalagi cuma pancasila atau adat istiadat??

    Katakanlah (wahai Muhammad): “Jika kalian mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. 3:31)

    Ini bukan masalah “paling bener” tapi antum harus belajar islam dari sumbernya yang asli maka itulah yang paling bener

  27. قال الامام أحمد بن حنبل رضي الله عنه فى كتاب الزهد له : حدثنا هاشم بن القاسم قال: حدثنا الأشجعى عن سفيان قال
    قال طاوس: ان الموتى يفتنون فى قبورهم سبعا فكانوا يستحبون أن يطعموا عنهم تلك الأيام , قال الحافظ ألو نعيم فى الجنة: حدثنا أبو بكر بن مالك حدثنا عبد الله بن أحمد بن حنبل حدثنا أبى حدثنا هاشم بن القاسم حدثنا الأشجعى عن سفيان قال: قال طاوس: ان الموتى يفتنون فى قبورهم سبعا فكانوا يستحبون أن يطعموا عنهم تلك الأيام

    Artinya:
    “Telah berkata Imam Ahmad bin Hanbal ra di dalam kitabnya yang menerangkan tentang kitab zuhud: Telah menceritakan kepadaku Hasyim bin Qasim sambil berkata: Telah menceritakan kepadaku al-Asyja’i dari Sufyan sambil berkata: TelaH berkata Imam Thawus (ulama besar zaman Tabi’in, wafat kira-kira tahun 110 H / 729 M): Sesungguhnya orang-orang yang meninggal akan mendapat ujian dari Allah dalam kuburan mereka selama 7 hari. Maka, disunnahkan bagi mereka yang masih hidup mengadakan jamuan makan (sedekah) untuk orang-orang yang sudah meninggal selama hari-hari tersebut.

    • shohih gak iki? masak imam ahmad menerangkan ajaran yg beda dengan nabi…?

  28. maaf ikutan nimbrung & jika salah mohon juga di ma’afkan :
    Tahlillan itu memang tidak ada tuntunannya dari Nabi Muhammad SAW, dan itu budaya asli orang indonesia, pada jaman wali acara-2 seperti itu dilakukan tanpa menggunakan do’a-2 islam akan tetapi meminta kepada para danyang (penguasa gaib daerah sekitar) trus pada jaman wali di rubah dengan menggunakan do’a-2 islam. saya pribadi juga sering di mintai tolong oleh tetangga untuk memimpin ataupun ikut mendo’akan arwah si mayit, akan tetapi pada saat memimpin / sebelum di adakan acara saya sampaikan bahwasanya acara ini bukanlah wajib, dan janganlah mengada-2kan hidangan (hutang) bilamana kita tidak memiliki apapun untuk di hidangkan, air saja sudah cukup walaupun tanpa gula. karena ada yang lebih wajib yaitu sholat, zakat dsb.
    dan di dalam acara tahlilan ini saya gunakan sebagai ajang untuk syiar supaya orang yang tadinya tidak mau sama sekali membaca alquran jadi mau membaca, dari yang tidak bisa jadi bisa membaca walaupun belum sampai tahap mengerti arti dan maknanya.
    bagaimana dengan yang saya lakukan ini apakah juga di sebut bid’ah…? trus jika di sebut bid’ah apakah kita tidak boleh ikut mendo’akan mayit jika kita di mintai tolong oleh sanak saudara yang di tinggalkannya…?

  29. orang yang mempermasalahkan tahlil dll, hanyalah orng yang bodoh, kalo nggak percya manfaat tahlil, ente mati dulu ntar gue kirimi tahlil, pasti ente baru sadar… klo ente butuh yg namanta tahlil, buktikan…….

    • orang yang mengadakan tahlil dll (bid’ah), hanyalah orng yang bodoh, krn nggak percya agama yg dibawa rasulallah sdh lengkap (dalil cukup quran dan hadits), ente mati dulu ntar ketemu malaikat kubur pasti ente baru sadar… klo ente gk butuh yg namanta tahlil, buktikan…….

    • muhammad…tolong bicara jangan asal anda berhadapan sama orang ahli agama bukan sama anak SD,bicara tanpa dalil

  30. Agama islam pecah menjadi banyak aliran. mana yang yang paling benar dan mana yang bakalan masuk surga ? Jawabnya : orang yang berpegang teguh pada Al-qur’an dan Al-hadist.

  31. Ya Allah Tunjukanlah kami umat islam yang Haq itu Haq dan yang bathil itu batil.kami bertawakal kpd Mu karena tidk ada daya dan upaya melainkan dr prtolonganmu

  32. simple aja buat saya yang awam ini..
    1. Makan harta anak yatim adalah mendustakan agama
    2. Hanya ada 3 hal yang tetap diterima pahalanya saat org sdh mati, Doa anak
    sholeh, Ilmu yg bermanfaat, amal jariyah.
    3. Bersedekah atas nama mayit diterima
    4. Ga tahlil ga enak ( dibahas diatas )
    5. Yang dosa yang nyebarin ketidak benaran
    krn saya bingung, mending ga tahlilan, toh sunnah hukumnya.
    Mw ini hukumnya bid’ah apapun namanya, sy kagak ngerti…
    Yg saya ngerti, dianjurkan bukan berarti wajib dijalankan…
    Yg sudah diwajibkan dalam islam, ya wajib dilaksanakan..
    Laa illahaillallah, MuhammadurRosholullah….
    I love Muslim… Muahh!! Peace deh…, Mohon maap lahir batin yach..
    Semoga Allah selalu memberkati kita semua.

  33. Barakallahu fiikum akhi…. semoga ahlul ilmi senantiasa di berikan barokah dan kemudahan baik di dunia dan akherat kelak….

    • ketika orang kristen sibuk mengkristenkan orang islam orang muslim di timur tengah berjuang menegakkan agama allah swt dan memperoleh kmerdekaan…… kalian cuma bisa saling menyalahkannnn

  34. buat yang punya blog saya setuju buat yang kontra jalan aja…. tidak perlu berdebat karena amal manusia bukan manusia yang menilai tapi Allah swt…toh kelak manusia akan menanggung apa yg dia perbuat (manusia akan mendapatkan apa yg dia kerjakan )

  35. ya…..sebenarnya Allah dan Rasullulah…. mengajarkan cara hidup dan berkehidupan yg simpel dan bersahaja.
    manusianyalah yg membuatnya jadi berat dan tak jelas.
    Semoga kita mengambil manfaat dari artikel ini. Amin.

  36. @Muhibbul Islam: terimakasih banyak atas artikelnya. Menarik, cukup mencerahkan. Yang kontra: silahkan, tapi jangan berdalih artikel ini bertujuan memecah belah umat islam. Saya yakin penulis hanya ingin meluruskan akidah, tanpa bermaksud memecah belah. Kalau menurut saya berdzikir itu amalan yang sangat baik, namun menjadi rusak maknanya manakala dikerjakan/ dikhususkan pada waktu2 tertentu saja. Dan teruntuk kawan2…..
    @sPONGEBOB: siapa yang mengkafirkan? Padahal artikel ini Cuma men-share kebenaran.
    @Agus Widodo: maksa banget mengaplikasikan pancasila ke dalam tahlilan….bawa-bawa Pasal 28 UUD 1945 lagi. Kalo toh dikaitkan dengan pasal ya maksa-maksanya jatuh ke pasal 29 bukan 28 bang!
    Ngutip dari pendapat @Agus Widodo “Acara Tahlilan sama sekali tidak akan mempengaruhi aqidah, sama seperti budaya MUDIK LEBARAN, ini juga budaya asli Indonesia. Rosululloh tidak pernah mengajarkan untuk mudik lebaran. Tapi kita boleh dan sah2 saja mengamalkanya. Begitupun dengan acara Tahlilan”.
    @Agus Widodo dan @salafkobong: Weleh-weleh,,,,ga paham makna bid’ah kok ngomong ngalor ngidul mas?
    @Khakue Kanema Riizzal: persepsi saya anda melaksanakan tahlil hanya meniru2 tanpa tahu asal muasalnya/ dalil yang memerintahkannya (maybe!)
    @Yunita Syarief: faktanya memang biasanya yang datang ke tahlilan itu membawa makanan atau uang kepada keluarga mayit. Tapi bukankah itu cukup dilakukan saat kita takziah saja? Toh membawa makanan atau uang kepada keluarga mayit yang kita lakukan paling tidak seberapa dibanding beban kesedihan maupun kerepotan yang ditanggung keluarga orang yang meninggal saat menyelenggarakan tahlil. Bukankah demikian?
    @ HANSON,S.Pd: jika anda kaum terpelajar, maka bersikaplah bijak dan mau mendengar pendapat lain di luar pendapat yang anda yakini. Siapa yang berniat merusak hubungan silaturahhim umat islam? Orang penulis Cuma pengen meluruskan / menyampaikan kebenaran saja kok malah dianggap berniat buruk. Piye jal?
    @ muhammad: dipikir dulu sebelum mengatai orang lain itu bodoh. Jangan jangan malah anda sendiri yang bodoh. Peace!
    @ Azril: ada2 saja 
    Faktanya:
    1. Beberapa di antara yang ikut tahlilan mungkin tidak bersungguh-sungguh bertahlil/ hanya mengharapkan sesuatu/ hanya asal ngikut. Dan ada juga yang tahlilan tapi sesungguhnya hatinya menolak.
    2. Kalau toh ulama NU memang menyarankan agar umat NU melestarikan budaya tahlil, maka sebaiknya tak usah lah berlebihan dalam menyelenggarakan tahlil apalagi menjadikannya ajang mempelihatkan status sosial/ bagi yang kurang mampu tak usah lah diada2 kan/ diupayakan sampe utang kanan kiri bahkan jual sawah, karna itu hanya akan menjadi beban. Tak perlu takut dengan pendapat orang. Apa adanya saja, jika memang tidak ada uang ya jangan dipaksakan. Mudah2an tetangga kanan kiri memaklumi.
    3. Setuju sekali dengan pendapat @Abdul Latief bahwa agama itu tidak bisa di campur adukkan begitu saja dengan adat/budaya. Aturan dalam Islam sudah baku, yang didasarkan pada Al Qu’an dan Al Hadist, semua sudah komplit, dan tidak boleh ditambah tambah/ dikurang2i.
    4. Yang jelas Rasulullah dan para sahabat tidak pernah mengajarkan kita/ memerintahkan/ menganjurkan kita untuk tahlil.
    5. Bagi yang ingin melestarikan tahlil silakan selama tidak menganggap itu ibadah yang wajib/ bahkan disejajarkan dengan rukun islam segala. Bahaya!
    6. Bagi yang masih bingung tahlil itu boleh/tidak, saran saya tinggalkan saja sesuatu yang meragukan. Lebih baik mengerjakan amalan yang sudah jelas diwajibkan/ disunnahkan oleh Allah dengan sebaik2nya sebagaimana yang tertera dlm Al-Qur’an dan Hadits.
    7. Bagi yang tidak sependapat, silakan anggap artikel ini sebagai referensi bwt nambah pengetahuan saja supaya lebih tahu bahwa oh…ternyata yang kontra itu memang punya alasan tersendiri. Tidak perlu lah mempertentangkannya.
    8. Hati2 dengan budaya. Karena terkadang ada yang menyesatkan dan tidak sesuai dengan ajaran islam, contoh: mengirim sesajen, mitoni, selametan, dll.
    9. Bid’ah merupakan pelanggaran yang sangat besar dari sisi melampaui batasan hukum Allah dalam membuat syariat. Alasannya berbuat bidah berarti tidak meyakini kesempurnaan syariat, menuduh syariat masih kurang, belum sempurna dan membutuhkan tambahan (contoh: membaca do’a qunut pada waktu sholat subuh, melakukan peringatan kematian 7 hari, 40 hari, tahlilan, sekatenan, sedekah bumi, sedekah laut, yasinan, kenduren, dll). Kenyataannya para pelaku bidah justru menyangka bahwa dirinya dengan perbuatan bid’ahnya telah memuliakan Allah, mengagungkan syariat dan agamanya. Jangan menganggap sesuatu yang bukan agama (budaya) adalah bagian dari agama. Dan ingatlah bahwa “setiap perbuatan baru yang diada-adakan adalah bid’ah (tentu saja dalam hal yang menyangkut ibadah mahdhah). Setiap bidah adalah sesat dan setiap yang sesat tempatnya di neraka. Maka jauhilah bidah karena sesungguhnya jika kalian menyadari bidah itu mempunyai kedudukan yang sama/ bahkan hampir sama dengan maksiat, sama2 tercela, dan sama2 berkolaborasi menghancurkan agama Allah. Semakin banyak bidah dan maksiat, maka semakin lemahlah sunnah. Jauhnya manusia saat ini dari agama mengakibatkan banyaknya persepsi yang salah dan kekeliruan. Naudzubillah….

    • Pak/Bu/Mas/Mbak…Dinam,..awalnya tulisan anda bener jadi “penengah”…eee ujung2nya tetep we jadi ‘peng hujjah” sesama muslim…repot amat sih, kalo semua merasa paling bener dah aja mubahala, beres!!

  37. anda sangat cerdas… semoga bisa menjadi berkah bwt umat muslim lainya… dan semoga umat muslim selalu ada dan terus ada sosok seperti anda… amien..wassalam…

  38. Assalamu’alaikum warahmatullah…maaf beribu maaf saya ini orang awam,tp mau ikut gabung,pa bolh?mnurt saya zaman skrg ni yg terpnting adalh perkokoh ‘aqidah,lestarikan budaya Islam,wariskan kpd generasi kita….cb kita lihat skarang btapa dahsyat dan gencarny serangan org2 yahudi dan nasrani.lihat skrg, banyak masjid yg megah tp sunyi dari jama’ah…banyak yg beragama Islam,tp tidk faham tentang Islam.yakin Al-Qur’an kitab suci,tp tidk faham isinya bahkan banyak yang tidk bisa mmbaca…itu yg pnting mnurt saya…jd apabila sesuatu itu tidk mrusak ‘aqiah(jatuh dalm perbuatan syirik)y sudh…ingt!!! artikel ini bisa dibaca oleh siapapun….

    • yang paling bener adalah orang yang mengerjakan sholat 5 waktu dgn khusuk , kalo tahlilan (bukan tahlil) kenapa harus dgn waktu tertentu…? bukankah itu ajaran hindu….?

  39. asslmlaikum.. kalo menurut saya yang bener adalah yang berpedoman pada alqur’an dan hadits.. saya tidak mengatakan tahlilan itu bidah, tapi saya juga gak mengatakan itu sunah. tapi menurut saya, tapi ada keraguan dalam hati saya tentang tahlilan.. bukan (tahlil). mengapa harus 3.h. 7.h. 40.h. dan seterusnya,, dan setau saya yang demikian 3h.7h.40h.dstrusnya adalah kepunyaan orang hindu, .. bagi yang tau alasanya tolong di jelaskan, karna sampai saat ini saya belum mendapatkan jawabanya.. terimakasih

    • Pembagian Waktu

      Mengenai waktu untuk mendoakan, sebenarnya boleh dilakukan kapan saja dan di mana, baik dilakukan secara individual maupun bersama-sama. Sebab, seperti telah ditegaskan di muka, orang yang sudah wafat itu mendapat ujian berat selama berada di alam kubur, menunggu hari kiamat tiba. Dalam sebuah riwayat dikisahkan, saat terjadi gerhana matahari pada masa Rasulullah SAW, beliau memimpin shalat gerhana. Dan ketika sedang berkhutbah, beliau mengingatkan tentang beratnya ujian bagi orang yang sudah wafat:

      إن الناس يفتنون في قبورهم كفتنة الدجال. قالت عائشة وكنا نسمعه بعد ذلك يتعوذ من عذاب القبر

      Sesungguhnya manusia itu diuji di dalam kuburan mereka, seperti ujian Dajjal. Siti Aisyah menyatakan: Setelah itu kami mendengar beliau (Nabi) memohon perlindungan dari siksa kubur. (As-Sunan al-Kubra li an-Nasa’i, 1/572. Lihat juga Tahdzib al-Atsar 2/591 dan Shahih Ibnu Hibban 7/81).

      Menurut Syeikh al-Albani, hadits riwayat an-Nasa’i ini adalah hadits shahih, sehingga bisa dijadikan sandaran hukum.

      Mengenai pilihan 7 hari, 40 hari, atau 100 hari untuk melakukan doa bersama, hal itu karena mengikuti kebiasan para sahabat dan ulama salafus shaleh. Imam Ahmad bin Hambal ra. menyatakan dalam kitab az-Zuhd, sebagaimana dikutip oleh Jalaluddin as-Suyuthi dalam kitab Al-Hawi li al-Fatawi dan ad-Durr al-Mantsur:

      حدثنا هاشم بن القاسم قال حدثنا الاشجعي عن سفيان قال: قال طاوس إن الموتى يفتنون في قبورهم سبعا فكانوا يستحبون أن يطعموا عنهم تلك الآيام

      Hasyim bin Al-Qasim meriwayatkan kepada kami: Al-Asyja’i meriwayatkan kepada kami dari Sufyan: Imam Thawus berkata : “Orang-orang yang meninggal dunia itu mendapat ujian berat selama 7 hari di dalam kubur mereka. Maka kemudian para ulama salaf menganjurkan bersedekah makanan untuk orang yang meninggal dunia selama tujuh hari itu.” (Al-Hawi li al-Fatawi, juz II, hal. 178 dan ad-Durr al-Mantsur 5/38)

      Imam Ibnu Jarir at-Thabari mempertegas maksud hadits di atas sbb:

      وأخرج ابن جرير في مصنفه عن الحارث بن أبي الحرث عن عبيد بن عمير قال : يفتن رجلان : مؤمن ومنافق فأما المؤمن فيفتن سبعا, وأما المنافق فيقتن أربعين صباحا

      Ibnu Jarir meriwayatkan dalam Mushannafnya, dari Ibnu Abi al-Harts, dari Ubaid ibn Umair, ia berkata: Yang diuji (di dalam kubur) adalah dua orang, yakni orang mukmin dan munafik. Orang mukmin diuji selama 7 hari, dan orang munafik diuji selama 40 hari (ad-Durr al-Mantsur, 5/38).

      Imam Suyuthi menandaskan bahwa: “Tradisi bersedekah selama 7 hari merupakan kebiasaan yang telah berlaku hingga sekarang (zaman Imam Suyuthi) di Mekah dan Madinah. Yang jelas, kebiasaan itu tidak ditinggalkan sejak masa sahabat Nabi Saw. sampai sekarang. Dan tradisi itu diambil dari ulama salaf sejak generasi pertama (masa sahabat Nabi Saw)”.

      Telah kita maklumi, kaum Muslimin yang mengadakan tahlil atau Yasinan, juga bersedekah dengan memberikan hidangan kepada para undangan. Pahala sedekah tersebut ditujukan untuk keluarga mereka yang sudah wafat.

      Sedangkan istilah “haul” (peringatan satu tahunan setelah kematian) diambil dari sebuah ungkapan yang berasal dari hadist Nabi Saw. dari al-Waqidi:

      كان النبي ص.م يزور الشهداء باحد فى كل حول, واذا بلغ الشعب رفع صوته فيقول :سلام عليكم بما صبرتم فنعم عقبى الدار ثم ابو بكر رضي الله عنه كل حول يفعل مثل ذلك ثم عمربن الخطاب ثم عثمان بن عفان رضي الله عنهما (اخرخه البيهقي)

      Rasulullah saw. setiap haul (setahun sekali) berziarah ke makam para syuhada’ Perang Uhud (tahun ke 3 H.). Ketika Nabi saw. sampai di suatu tempat bernama Syi’b, beliau berseru: Semoga keselamatan tercurahkan bagi kalian atas kesabaran kalian (para syudaha’). Alangkah baiknya tempat kembali kalian di akhirat.” Kemudian Abu Bakar juga melakukan seperti itu. Demikian juga Umar bin Khatthab ra. dan Utsman bin Affan ra. (H.R. Baihaqi)

      http://www.tebuireng.org/view/302/hukum-tahlilan-dan-yasinan.html

  40. Subhanallah semoga artikel ini bisa mencerahkan hati orang yg butek ; dan bagi Penulisnya smoga Allah merahmatinya :

    huuueeekkkkk …… klepek …. klepek ….. klepek ….. mati habis menenggak visky …
    kasihan selama hidupnya gak pernah menjalankan apa yg diperintahkan oleh Allah apa lagi shalat ,, E E E malah matinya habis menenggak visky … bahkan sebelum di berangkat dari rumah duka pakai shalat mayit lagi ,, bukankah menurut Imam Syafi’i orang yg meninggalkan shalat potong leher ..
    Nah …!!! klepek …. klepek …… klepek …. adat budaya malamnya datang itu TAHLILAN … 3 mlm – 7 mlm ,, bagaimana ini pak Ustad ..? apakah bacaan TAHLILAN ini bisa sampai kepada si penenggak visky …. ini perlu dijawab , sebab sangat umum di indonesia jika ada keluarga meninggal pasti malamnya ada TAHLILAN , walaupun orang itu selama hidupnya gak pernah menjalankan perintah Allah apa lagi namanya shalat …

    Dan jika saya membaca ayat akhir dari surat Al_Baqarah ,, yg artinya + – :
    ” Hanya bagi Allah apa yg ada dilangit dan dibumi .
    Apabila kamu sekalian melahirkan apa saja yg dihatimu atau kamu sekalian merahasiakannya, tetap akan dihisap [ diperhitungkan ] oleh Allah .
    Maka Ia akan memberi ampunan kepada orang yang dikehendaki .
    Allah Maha Kuasa Atas Segala sesuatu , Rasulullah telah beriman pada apa saja yg diturunkan kepadanya dari Rabb – Nya , dan orang orang yg beriman semuanya telah beriman kepada Allah , para malaikat – Nya , Kitab kitab – Nya , dan kepada utusan – Nya .
    Kami tidak membeda bedakan diantara satu utusan dengan utusan utusan yang lainnya , Mereka berkata ; ” Kami mendengar dan kami menta’ati , Ampunan Engkau yang kami harapkan , Tuhan kami , dan hanya kepada Engkau tempat kami kembali . Allah tidak memaksa seseorang , kecuali [ orang itu ] dengan kekuasaan -Nya .
    Baginya balasan apa yang dia perbuat dan baginya pula siksaan dari apa yang mereka lakukan .
    __Tuhan kami , jangan lah Engkau menyiksa kami , apabila terlupa atau salah , Tuhan kami janganlah kiranya Engkau memberi beban [ berat ] kepada kami terus menerus , sebagaimana Engkau bebankan kepada mereka sebelum kami .
    __Dan janganlah pula Engkau bebankan kepada kami , sesuatu yang kami tidak mampu ,, maafkan kami ,, ampunilah kami dan kasihanilah kami .
    Engkau pemimpin kami , maka tolonglah kami menghadapi orang orang kafir .”
    ( Al – Baqarah . 284 – 286 ) .

    ini do’a yg biasa dibaca dalam TAHLIL ,, artinya do’a ini untuk orang yg hidup atau untuk orang mati ,, jelas artinya untuk yg hidup ,, yg dihadiahkan untuk si mayit yg mana …? tolong di jelaskan agar tidak salah kepres E..E .. salah kaprah dalam berdo’a … Thank’s …wa sukron ….

    • Hakikat Tahlil dan Yasiin

      Secara bahasa, tahlil artinya membaca la ilaha illalLah. Istilah sudah menjadi dialek orang Arab yang kemudian diindonesiakan. Karena itu, di Indonesia, istilah tahlil digunakan untuk menunjukkan aktivitas doa yang di dalamnya memuat bacaan la ilaha illalLah, yang ditujukan untuk orang yang sudah wafat. Dari sini dapat dipahami, bahwa di dalam tahlil pasti terdapat bacaan la ilaha illalLah dan zikir-zikir yang lain, termasuk ayat-ayat al-Qur’an.

      Tahlil yang biasa dibaca oleh kaum Muslimin di Indonesia, khususnya kaum Nahdliyyin, merupakan kumpulan doa yang diambil dari ayat-ayat Al-Qur’an, mulai dari Surat Al-Fatihah, permulaan Surat al-Baqarah, hingga tiga surat terakhir (Al-Ikhlas, al-Falaaq, dan an-Naas). Banyak sekali riwayat hadits yang menunjukkan keutamaan bacaan-bacaan tersebut, yang tentu saja tidak cukup diurai satu per-satu di sini.

      Dari sini dapat ditarik benang merah, bahwa redaksi tahlil tidak harus sama. Tidak ada tahlil tunggal yang harus diikuti oleh semua orang. Setiap doa yang ditujukan untuk orang yang sudah wafat, yang di dalamnya memuat la ilaha illalLah, semua itu hakikatnya adalah tahlil. Maka, di setiap daerah, bacaan tahlil itu tidak sama persis. Sebab, tujuan utama tahlil bukan lafadznya, bukan redaksinya, melainkan doanya dan kandungan isinya.

      Mengenai pembacaan Surat Yasin, hal itu juga merupakan ibadah dan doa yang sangat dianjurkan. Diriwayatkan oleh Ma’qil bin Yasar ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda:

      ويس قلب القرأن لايقرؤها رجلٌ يريد الله تبارك وتعالى والدار الاخرة إلا غفرله, واقرؤها على موتاكم (مسندأحمد بن حنبل)

      Surat Yasin adalah jantung Al-Qur’an. Tidaklah seseorang membacanya dengan mengharap ridla Allah Swt, kecuali Allah Swt. akan mengampuni dosa-dosanya. Maka bacalah Surta Yasin atas orang-orang yang telah meninggal di antara kamu sekalian. (Musnad Ahmad ibn Hanbal, 1941)

    • kasihan amat si mayit ya kagak kebagian pahala, keluarga kebagian susah dan tamu kebagian makanan ya….Enak enak enak

    • semoga bisa jd perbandingan
      Home
      Seputar Ramadhan
      Mozaik Fiqih
      Seputar Zakat
      Hikmah
      Islam Kontemporer
      Seputar Pesantren
      Ekonomi Syariah
      Bahtsul Masail
      Tanya Jawab

      Konsultasi Ustadz. Silahkan Salam, perkenalkan diri (nama, umur, lokasi) dan sampaikan pertanyaan singkat padat.

      Ust. M. Niam
      Ustdzh Kamilia
      Ust. Arif Hidayat

      Hukum Perdagangan Online

      Hal-hal yang Wajib diketahui oleh Pedagang Muslim
      Hukum Jual Beli melalui Internet
      Menjual Produk yang Belum Dibeli atau Diambil dari Supplier
      Hukum Jual Beli melalui Email
      Hukum Menaikkan Harga di Satu Tempat karena Kelangkaannya
      Hukum Menjual dengan Harga yang Berbeda-beda
      Kirim Artikel

      Kami menerima kiriman tulisan untuk melengkapi referensi Islam yang termuat di website ini.
      Silahkan kirim ke redaksi
      Kalkulator Zakat
      Versi Baznas (bulanan)
      Versi Tahunan

      Tentang PV
      Tentang Kami
      Susunan Pengurus
      Cara Konsultasi
      Tambah Database Pesantren

      Haul ke-7, 40, 100, dll
      Ditulis oleh Dewan Asatidz
      Tanya:
      Assalamualaikum Wr. Wb.
      Sebelumnya saya biasa ikut memenuhi undangan tahlilan untuk peringatan meninggalnya seseorang. Seminggu yang lalu saya memperoleh undangan dari seorang guru agama untuk menghadiri haul almarhumah orang tuanya, tetapi sebelum memenuhi undangan tersebut saya memperoleh keterangan dari beberapa guru agama yang lain bahwa hal tersebut dilarang karena termasuk bid”ah.

      Pertanyaan:
      Karena khawatir dan takut menyimpang dari ketentuan Allah swt., saya mohon kiranya dapat diberikan jawaban mengenai hal tersebut diatas secara lengkap berikut dalil2 dan rujukan2 yang mendasarinya baik dari Al Qur’an, Sunnah Rasul, pendapat 4 mazhab dan juga para ahli agama termasuk juga pengasuh PV.

      Wassalam,
      Daya Setiawan

      Jawab:
      Kebiasaan mengadakan haul –yang intinya hendak mengirim hadiah bacaan-bacaan al-Qur’an, tahlil, dan doa-doa kepada si mayit– dengan disesuaikan pada hitungan hari-hari tertentu mengandung dua substansi permasalahan. Pertama, sampai tidaknya ganjaran yang dihadiahkan kepada almarhum. Dan kedua, menepatkan acara pada hitungan hari-hari tertentu, misal ke-7, ke-40, ke-100, ke-1000, dan mengulang tiap tahunnya, apakah seperti ini bid’ah?

      Yang pertama, sampai tidaknya ganjaran yang dikirim kepada si mayit, sebagian besar ulama keempat mazhab (Malikiyah, Hanafiyah, Syafi’iyah, dan Hanbaliyah) berpendapat sampainya ganjaran bacaan-bacaan baik al-Qur’an, tahlil, dan doa-doa lainnya. Bahkan amal apa saja yang baik dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah swt, seperti bersedekah, infaq, dll, bila diniati ganjarannya untuk orang yang telah meninggal, ganjaran itu akan sampai dan bermanfaat buat si mayit.

      Pendapat-pendapat itu didasarkan pada ayat-ayat dan hadis:
      1. Ayat ke 10 surat al-Hasyr.
      2. Ayat ke 19 surat Muhammad.
      3. Hadis “idzaa maata al-insaan inqatha’a ‘amaluhu illa min tsalaatsin, shadaqatin jaariyatin au ‘ilmin untafa’u bihii au waladin shaalihin yad’uu lahu” (Kematian seseorang menyebabkan terputusnya segala amal perbuatannya [tidak ada pengaruhnya pada dia] kecuali tiga hal: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak yang saleh yang mendoakannya) [HR. Muslim].
      4. Hadis “man zaara qabra waalidaihi faqara’a ‘indahu –au ‘indahumaa– yaasiin ghufira lahu” (Barang siapa menziarahi qubur kedua orang tuanya, lantas membacakan untuk keduanya surat Yasin, maka terampuni kedua orang tuanya” [HR. Ibnu ‘Addiy].
      5. Hadis kisah seseorang yang tanya kepada Nabi : “kaana lii abawaani ubirruhumaa haala hayaatihimaa, fakaifa lii ubirruhumaa ba’da mautihimaa?” (Saat kedua orang tuaku masih hidup saya selalu memuliakannya, lantas bagaimana saya bisa berbuat baik/memulyakannya setelah wafatnya?). Dijawab oleh Nabi: “inna al-birr ba’da al-maut an tushalliya lahumaa ma’a shalaatika wa tashuuma lahumaa ma’a shiyaamika.” ([Kamu bisa] memulyakannya dengan menghadiahkan pahala salat-salatmu dan pahala puasa-puasamu) [HR. al-Daaruquthniy].
      6. Hadis “iqra’uu ‘alaa mautaakum yaasiin” (Bacakanlah untuk ahli qubur kalian surat Yasin” [HR. Abu Dawud].

      Mengenai persoalan yang kedua, soal waktu, yakni kenapa ditepatkan pada hari ke-7, ke-40, dst, itu begini:
      Mula-mula harus kita bahas dulu “apa itu bid’ah” secara istilah (terminologi). Definisi bid’ah yang paling terkenal di kalangan ulama adalah yang diberikan oleh Imam al-Syatibiy, yaitu “suatu tata cara di dalam agama yang diciptakan untuk menandingi (tata cara beribadah yang sesuai) syari’ah.

      Untuk menguji apakah tahlilan pada hari-hari ke-7, ke-40, dst itu termasuk bid’ah atau tidak bisa melalui daftar pertanyaan-pertanyaan berikut: “apakah perbuatan menyesuaikan acara pengiriman bacaan Qur’an, tahlil, doa, dan lain-lain dengan hitungan hari tertentu itu termasuk rangkaian ibadah?” Ataukah itu hanya sekedar kebiasaan saja, jadi tidak termasuk rangkaian ritual ‘tahlilan’ itu sendiri? Atau lebih tepatnya: saat melaksanakan acara tahlilan itu adakah keyakinan “bahwa acara itu harus dilakukan pada hari-hari ke-7, ke-40, ke-100, dst, sehingga seandainya dilakukan di luar hari-hari itu menjadi tidak sah?

      Menurut saya, penentuan pelaksanaan tahlilan pada hitungan hari-hari tertentu itu tidak termasuk bagian tak terpisahkan dari ritual tahlilan itu sendiri. Itu hanya berdasar kebiasaan saja, tidak bagian inhern dari ibadah pengiriman ganjaran bacaan dan doa, sehingga seandainya dilaksanakan di luar hari-hari itu tetap saja sah.

      Orang-orang yang tahu, tetap berpendirian bahwa tindakan menyesuaikan acara tahlilan pada hari-hari tertentu itu tidak merupakan bagian atau suatu bentuk ibadah. Karena ibadahnya hanyalah tahlilannya itu sendiri. Jika demikian, maka tindakan menyesuaikan itu tentu tidak bisa dianggap sebagai bid’ah.

      Wallahua’lam.

      diambil dr Pesantren Virtual

  41. Beginilah seharusnya ilmu..penjabarannya berdasarkan sumber dan dalil..mereka yg mengerti ilmu jelas sekali memiliki gap dengan mereka yang ikut2an..

  42. Para wali sukses dalam mengislamkan negri ini. lalu kami ingin bertanya berapa jumlah umat islam saat ini berkurang atau menurun ?

  43. Yang suka tahlilan monggo dilestarikan……yang ngga suka tahlilan ya wis ga usah………gitu aja koq repoooot..pot..pot..pot…….

  44. TAHLILAN itu “BATAL DEMI SEJARAH”..(Gausa susah2 cari2 dalil kesono kemari lagi buat pembenaran) toh masih buanyak kok amalan2 lainya yg lebih jelas dan kuat dalilnya..
    kalopun anda(dulur2-ku wong NU) masih bersikeras mempertahankannya..kesannya sepeninggal Rosullulloh agama ISLAM itu belum bener2 sempurna ya..gara2 Rosullulloh kelupaan ngajari kita TAHLILAN pdhl jangankan bab kematian..makan,minum,kumpul suami istri sampe urusan kekamar mandi-pun beliau gak kelupaan tuh ngajarin kita.. dan lagi kesannya..Rosullulloh itu kalah pinter (lebih bodoh) dibandingkan Kyai2 anda..karena Rosulllulloh gak tau tata cara bab kematian..mesti-kudu-harus-wajib pake amalan Tahlilan (katanya sih biar disono selamet)..ck.ck.ck.ck.(sambil geleng2)..buat yang masih ngeyel tahlilan ae..kalo lg sholat pas tahiyat (saat kita bersaksi/bersyahadat/bersumpah) sebut aja nama2 kyainya masing2 jgn Muhamad rosullulloh..karena Rosullulloh uda kalah pinter sama kyai2 sampean yg sok keminter mempertahankan amalan kejawen itu..(kok jd emosi ya) mgkn saking gemesnya sama dulur-ku yg gak mau belajar sejarah agamanya sendiri..(kayak orang2 Kristen aja yg pura2 gak tau dan gak mau tau sama sejarah agamanya sendiri)..ojo mung opo jare kyai ae bro..

    • apasih yang kamu tahu tentang tahlilan kok ngomong ngalor ngidul gak karuan ngono (bicara kesana kemari tidak jelas ), pahami dulu, wahai ahli nalar

    • Maaf mas muslim bukan????

      mas biasanya seorang muslim bisa saling menghargai sesama muslim??emang ajaran kyai mas juga bener 100% gituh?emang kyai mas belajar langsung dari rasulullah SAW gtuh?

      mas mungkin bukan golongan NU??tpi yang mas anut juga bukan golongan resmi dari sejarah muslim,,kita muslim indonesia adalah muslim yang di propaganda oleh yayasan kemasyarakatan tempo dulu.

      sejujurnya nih ya,,,golongan kita gak ngungkit2 golongan lain nih secara keras,,yang gak mau ikut ahli sunah wal jamaah ya gak apa apa?selama mereka gak menyimpang..tapi sebaliknya???kayaknya paling bener aja.gak nyadar nih tindakan nya bisa merusak persatuan dan kesatuan..

  45. Islam adalah ajaran yang murni bersumber pada Al-Quran dan Sunah Rasul…

    • bayangin aja mas bro klau di indonesia budaya yasinan, tahlilan,shalawatan,qosidahan,peringatan,maulid nabi,isra’miraj itu dihilangkan dan ditiadakan,,, gmana nasib agama islam di indonesia,,, pasti akan sepi,jarang silahturahmi.. pada nonton konser semua,,orgenan,, sehingga lupa dengan Allah SWT,,,

  46. Sejarah:
    Runtuhnya kerajaan hindu (Majapahit) dan berdirinya kerajaan Islam (Walisongo)..
    Tahlilan jaman walisongo = ide cerdas bin briliant bin cemerlang yang waktu itu emang masyarakatnya pada masih beragama Hindu…
    Tapi….
    Kalo Tahlilan diterapkan jaman sekarang yang notabene uda pada 7 turunan beragama Islam (muslim) = Pelecehan terbesar risalah kenabian Muhamad Rosullulloh..
    Hukum Tahlilan uda jelas dan terang benderang gausah diperdebatkan lagi..BID’AH..dan itu berarti DOSA dan kalo Dosa berarti Masuk….???

    • ane mau nanya ne ke ente, apa mimbar yng ada di msjid2 itu budaya siapa sih!

    • kamu tahu gara-22 pelacur masuk surga, carilah sejarahnya unutk membandingkan dengan tahlilan jangan mengklaim dulu bid’ah ini itu.

  47. Dari awal yg disimpulkan adalah adanya larangan membebani keluarga mayit dg memberi makanan kepada para tamu. Dan ke 4 imam mazhab, cenderung memakruhkan hal trsebut. Tapi yg saya heran fihak yg anti takhlian, tidak melihat fakta bahwa makanan yg dihidangkan adalah sebenarnya berasal dari sumbangan para tamu yg menghadiri takhlil. Sebagaimana rosullulah menghimbau, supaya kita membawa makanan atau jg bs dg uang. Dan sumbangan tidak terbatas pada hari kematian, tp biasanya hr ke 7 , 40, dst, biasanya para ibu2 yg membawa makanan, dan para suami takhlil di malam hari. Dan ajaran NU sebenarnya tidak pernah menganggap takhlilan sebagai kewajiban atau bagian dari syariat yg trtulis, niatnya semata2 hanya mendoakan si mayat. Kalaupun ada yg menganggap hal itu sbagai kwajiban syariat sperti hanya sholat, hal itulah yg perlu kita luruskan bukan mencela. Dan soal takhlil duduk perkaranya sama dg soal maulud nabi, isro miraj, tahun baru islam dll, jadi jangan sebelah mata dalam menilai jelek sesuatu. Mksh

    • Tp dulu saat q di Blitar Jatim, terus pindah ke Purbalingga Jateng, yg namanya tahlilan keluarga yg berduka yg membuat makanan, tidak ada ibu2 bawa mknan utk keluarga yg berduka. Yg ada malah keluarga yg berduka membuat makanan utk dibawa pulang hadirin (Warga Eks Karesidenan banyumas menyebut bungkusan makanan itu “Berkat”). Dan itu merupakan tradisi yg turun temurun, bagi yg tdk melaksanakannya dikenakan Sanksi Sosial & adat, dikucilkan dll. Bgmna itu???

    • @straigh orang yang berperang/jihad kemudian mati dijalan Allah itu sudah dijamin masuk surga….kita punya cara masing2 untuk mensiarkan agama islam……

    • betul betul betul tuu…pada gak tau soalnye gak pernah tahlilan bang…puguh kita ngelayat sambil nyumbang buat keluarga yg meninggal…

    • Kalo ada tahlilan yg berlebihan, itu soal lain. Jng hny krn ada sebagian yg berlebih2an trus tahlilan dibilang bid’ah. Di desa2 masih bny yg tahlilan dg sederhana, bahkan masyarakat bny yg membantu klg si mayyit.

  48. Saya pernah baca suatu artikel menyangkut soal boleh tidaknya amalan halal bihalal. Ada suatu kalimat yg menarik bwt saya yg berbunyi begini “pada dasarnya hukum amalan2 ibadah adalah haram selama tidak ada perintah atau dalilnya, sedangkan amalan2 yg sifatnya muamalah boleh2 saja dikerjakan selama belum ada dalil yg melarangnya”. Nah dari kalimat tersebut saya menyimpulkan bahwa amalan halal bihalal adalah boleh dan bahkan berpahala. Karena tujuan pokok halal bihalal adalah, saling memafkan, silaturahim dan syiar islam dan hal itu adalah bernilai ibadah karena ada dalilnya. Sedangkan pelaksanaan halal bihalal mengkhususkan pada saat momentum idul fitri, karena biasanya saat itu banyak perantau2 yg pulang kampung maka wajar dilaksanakan pada saat itu atau hari2 lain pada bulan syawal. Hal itu adalah amalan yg sifatnya muamalah sehingga boleh dikerjakan karena memang tidak ada dalil yg melarang. Kaitanya dg soal tahlil adalah sama saja, inti dari tahlil adalah mendoakan si mayit dan zikir dan itu ada dalil yg memerintahkan. Sedangkan mengkhususkan waktunya pada 3 hari 7 hari dst, adalah suatu yg sifatnya muamalah atau adat yg boleh dikerjakan karena tidak ada dalil yg melarang, selama kita tidak menganggap suatu amalan yg wajib dan dan tidak terpisahkan dg baca tahlil itu sendiri. Demikian juga dg maulud, isro miraj, thn baru islam dll, kita fahami dg hal trsebut di atas. Justru bisa jadi yg serampangan mengatakan sesuatu hal adalah haram atau bidah, itu merupakan bidah. Teliti dulu permasalahanya, ada unsur amalan ibadah dan muamalah tidak.

    • Asslm,
      maaf para om saya ikutan share, mnrut saya kenapa sih hal yng seperti itu harus di permasalahkan, padahal kan umat islam pada zaman sekarang itu sedang di perangi oleh orang” yahudi,

  49. tempat kami suka kalo ada tahlilan
    makan2 daging kambing ada judinya juga
    ada yg mabuk2an lagi
    komplet plet plet
    asyikkkkkk

  50. BISMILLAHIRROHMANIRROHIM….sebagian komentar dan balasan tidak mencerminkan akhlak yang baik……setiap apa yang sampean sampaikan akan dimintai pertanggung jawaban di hadapan Allah SWT kelak.kata-kata, kalimat-kalimat dan perbuatan bahkan maksud ,niatan yang TERSEMBUNYI DALAM HATI SEKALIPUN……tidak ada sedikitpun yang lepas dari kesaksian,Pengadilan dan kekuasaan Allah SWT.sayang…..teramat sayaaaang sekali!!!!dianugrahi Hidup,hati,rasa, fikiran, dan semua panca indera INGAT….Waintauddu ni’matAllahi la tuhsuha…Ayooo bareng-bareng Istighfar,bersyukur……Jalankan dan amalkan! semua, apa-apa yang sesuai dengan kadar pengetahuan,pemahaman dan ke-Ilmuan bahkan Keyakinan sampean TAPI INGAT!!! semua akan dimintai pertanggung jawaban dihadapan Allah SWT kelak.amal kebaikan, amal kejelekan akan ditimbang……..MAU SEMBUNYI KEMANA?jadi yha monggo…yang tidak atau tidak setuju Tahlilan (sudah menurut kadar pemahaman,keIlmuan atau jalur Keilmuan,ttg cara tafsir Al-quran dan Al-hadits)…….yang biasa melakukanTahlilan (sudah menurut kadar pemahaman ke-ilmuan atau jalur ke-ilmuan ttg tafsir Al-quran dan Al-hadits) dan disini ada perbedaan TAPI….hadapi PERBEDAAN dengan tuntunan Al-quran dan Al-hadits Akhlaqulkarimah) tidak boleh ada paksaan,tidak boleh saling menghina,tidak boleh saling melecehkan,tidak boleh pakai kekerasan,dan tidak boleh saling Meng-kafirkan…..siapa saja yang melanggar KODE ETIK AKHLAQ ISLAMI INI maka akan dimintai pertanggung jawaban secara nafsi-nafsi..Ayo siapa yang akan memulai lagi yaa….tetep akan menghadapi pertanggung jawaban wAllahu a’lam…Astahgfirullahaladzim.

  51. rukun islam ada 5 , rukun iman ada 6, >
    rukun islam ke 1 mengucapkan 2 kalimat syahadat,,,, taukan giimana syahadat ,,, dulu nyahdatin orang di masa rasul ga pake mic ,,, na sekarang ada ke biasaan baru make mic dan di spekerin biar kudu 1 kampung kedengaran (HAL BARU LOH) biat’ah ga ? jelah enggak alnya kalimat nya juga sama ga berubah dari masa rosul sampe saat ini,
    Rukun islam ke 2 , Solat 5 waktu ,,, taukan shollat, dari jaman nabi tetap ada lima waktu, subuh, zhurur, ashr, magrib , isya,,sekaramsih sama, bahasa nya juga sama ya itu arab,,, dan ayat yang di bwakan sama,, walau ada beberapa mazhab yang berbeda dalam bacaan dan gerakan tetap tidak masalah karena perbedaan itu terdapat pada masalah kecil aja,,,yang tidak mempengaruhi inti dari saholat itu sendiri,, trus pakaian yang digunakan beda jaman nabi semua pake gamis ,tp sekarng udah ada yang make kemeja ,,, dan ini pun ga masalah walau hal baru tapi inti nya tetap menutup aurat dan pakaian yang di gunakan tidak memiliki coretan atau gambar yang aneh aneh,,,pada konteks pakaian kemeja ini tentu itu adalah hal baru dalam beribadah sholat,, tidak ada di zaman dulu , lalu apakah ini bit;ah ? tentu( tidak ) karena intinya tetap menuntup aurat,,, jika seseorang bisa menerima hal baru dan hal baru itu tidak merusak inti dari sesuatu yang kita laksanakan maka tentulah tidak mengapa ? (tidak bi’ah) jaman dulu ga pake mic ,,, waktu sholat ,,artinya bi;ah haya berlaku apa bila hal tersebut sudah merusak hal2 yang alami,,, apa hal yang alami dalam sholat ,,, apa fungsi asli dari pakaian gamis,,, , jelbab mukena, ,,, kalau ada seorang berbaju ninja serba putih tamapa membawa sejata suriken , samurai , dll ke masjid untuk sholat ,,,dan tiap hari itu orang sholat dangan model pakaian seperti itu ,,,maka bia;ah kah dia ,,, > LIHAT ESITENSI< MAKSUD< INTI < MAKANA < maka terang lah apakah itu bi;ah atau bukan tapi yang jelah kita semua setuju jika ada yang sholat dan bacaan nya menggunakan BAHASA INDONESIA maka itu bi'ah yo ga bro,,,jdi apakah suatu hal itu merusak IBADAH ? jika halbaru itu sampai merusak ibadah maka itu bi;ah jika tidak itu bukan bi;ah,,,jaman dulu ga pernah orang berjihat pakai peluru, tpi to sebagian pejuang di palestin ada yang make AK 47,,, bi'ahkah mereka ,,kenapa itu tidak bi'ah karena jihat itu intinya berjuang di jalan ALLAH,,, caranya terserah ente,,,apa mau pake ketapel , kendaraan onta , Tank, AK 47, celurit ,,, yang penting sasaran jelas ,,, tidak melebar,,,tidak berlebih lebihan ,,, ane rasa tahlilan ga apa2 sejauh pelakasanaan yang wajib di tegakan ,,,(bukan ane bilang tu tahlilan ga bia'ah) bisa saja bi'ah jika udah menganggab itu wajib/sebuah ibadah,,, contoh pas tahlilan yang bertabrakan dengan waktu sholat,,, lebih mementingkan tahlilian nya ketimbang solat nah secara gak langsung udah lebih mendahulukan tahlilan ini bahaya ,,, tapi walau demikian kan masih ada solusi,,,ya tahlian jangan mesti mengsakralkan harus di hari 7 dll ga, trus jangan bertrakan dengan waktu sholat,,, trus juga jagan lama dan jangan menjadi kewajiban untuk menyiakan hidangan,,, bagi yang dikunjungi,,, jd kalau di kaji ga ada yang salah,,, satu sisi kita takut umat terprosok karena main di pinggir tebing yang indah pemandangan nya di satu sisi yang lain mereka merasa masih aman di tebing artinya memang main di tebing itu ga membuat orang jatuh kejurang sejauh mereka hati,,,, artinya apa "KEPERCAYAAN" lalu "HARUS SALING MENGERTI" Jadi "PERBAIKI YANG DI PERBAIKI" yang di takutkan apa ? jatuh pasang pagar biar ga jatuh,, di iket tali biar kalau jatuh bisa ditarik. ",,, intinya ga pa2 main di pinggir jurang itu aja ,,, kita ini ibarat ibu yang khawatir anaknya main di luar tampa makai sendal,, sedang kan si anak merasa kebiasaan nya main dilura di kekekang padahal itu bukan kejahatan " yang satu maksa masuk kerumah dan yang satu tetap kukuh main dikuar bukan kejahatan" jadi terlau sempit ilmu jika kita bertengkar hanya karena tidak saling mengerti, memahami, meneriam dan memperbaiki. to kafir seneng liat nya si Ibu mendurhakakan anaknya dengan seenak wede si anak tetap bersi kukuh main di luar bukan kejahatan (kerana ia main diluar cuma untuk menghilngkan kepenatan danll bukan nyolong )

  52. Aku tak sependapat dg mas agus widodo.jauh panggang dari api. ga nyambung kasih hadisnya.aku sendiri mengalami itu waktu ibuku meninggal 10th silam.bertambah repot dan beban .mohon ma’af beda jalan.

  53. Aku jadi teringat nasihat ustad HIDAYATULLAH dari tegal 24th silam(seorang tionghoa) waktu mengisi pengajian remaja dikampungku.untuk urusan agama cari perintahnya.untuk urusan dunia cari laranganya.kamu ngga bakal salah jalan.aku mengamini dari dulu dampai sekarang.jadi para saudaraku janganlah berdebat dengan segala dalil yang dikuatkan sendiri.masih banyak amalan perbuatan yang menambah amal kita.

  54. Saya sependapat tentang tahlilan itu makruh, yang merupakan bidah, tujuh natus dan berbagai selamatan lainnya adalah ibarat parfum mantan pacarnya isteri dulu….isteri sudah menikah dengan kita tetapi masih menggunakan parfum mantan pacarnya dulu….sebagai suami sakit ga….kalo saya sakit…karena si isteri tidak 100 % mencintai kita, ternyata masih ingat pacarnya dulu dan menggunakan parfumnya….betapapun berbaktinya isteri yang pake parfum mantan pacarnya dulu tetep saya sebagai suami sakit hati………trimaksih

  55. Ping-balik: Tahlilan dalam Pandangan NU, Muhammadiyah, PERSIS , Al Irsyad, Wali Songo, Ulama Salaf dan 4 Mazhab | usin63's Blog

  56. dalam tahlil tidak ada yg di kultuskan. semua do,a di pannjatkan kepada Allah. orang-orang yg bertahlil memintkan ampunan kepada ALLAH manusia tidak sama dg kucing, yg di tinggalkan begitu saja. hanya orang2 yg pemahamnnya cuma belajar dari kitab2 terjemahan yg keras kepala. mereka semua bilang bid,ah dhalalah. jika semua yg tdak ada di masa rosul bid,ah, apalkah menaiki motor dan mobil bukan bid,ah.

  57. TAHLIL ADALAH DZIKIR ..MENGUCAP LAAILLAHAILALLOH..
    ADA YG SENDIRI ADA YG BERJAMA’AH..
    YG BERJAMA’AH BANYAK PAHALANYA ..YG SEDIRi DIKIT PAHALAN..DAN BERKUMPUL BERSILAHTURAHMI ANTAR SESAMA UMAT.. DI UTAMAKAN DZIKIRNYA… BUKAN SUGUHANNYA..

  58. tolong dicbaca sampai tuntas pendapat saya agar tidak terjadi salah faham dan fitnah!!!! kalau menurut saya, kalau niat untuk mengadakan tahlilan itu untuk mengingatkan kita akan kematian, sebagai media silaturrahmi di tengah kehidupan masyarakat yang semakin individualistik saya berpendapat itu boleh, malah mungkin dianjurkan, dan saya ingin menjelaskan di sini yang terjadi di masyrakat etnis Madura, mereka mengadakan tahlilan itu dengan cara sumbangan…..artinya tuan rumah tidak sepenuhnya mengeluarkan biaya untuk tahlilan tersebut, penta’ziah juga menyumbangkan barang-barang yang umumnya beras, gula, dan uang, namun yang memasaknya tetap tuan rumah dibantu dengan tetangga sekitar….di dalam proses memasak itu terjadi interaksi kerjasama, tolong menolong, itu yang saya lihat, bukankah perbuatan itu tergantung pada niatnya, kalau pun dia pergi haji tapi niatnya tidak karena Allah kan sia-sia juga. jadi poin utamanya adalah masalah niat dan dampak yang ditimbulkan. kalau niatnya tidak seperti itu, dan dampaknya juga tidak baik, maka hukumnya menjadi haram. jadi menurut saya hukum tahlilan, mauludan, dan yang sejenisnya itu hukumnya tidak tetap, makanya masyarakat harus diberi pencarahan melewati media apa saja, bisa ceramah langsung, karena kalau hanya di internet tidak langsung mengena sasaran, karena yang sangat fanatik terhadap hal di atas umumnya masyarakat awam, sedangkan kaum terpelajar, santri tidaklah demikian. jadi bagi para ustadz yang sudah biasa (punya jam terbang, dikenal) ceramah di masyarakat, ini perlu disampaikan.
    kemudian pendapat saya tentang masalah bid’ah, kalau tradisi tahlilan dan maulidan itu dengan niat baik dan mempunyai dampak yang baik juga maka itu bukan bid’ah, kan haditsnya setiap bid’ah itu sesat, kalau dampaknya baik bukan bid’ah namanya.karena saya tidak setuju juga dengan pembagian bid’ah. dan lagi yang dimaksud bid’ah menurut saya adalah merubah ketentuan syariat yang telah ditetapkan, mislanya merubah shalat dzuhur yang 4 raka’at menjadi 6, shalat subuh menjadi 4 raka’at, puasa ramadhan menjadi full sehari semalam misalnya, shalat dengan menggunakan bahasa indonesia misalnya seperti yang pernah terjadi…
    wallahu a’lam.

  59. sebenarnya masalah ini adalah masalah yng msuk dlm soal furu’iayah yng tidak mesti di besr bsrkn . saran ane jangn mencmpur adukan soal yng qot’i dngn soal dzoni

  60. klw sy perhatikan, teman2 yng mmbidahkn soal tahlil-maulid dll itu slalu mngmbil rujukn dri kitab2 kuning yng biasa di ajarkn di dlm psntrn2. namun hnya sbtas mengartikan sja tidak smpai mmhami dngn btul mksd dri tujuan yng sbnrnya.

  61. saudara-saudaraku, “tahlilan” adalah amalan yang tidak disepakati dari dulu hingga sekarang, sama seperti bid’ah, apakah setiap yang tidak dilakukan Nabi, sahabat, tabi’in, dan tabi’ tabi’in adalah bid’ah? Tiap-tiap kelompok, baik yang pro ataupun yang kontra punya dalil dan imam, dan jika kita mau berpikir positif, madarat dari perdebatan seperti ini jauh lebih besar daripada manfaatnya. Jadi, mungkin lebih baik kita gunakan energi kita untuk hal-hal yang lebih bermanfaat.

  62. Klo Tahlilan Dibilang bidah ‘harusnya dicari pengganti amalan pengganti nya yang sesuai dengan hadist dan al Quran”Inilaah tugas berat generasi penyempurna ajaran islam zaman sekarang ‘dan bukan sekedar bikin Blog untuk mendawahkan tapi harus bener bener terjung langsung ke masyarakat dan bekali diri penyampai dakwah dengan ilmu yang mumpuni tentang hadist dan al quran

  63. semoga penulis selalu di rahmati ALLAH.gk ada gunanya berdebat,ingatkanlah yang salah dengan cara yang baik seperti nabi Muhammad saw mengajarkan kita.
    bagi yang gak setuju semoga anda dapat hidayah dari ALLAH.

  64. Saya setuju kalau orang mu’min membaca tahlil & dzikir bersama2 serta mendoakan orang yang sudah meninggal. saya setuju bila orang mu’min menjamu tamu sesama mu’min jika memang dia mampu. Saya sangat tidak setuju bila orang mu’min memaksakan diri untuk bersedekah kepada orang orang yang diundang untuk mendoakan keluarganya yang sudah meninggal. Saya setuju bahwa Tahlilan merupakan adat yang dapat menjalin shilaturrohim antar umat islam. Sesungguhnya
    Allah yang menentukan mana yang benar dan mana yang bathil. Bagi yang setuju dengan tahlilan silakan lakukan asalkan tahu ilmunya, bagi yang tidak setuju silakan tinggalkan asalkan mengerti ilmunya, LANA A’MALUNA WALAKUM A’MALUKUM……….. IKHTILAFU UMMATI ROHMATAN……..
    Wa Allahu A’lam Bisshowab…

  65. sangat mencerahkan…..yangkiata bahas adalah hukumislam … hukum sumber bersumber pada alquraan. sunnah/hadis dan jika tidak diatur maka sumber hukum selanjut nya ijma ulama ….. jelas berbagai mazhab menyatakan makruf … jadi ngak masalah …. makrufkan berari di tinggalkan berpahala di kerjakan tidak apa 2 …. jadi apanya yang dimasalahkan,,,,,, jangan pernah menganggap kebenaran hanya milik kita jika pihaklain menjalakan ajaran sesuai dnegan ijma ulama . thanks

  66. Islam melarang bercerai berai, Islam harus bersatu, dan satunya Islam adalh dalam satu ikatan Qur’an dan Sunnah, jadi orang yang membuat ajaran baru yang tidak ada dalilnya dalam al-Qur’an, berarti dia telah memisahkan diri dari ajaran Islam. Jadi bersatunya umat Islam bukan berarti kita harus ikut2an acara2 yang tdk ada dasarnya. tidak ada istilah toleransi dalm aqidah dan ibadah. Hati2 kita jangan tertukar antara ro’yu dan wahyu, antara filsafat dan ayat, antara hadits Nabi dan tradisi, mana budaya dan agama. Untuk rekan2 yang masih bingung tentang tahlilan, ada pendapat sederhana. Kalau tahlilan itu sunnah, yang meninggalkan tahlilan tidak akan berdosa, tapi kalau tahlilan itu bid’ah yang mengerjakan akan berdosa. jadi selamat mana?yang meninggalkan atau yang melaksanakan? ya selamat yang meninggalkan.

  67. :) alahmdulillah… dapet ilmu baru….:) matur sembah nuwun njih.. artikelnya berbobot :)

  68. Assalamu’alaikum
    Terimakasih kepada admin yg telah membeikan pencerahan kpd saya dan tepat sekali ketika saya sedang dihujat dalam sangsi sosial karena tdk mau ikut tahlilan di lingkungan, para kyai mendatangi ibu saya dan memfitnah saya dengan aliran sesat karena tidak mau tahlilan , sehingga ibu saya mencaci maki saya ” katanya saya malu punya anak msk aliran sesat karena tdk mau tahlilan, tidak mengikuti adat/tradisi lingkungan, bahkan menanyakan kepada saya ” kamu ini aliran apa?….. saya jawab saya tidak beraliran, agama saya ISLAM hanya mengikuti Kitabulloh dan sunnah nabi Muhammad saw serta mengikti cara ibadahnya para sahabat ….. aku katakan aku tdk takut dengan sanksi sosial berupa dikucilkan , dibenci, dan disebut aliran sesat….. aku akan tetap menjalankan ibadah yang sesuai tuntunan Rosululloh saw. aku hanya takut kepada Allah….. kebenaran datangnya dari Allah…. wassalam

  69. admin ini maksudnya baik,tapi caranya salah karna kedangkalan ilmunya
    baru sedikit tau dari kulit luar sudah merasa diri paling tau dan tau segalanya

    dalam Tahlilan terdapat perintah Rosululloh SAW :
    1. bacaan tahlil,Tahmid,Takbir dan puji2an terhadap Alloh serta sholawat
    2. yg menyelenggarakan Tahlilan bersedekah, terhadap sesama ( yg gak mau
    tahlilan berarti orang pelit,medit,kikir )
    3. jama’ah / tetangga yg mengikuti tahlilan, mereka saling mendo’akan
    minal muslimina walmuslimat dan seterusnya, bukankah ini perintah Rosululloh
    untuk saling mendo’akan sesama muslim, jdi para Wahabi ini klo do’a hanya
    biar dirinya dan keluarganya kaya,senang, masuk surga, gak peduli muslim yg
    yg lain.
    4. dengan mengundang tetangga utk tahlilan, itu silaturahmi sama tetangga
    ceba ada tetangga yg lg butuh kerjaan atau lg kesussahan, jdi di tau sama tetangga yg lain.

    yang paling benci terhadap Tahlilan adalah SETAN ( IBLIS )
    yang paling alergi terhadap bacaan Tahlil adalah SETAN / IBLIS
    bacaan Tahlil adalah : ” Laa ila ha illalloh Muhammaddurrosululloh.

  70. Sudahlah yg masih doyan n getol dgn ibadah syirik juga bid’ah gk akan pernah bs di ajak dialog la wong masih rajin ke dukun,parnormal, orang pinter kedokknya kyai, ustadz, habib n mantra2nya ayat suci Al-qur’an biar laku, ziarah kubur minta petunjuk si mayit, kuburan di dalam area masjid, pohon, punden, keris, air suci, air putih, isim atau jimat padahal jelas ancamannya dosa besar syirik sulit di ampuni oleh Allah SWT begitu juga kata Rasulullah Muhammad SAW siapa yg datang n menyakini ucapan dukun shalatnya tdk di terima selama 40 hari, siapa yg berani menetukan ampunan dosa n umur manusia?? dukun sendiri tdk tahu kapan ajalnya akan di jemput tp masih saja ada yg percaya. Perbuatan bid’ah macam maulid nabi, simtiduror, maulid imam husein dsb ( ada 7 maulid ), tahlilan, ratiban, nisfu sya’ban, hr raya idul fitri saling bermaaf -maafan, kunut subuh dll, karena banyak pelaku bid’ah yg tdk berilmu dan ilmunya masuk ke perut bukan ke otak, sebabnya?? setiap peribadatan selalu di hadapkan piring dgn isi makanan, minuman kopi, teh, isi amplop, bermusik, nyanyi, joged2 dsb. Dan bila di tanya tentang dalil hanya bs menjawab katanya org dulu yg gk jelas ke ilmuwan islamnya, kata guru sy, ustadz, kyai n dari habib sy alias membeo saja tdk pernah berkata ada dalil yg shahih menurut Al-qur’an serta Al-hadist, mazhab 4 imam, para ulama shalafus shaleh tp kebanyakan menerima hadist lemah terlebih palsu paling tinggi kitab kuning alias arab gundul yg dari masa ke masa hanya itu yg di ajarkan begitu pun yg mengajarkan ilmunya hanya sampai tingkat ustadz kampung. Artikel ini cukup bagus bagi anda yg belum paham coba selama satu bulan ya syukur selamanya meninggalkan perbuatan syirik n bid’ah serta renungkan, berfikir, pelajari kembali kitab suci Al-qur’an dan Al-hadist jgn emosi dulu apalagi berkomentar insya Allah ta’ala akan mendapatkan hidayah n saudara2/i pasti akan tahu makna begitupun nilai kebenaran serta arti islam yg sesungguhnya atau dapat memilah n memilih baik yg benar maupun yg tdk.

  71. Tahlilan jadi perdebatan…justru debatnya ini yg bikin perpecahan,sedangkan tahlilan nya sendiri cuma bisa tersenyum..
    Yg bid’ah itu bukan tahlilan nya (tahu artinya tahlil ? ),yg bid’ah itu perjamuannya…
    Tolonglah d tela’ah secara detail maksud dari tahlilan itu,jangan main klaim bid’ah seenaknya…

  72. bagi yg menjalankan tahlilan monggo, itu khn bagian dari sunah, bagi yg tidak jgn mencela, biarkan itu khn urusan orang masing2.
    ;
    1. dalam tahlilan itu mendo’akan seluruh ummat muslim, tdk ahanya do’a utk si mayit. ( masak org mendo’akan sesama muslim di haramkan )
    bukankah ini yg di ajnurkan Rosululloh, utk saling mendo’akan sesama muslim, klo do’a hanya utk diri sendiri, namanya org pelit lg jahil.
    2. Memberi makan tamu, bersedekah kpd tetangga terdekat, yg sesudah mendo’akan semua muslim. mask org sedekah diharamkan.
    3. Silaturahmi dengan tetangga dan kerabat, jdi para tetangga pd ngumpul, sling tau kabar anatara warga, jdi klo ada tetangga yg sakit/kesulitan dll bisa saling tau.
    4. peserta tahlilan dzikir tasbih,takbir,tahmid dll.
    setahu saya, makhluk Alloh yg alergi sama bacaan Tahlil, itulah namanya IBLIS.
    kalau manusia yg beriman pasti bergetar saat mendengar kalimat Alloh.

    inilah bedanya cara pandang suatu hukum tahlilan. dari ebebrapa kaum.
    kalau kaum NU Aswaja, mereka melihatnya pakai mata hati dengan bimbingan Alloh

    lain kalau cara pandang kaum Sawah ( Salafi-Wahabi ) mereka hanya lihat dari mata kepala bahwan gurunya adalah mbh google.
    kaum Sawah ini persis yg disebutkan Rosululloh, akan datang suatu kaum
    yg mana mereka membaca Qur’an, tpi tidak sampai kerongkongan apa lg masuk ke hati.
    mereka dalah kaum khawarij.

    kaum khawarij Sawah ini sllu bilang bid’ah
    1. sekolah itu bid’ah, karena menuntut ilmu itu wajib, tapi s tentukan waktunya itu jdi haram. org masuk pesantren haram, org kuliah jg haram.
    2. membaca mushaf Qur’an itu bid’ah , karna tdk ada jaman Rosul, jaman Rosul itu pd menghafal.
    3. Adzan pakai mic jg bid’ah, jaman Rosul itu tdk ada.
    4. pengajian2 itu semuanya haram, termasuk yg di TV
    kerna waktunya ditentukan, sprti majelis dzikir semua bid’ah haram.
    5. org bikin blog sama pesbukan jg haram, jaman rosul dl tidak ada.
    6. org sholat pakai sajadah jg bid’ah dan di haramkan, kerna rosul dl tdk begitu.
    masih banyak lg kalau mau di kupas.
    malas sj nanggapin org sawah ini.

    ya inilah contoh kepandaian org Sawah ( SAlafi-Wahabi ), semua orang akan masuk neraka, kecuali kaum mereka.
    kaum merekalah yg seolah-lah akan masuk surga sendiri.

  73. yang bisa nolong orang mati tu cuma tiga perkara…itu intinya walaupun loe suruh orang sedunia ini tahlil buat tu mayit g da ngaruh juga kali…….?????

  74. Assalamu’alaikum…
    Menanggapi tentang tahlilan dan hal apapun yg di lakukan di dalamnya dan di perbincangkan ini..
    Jika yang bersedia mengikuti itu silahkan…
    Jika yang tidak bersedia mengikuti pun silahkan…

    Yang mengatakan hal tersebut bid’ah atau apa pun namanya, wajar saja…
    Dan yang mengatakan itu boleh dan benar juga wajar…
    Para orang2 itu yg di sebut ulama yang menuliskan kitab berkitab itu pun masih punya keterbatasan pengetahuan..
    Saya hanya memikirkan satu dalil saja”TIDAK BERGERAK SATU ZARRAH PUN KECUALI ATAS IZIN ALLOH TA’ALA…” maka jika sesuatu terjadi dan berlaku, tentulah sudah karena izinNya….

    Yang menuding berdosa kepada org lain, masihlah berdosa juga dirinya…
    Yang di pandang mata belumlah tentu kebenaran hadapnya…

    Boleh di maklumi kepada para ulama di arab tempat islam hadir, jika berkata demikian..
    Karena belumlah tentu mengerti budaya,situasi dan kondisi Negeri lainnya termasuk Indonesia…

    ORANG DI ARAB MEMAKAI PAYUNG, BARANGKALI KARENA PANAS MATAHARI…
    ORANG DI BOGOR MEMAKAI PAYUNG, BARANGKALI KARENA BASAHNYA AIR HUJAN…
    Agama paling Benar adalah Islam (menurut saya….)
    Agama yg paling fleksibel akan hukumnya adalah islam (menurut saya… )
    Dan al-quran adalah Kitab Suci sepanjang Zaman (menurut saya…)

    Tidak peduli menurut orang lain sungguhpun itu Ulama besar, agak besar,kurang besar, atau menurut mereka yang di arab sebagai guru, HAKIKATnya mereka manusia juga yg masih punya keterbatasan…

    SAYA BERAGAMA ISLAM, DAN HANYA PEDULI PADA PERINTAH TUHAN DALAM ISLAM, MENJAUH PADA LARANGAN-NYA… Yang lain saya maklumi saja, karena ikhlas hati ini mnerima perbedaan yang di anugerahkanNya… Dan menjadikan itu tanda KebesaranNya..

    Beberapa Orang dahulu berfikiran besar dan menerima hidayahNya sehingga pemikirannya menjadi ilmu, Beberpa orang sekarang hanya merujuk dan memeperdebatkannya… Barangkali masih sempit sudut pandang dan fikirannya…

    Menghitung jumlah daun kering berserakan di halaman orang, lebih baik membersihkan sampah di halaman sendiri.

    Maaf lahir bathin, semoga manfaat bagi saudaraku semua.
    Wassalamu’alaikum.

  75. ini bukan pencerahan..akan tetapi “mengkerdilkan”,,,akal dan yg pasti pendapat ulama terdahulu sebelum anda lahir atau nenek anda lahirpun tahlilan sudah ada ..lah namaya anak kan harus mendo’akan orang tuanya dan leluhurnya sebagai tinggalan mereka sebagai ank yg sholeh, karena setelah kematian tidak ada amalan apa apa kecuali 3 hal .dan salah satunya adalah do’a anak yg sholeh.. gak usah pada cari pembenaran sendiri 2…lakukan apa yg baik dan benar.tapi jgn membenarkan sendiri.

  76. islam itu akhlaq …titik!
    kalo saling manjatuhkan ya bukan islam…gitu aja kok repot

  77. saya orang NU, pendapat saya menghalalkan tahlillan bagi yang lebih rezekinya
    dan mengharamkan bagi yang kekurangan,
    dan sifat tahlilan tidak memaksa jika kamu ada rezeki silahkan mengadakan acara tahlilan jika tidak ada ya sudah gak tahlilan jg no problem<<

    kerjasama dengan yang sepakat
    saling menghargai dengan apa yang tidak sepakat

    semua tergantung niat

  78. yang mau TAHLILAN silahkan yang tidak juga silahkan,,,,,, toh yang berhak menilai dan menerima suatu ibadah dan memberikan pahala hanyalah Allah SWT…..jadi,,gax usah merasa paling pinter dan paling bener dalam beribadah…. karena diterima atau tidaknya ibadah kita hanya Allah SWT lah yang tau,,,

  79. klo menurut saya,semenjak ada’a ajaran tanduk setan dari nejd mka tahlilan d larang,barang siapa yg mengharamkan tahlil dia telah kufur,karna tahlil itu lafazd tauhid

  80. kalian semua tidak tau ya kalau perdebatan ini tidak berarti ! keyakinan siapa yg paling benar ? ga tau kan. NU, MUHAMMADIYAH,PERSIS,MTA,DAN BERBAGAI golongan lainya. gini aja , di zaman ini sudah tidak ada nabi atw rosul lagi. cuma dari ajaran terdahulu yang ada. dan itupun berbeda satu sama lain .hanya alloh SWT yang tau mna umatnya YG taat n tidaknya, dan dari golongan mana. KALO TIDAK BISA DI LURUSKAN , MENDING KITA JALANI KEYAKINAN ISLAM KITA MASING2 . BIAR ALLOH SWT YG MENILAI di hari akhir nanti.

  81. jangan perdebatkan masalah furu’mari kita brantas golongan ahmadiyah yang melakukan penistaa terhadap islam,lagian kalau mau posting jangan hanya kitab- kitab yang melarang tentang tahlil tapi kita harus cari tau kitab apa saja yang membolehkan tahlil,dan lagian ja ngan berbicara satu aliran mari kita berbicara atas semua golongan ,ingat ahmadiyah itu lebih penting kita berantas dari pada perdebatkan masalah tahlil atau semacam nya karena dalil yang dituangkan ke tulisan ini belom seberapa dalil yang di tunjukkan

  82. mungkin ini memurut golongan yang gak mau tahlilan karena mungkin takut rugi atau takut hartanya berkurang padahal allah sangat benci dengan orang yang bakhil subhanallah jangan bakhil itu pesan saya

  83. jdi menurut kalian itu itu smua yg kami lakukan itu bid’ah.. dasar kalian selalux membuat kesimpulan yg negatif sj,, itu semua ada tujuanx bos…

  84. maaf sebelumnya untuk semuanya,
    di satu sisi saya membenarkan bbrp dampak negatif tahlilan, tapi disisi lain juga byk dampak positifnya.
    Menyadari saya masih sangat kurang dalam ilmu agamanya, hal seperti ini membuat saya bingung, yang mana yang harus saya ikuti, benar tahlilan bisa jadi beban, apalagi jika sampai berhutang itu tidak dibenarkan, tapi jika niat tahlilan itu untuk mendoakan sang mayit gimana? dan keluarganya yang ditinggalkan juga mampu gimana?
    Seandainya kita bersikeras untuk tidak mengikutinya, bagaimana kita menghadapi dan menanggapi pandangan masyarakat disekitar kita ? karena kita hidup bermasyarakat, sangat sulit mencari orang yang bisa memahami kita, saya yakin islam lebih suka tali silahturahmi dan islam tidak akan suka umatnya yang membuat hidupnya menjadi rumit sendiri (dengan kata lain, membuat masalah sendiri atau membebani hidupnya dengan masalah masalah yang dibuatnya sendiri), sudah kehilangan anggota keluarga, dapat cibiran masyarakat lagi, apa tambah gak syok ni hati.
    Saya takut karena perbedaan ini, org2 yahudi dan kaum kafir semakin tertawa melihat persetegangan kita, padahal kita sama sama muslim,menurut saya tahlil,boleh ataupun tidak boleh dilakukannya, dilihat berdasarkan niatnya saja, kalau niatnya hanya untuk mendoakan mayit dan menambah ikatan silahturahmi, juag menghibur keluarga yang ditinggalkan itu sah sah saja (ukan merupakan hal yang dilarang agama), kecuali kalau dianggap suatu yang wajib, jelas ini salah, tolong jangan berdebat lagi, malu, sama sama muslim juga,

  85. soal menyediakan hidangan sama dengan menghambur hamburkan uang / boros /berlebih lebihan ????????? menjadi alasan membid’ahkan orang lain
    kita semua klo lebaran gmn??? sudah pada bikin daftar belanjaan makanan & pakaian ???
    kenapa ga di sedekahkan buat yg lebih membutuhkan

  86. Makanya sebelum mati banyak-banyakin amal shalehnya, jangan ngarepin dikirim tahlil ama yang masih hidup. Lagian yang suka tahlilan itu apa sudah banyak pahalanya sampai-sampai ngirim pahala segala ke orang mati? Emangnya sudah dijamin dirinya masuk surga gitu???

  87. salam alaykm,,, mudah2n rahmat dan berkah Nya slalu ada pd kt smua,,, amiiin.. sedikit masukan aja inimah, atas perdebatan atau dialog atau sengketa faham masalah tahlilan ini atau masalh apapun yg menyangkut tuntutan kebenaran ibadah, yg super klasik ini,,,,,
    dr abu husain muslim bin al-hajaj bin muslim al-qusyairiy (sama masih manusia juga–,, heheh) hanya sepenggal kutipannya tentang perdebatan atau bantahan pada dasarnya akan memeberi kesan tdk baik pd lawan icaranya, karena dlm perbuatan itu, tdk menutup kemungkinan utk menghina, membodohkan, mensalahkan, dan meremehkan lawan bicaranya, yg pd akhirny timbul penyakit memuji diri sendiri seolah2 dirinya yg paling benar, luas wawasannya dan memiliki ilmu yg banyak…
    dg demikian jelaslah, bhw berdebat atau berbantah-bantah akan mengganggu ketentraman hidupnya sendiri. karena itulah janganlah melakukan debat dg orang bodoh atau dungu nanti engkau akan dihina dan disakiti, dan jgn pula berdebat dg orang pandai nanti engkau akan dikecam, dimusuhi dan dia akan dendam terhadapmu.

    artinya debat apapun,,,, dampaknya lbh banyak dosa nya lho ketimpang pahalanya,,, ada bnyk persoalan yg lbh besar yg lebih patut kita bicarakan, duduk bersama utk meyelesaikannya,,, demi kepentingan bersama seluruh umat islam,, gak kaya debat disini inih, masalah kecil, yg udah pd tw sebenarnya,sok pada bener,,, pasti di dalam hatinyamah semua pada kesel, panas hati, dan lain sbgnya,, ayoooh pada buat dosa lhooo,, xixixixixixi,,,, sori cuma anu

  88. Kalo pendapatku Mahrus Ali itu gak ada yg meniru karena keliru, tapi kalo para wali songo sampe skarang masih di ikuti karena ajaranya benar, suka membenarkan orang yg salah, bukan seperti Mahrus Ali suka menyalahkan orang yg sudah benar, monggo silahkan melok ajaran poro wali atau ikut ajarannya mbah Mahrus Ali,

  89. kalo yang mati gak boleh didoain….kita maki maki aja ,toh maki maki yang mati gak bakal nyampe kekubur katanya,(…habisnya ngedoain yang mati gak boleh sih…) pilih aja mau do maki apa didoain?

    >>>celananye pade ngatung2..trus yang ngikut biasanya yang elmunya nanggung2.ngejagoinnya dalil mulu ampe bebusah,gak pake rasa kemanusiaan,kalo ada duit sok tahlilan ,kalo boke kagak apa2,kagak wajib…

  90. NU,MD,PERSIS, dll itu ga penting kali,,, cuma ormas aja

    .Yang penting kita menjalani islam itu sesuai dengan AL-Quran dan As-sunah dan mengerti ilmu2 yang terkadung di dalamnya.

    (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.

    (QS.Al-Baqarah : 185 )

  91. MEMPRIHATINKAN…………!!!
    Dari dahulu sampai sekarang cuma senang dan lebih giat saling menghujat sesama Muslim. Sepertinya Syurga itu sudah dibeli sendiri, mengklaim paling benar…! orang lain salah….! SubahanaLLOH……… Ampuni kami Yaa ALLOH…

  92. Islam itu mudah dan gampang bagi yg mau berfikir ………..tapi apa ada yg mau berfikir ? karena berfikir itu pekerjaan yg sangat berat jadi pada males mikir. Mengikut arus tradisi, adat, dan sesepuh katanya tanpa dipikirkan baik buruknya.
    “Jadi selagi kita hidup jadilah Orang yang Beriman dan Bertakwa kepada ALLAH SWT yang sebenar-benarnya biar masuk surga jangan mengharapkan Doa dari yang ditinggalkan, yang belum tentu sampe ke diri kita di dalam kubur ” Ingat saudaraku di dalam kubur itu tidak ada yang dapat menolong kita kecuali amalan2 kita di dunia……. sempit, gelap, dimakan cacing, susah bernapas disiksa lagi, minta tolong ama siapa ………beruntunglah yg mendapat mendapat cahaya ALLAH SWT……Banyak – banyaklah mengingat mati…….. AMIN

  93. Nabi memiliki beberapa anak, yang anak laki2 semua

    meninggal sewaktu masih kecil. Anak-anak perempuan

    beliau ada 4 termasuk Fatimah, hidup sampai

    dewasa.
    Ketika Nabi masih hidup, putra-putri beliau yg

    meninggal tidak satupun di TAHLIL i, kl di do’akan

    sudah pasti, karena mendo’akan orang tua,

    mendo’akan anak, mendo’akan sesama muslim amalan

    yg sangat mulia.

    Ketika NABI wafat, tdk satu sahabatpun yg TAHLILAN

    untuk NABI,
    padahal ABU BAKAR adalah mertua NABI,
    UMAR bin KHOTOB mertua NABI,
    UTSMAN bin AFFAN menantu NABI 2 kali malahan,
    ALI bin ABI THOLIB menantu NABI.
    Apakah para sahabat BODOH….,
    Apakah para sahabat menganggap NABI hewan….

    (menurut kalimat sdr sebelah)
    Apakah Utsman menantu yg durhaka.., mertua

    meninggal gk di TAHLIL kan…
    Apakah Ali bin Abi Tholib durhaka.., mertua

    meninggal gk di TAHLIL kan….
    Apakah mereka LUPA ada amalan yg sangat baik,

    yaitu TAHLIL an koq NABI wafat tdk di TAHLIL i..

    Semua Sahabat Nabi SAW yg jumlahnya RIBUAN,

    Tabi’in dan Tabiut Tabi’in yg jumlahnya jauh lebih

    banyak, ketika meninggal, tdk ada 1 pun yg

    meninggal kemudian di TAHLIL kan.

    cara mengurus jenazah sdh jelas caranya dalam

    ISLAM, seperti yg di ajarkan dalam buku2 pelajaran

    wajib dr SD – Perguruan tinggi. Termasuk juga tata

    cara mendo’akan Orang tua yg meninggal dan tata

    cara mendo’akan orang2 yg sdh meninggal dr kaum

    muslimin.

    Saudaraku semua…, sesama MUSLIM…
    saya dulu suka TAHLIL an, tetapi sekarang tdk

    pernah sy lakukan. Tetapi sy tdk pernah mengatakan

    mereka yg tahlilan berati begini.. begitu dll.

    Para tetangga awalnya kaget, beberapa dr mereka

    berkata:” sak niki koq mboten nate ngrawuhi

    TAHLILAN Gus..”
    sy jawab dengan baik:”Kanjeng Nabi soho putro

    putrinipun sedo nggih mboten di TAHLILI, tapi di

    dongak ne, pas bar sholat, pas nganggur leyeh2,

    lan sakben wedal sak saget e…? Jenengan Tahlilan

    monggo…, sing penting ikhlas.., pun ngarep2

    daharan e…”
    mereka menjawab: “nggih Gus…”.

    sy pernah bincang-bincang dg kyai di kampung saya,

    sy tanya, apa sebenarnya hukum TAHLIL an..?
    Dia jawab Sunnah.., tdk wajib.
    sy tanya lagi, apakah sdh pernah disampaikan

    kepada msyarakat, bahwa TAHLILAN sunnah, tdk

    wajib…??
    dia jawab gk berani menyampaikan…, takut timbul

    masalah…
    setelah bincang2 lama, sy katakan.., Jenengan

    tetap TAHLIl an silahkan, tp cobak saja

    disampaikan hukum asli TAHLIL an…, sehingga

    nanti kita di akhirat tdk dianggap menyembunyikan

    ILMU, karena takut kehilangan anggota.., wibawa

    dll.

    Untuk para Kyai…, sy yg miskin ilmu ini,

    berharap besar pada Jenengan semua…., TAHLIL an

    silahkan kl menurut Jenengan itu baik, tp sholat

    santri harus dinomor satukan..
    sy sering kunjung2 ke MASJID yg ada pondoknya.

    tentu sebagai musafir saja, rata2 sholat jama’ah

    nya menyedihkan.
    shaf nya gk rapat, antar jama’ah berjauhan, dan

    Imam rata2 gk peduli.
    selama sy kunjung2 ke Masjid2 yg ada pondoknya,

    Imam datang langsung Takbir, gk peduli tentang

    shaf…

    Untuk saudara2 salafi…, jangan terlalu keras

    dalam berpendapat…
    dari kenyataan yg sy liat, saudara2 salfi memang

    lebih konsisten.., terutama dalam sholat.., wabil

    khusus sholat jama’ah…
    tapi bukan berati kita meremehkan yg lain.., kita

    do’akan saja yg baik…
    siapa tau Alloh SWT memahamkan sudara2 kita kepada

    sunnah shahihah dengan lantaran Do’a kita….

    demikian uneg2 saya, mohon maaf kl ada yg tdk

    berkenan…
    semoga Alloh membawa Ummat Islam ini kembali ke

    jaman kejayaan Islam di jaman Nabi…, jaman

    Sahabat.., Tabi’in dan Tabi’ut Tabi’in
    Amin ya Robbal Alamin

    • Setuju setuju

      Dikirim dari Windows Phone saya ________________________________

  94. sebaiknya penulis referensi yg lengkap..apa yg ditulis subyektif…..harap dtinjau ulang….masyarakat indonesia yg islam tahlil ato tdk itu urusan masing2 dengan perpegang pada imamnya masing2……sekali penulis harus tinjau ulang referensinya…jangan sepotong2 dan jangan berseumber yg subyektif tp harus konperehensif..sehingga tulisan tidak menjadi subyektif karena tulisan yang subyektif cendrung dpengaruhi nafsu dan setan….biar tidak jadi syetan
    termasuk penulisnya ..bertaubat lah

  95. Dari semua ibarat mulai dari al-Qur’an, Hadits, dan keterangan para ulama yang dipaparkan dengan mbuletnya, sampek ngelu bacanya, tibaknya hanya mencari sensasi publik.
    ibaratnya salah kaprah dan gak menyasar. hati-hati min kalo bermain dengan hukum Alloh.
    ma’af di ma’af, jika anda memberikan fatwa hukum syariat tentang suatu permasalahan, hendaknya perjelas dulu permasalahannya dan tanggalkan baju kebesaran anda. baru anda dapat menyikapi permasalahan tersebut sesuai tuntunan……mohon diperiksa kembali ibarat-ibaratnya. jangan di campur aduk….

  96. assalamualaikum penulis….
    orang mati tidak membawa apa apa ke alam kubur. kecuali anak sholeh,ilmu yg bermanfaat,amal jariah. jika yg mati orang yg dzalim dlm hidupnya bukan berarti dgn tahlilan si mayit dapat pengampunan atau tebusan dosa…bahasa saudara agak mirip dgn umat terdahulu (kristen). tahlilan adalah sebuah sarana dari keluarga untuk mendoakan entah itu paman bibi adik kk kakek nenek ibu bapa si keluarga yg semuanya ada hubngan darah untuk memohon pd Allah agar diampuni dosa dosanya,adapun diampuni atau tidak kita semua yg hidup tidak pernah tau hasilnya hanya Allah Yang Maha Tahu. adapun hidangan hidangan dari tuan rumah merupakan bentuk penghormatan pada tamu yg datang. surga dan neraka milik Allah..kita tidak patut untuk menentukan seseorang

  97. Maaf SAYA AGAK SEDIKIT TERGANGGU JIKA DI MUSABATKAN DENGAN PANCASILA DAN UUG 1945.

    Pancasila yang membuat adalah manusia dan Al-Qur’an adalah hukum yang sebenar-benarnya ( mencuri+dipotong tangannya, membunuh=dibunuh dll ) saya ibaratkan Membunuh=dibunuh maka orang tersebut setelah di adili dosa membunuhnya InsyaAllah hilang, dan jika membunuh=dipenjara itu adalah aturan manusia / yang membuat manusia, maka ITU ADALAH HUKUM YANG TIDAK ADIL (menurut saya), dan memang saya tidak setuju dengan di sahkannya Pancasila dan UUD 45 sebagai hkum dasar karena banyak yang menyalahi Al-Quran dan Hukum yang harus diterapkan di dunia adalah Al-Qur’an Bukan PANCASILA maupun UUD 1945 wassalam :-)

  98. ma’af cerita yg di atas itu larangan bg org yg bertaziah lama2 sehingga dilarang, dan larang tahlilanpun itu krn masalh tirkah, jd klo tahlilan di waktu2 lain ya… ga apa2…
    he…he….he….

  99. acar atahlilal itu bidah secara bahasa, krn tahlilannya sendiri itu sunah. Tahlilan adalah berzikir dgn mengucapkn “LAA ILAAHA ILLALLAAH”, acara tahlilan adalah zikir dgn berjamaah..
    adapun org yg ditinggal mayit awalnya bukan acara tahlilan tpi, acara bersedekah untuk dihadiahkn pahalanya kpd si mayit dgn mengharap do’a dari org yg buanyak… krn do’a yg diamini dari org yg buanyak mudah dikabulkn. are you understand…?

    satu lg, kgiatan tahlilan yg dilarang di zaman walisongo itu jauh berbeda dgn tahlilan zaman skarang, jlas bro….

  100. JANGAN PADA MERIBUTKAN ATAU MENCARI PERBEDAAN ITU HANYA MEMBUAT GOYAH IMAN KALIAN… JIKA ANDA INGIN BELAJAR ILMU AGAMA BELAJAR LAH KEPADA YANG EMANG BENER.BENER BIDANGNYA..INGAT. JANGAN MENCARI KEMENENGAN UNTUK EGO DIRI SENDIRI…

  101. gitu aja kok repot. sholat yg di jaga sudah khusyuk ato belum. diterima nggak. itu aja dulu yg perlu qt renungkan mas brow. di hari akhir yg ditanya pertama kali adalah itu. insaAllah.

  102. Bolehkah kita bersedekah untuk ibu yang telah meninggal? Bagaimana caranya? Apa kita bersedekah terus pahalanya diniatkan untuk ibu atau kita bersedekah atas nama ibu?

  103. Tahlilan itu sama saja dg berdo’a bukan jenis ibadah yg ditentukan spt sholat puasa dll, akan jadi bid’ah jika misal sholat dg memakai bahasa daerah. Berdo’a dimanapun dan kapan pun boleh, mau do’a berjamaah jg tidak ada larangan.
    Apabila dalam melakukan tujuan do’a tersebut terdapat unsur yang dilarang dalam Islam maka berikanlah pemahaman yg benar dan arahkan, jangan kegiatan do’a itu dilarang selama bertujuan baik.
    Kalo ada yg beranggapan tahlilan bagi mereka yg menjalaninya seperti wajib hukumnya, maka itu jg hanyalah anggapan yg bisa keliru dan memang keliru krn tidak semua yg tahlilan seperti wajib hukumnya.
    Cukuplah anda menyampaikan keyakinan pendapat anda, jangan terlalu mudah mengatakan saudara2 kita yg tahlilan itu melakukan bid’ah karena konsekuensi bid’ah itu berat. Sampaikanlah dg santun, bahkan Nabi pun memberi contoh kpd kaum yg berbuat dholim kpd Nabi dg mendoakan smga mereka mendapat hidayah karena mereka tidak tahu apa yg mereka lakukan, bukan malah mencap saudara sesama muslim telah melakukan bid’ah dan neraka lah yg akan diterima.

  104. assalamu’alaikum wr wb
    Puji syukur kehadirat Allah atas segala nikmat yg tlh diberikan kpd kita semua dan shalawat serta salam smoga tetap tercurah kpd Rasulullah saw.
    semuanya aja, smoga Allah slalu melimpahkan rahmat serta hidayah-NYA utk kita semua, agar kita selalu berada di jalan-NYA yg lurus.
    setiap muslim akan bertanggung jawab atas dirinya masing-masing. Allah telah berikan akal dan memberi perintah untuk berfikir dalam memahami islam. Jika datang peringatan/kabar tentang kebenaran, kita wajib menulusuri kebenarannya krn kita telah dikaruniai akal serta fikiran.
    Dalam masalah tahlil atau yang lazim dg sebutan tahlilan,…. ayo cabut seragam golongan kita. Dekatkan diri kpd ALLAH, mohon bimbingan agar mendapat hidayah dr-NYA. Renungkan dan dengarkan hati kecil kita utk kebenaran. Pelajari dg seksama dalil yg dingkat oleh mereka yg menyetujui adanya tahlilan dan pelajari pula dg seksama dalil yg diangkat oleh mereka yg kontra tahlilan. kemudian dg hati bersih dan berharap hidayah dr ALLAH….. ambilah satu keputusan, anda setuju atau menolak adanya tahlilan. tak usah kita saling cemooh, saling menghujat. Pegang pilihan kita masing-masing, yang pada akhirnya kita akan bertanggung jawab dihadapan ALLAH kelak di akherat. Jangan kuatir, kelak akan terbukti siapa yg benar dan siapa yg salah. Jadi tak perlu diributkn lagi.
    wassalam

  105. Setelah saya membaca dari awal sampai akhir tulisan juragan semua…saya menarik kesimpulan sementara…bahwa kita sebagai seorang muslim yg tekena musibah dengan meninggalnya salah seorang dari keluarga kita..janganlah memaksakan diri untuk memberikan hidangan kepada tamu yang menyelenggarakan tahlilan di rumah kita apalagi sampai pinjam uang sana-sini ,yang berdampak menjadi beban bagi keluarga yang ditinggalkan..kalau menurut pendapat saya sementara …Do’a nya baik,..silaturachimnya dengan tetangga baik,..mendo’akan kepada mayit juga baik..yang tidak baik itu keluarga memaksakan diri demi gengsi..rasa malu tidak menyuguhi tamu dengan ngutang sana-sini. hal ini yang harus dihindari. memang hal ini menjadi dilema bagi keluarga yang kena mushibah yang berada dalam lingkungan budaya tahlilan.Makanya masyarakat yang berbudaya tahlilan selalu memberikan sedekah juga bagi keluarga yang terkena mushibah untuk meringankan beban atau sekedar memberi tambahan buat jamuan acara tahlilan.Semua ini memang kembali ke niat kita kalau niat kita agar tidak dikucilkan di masyarakat budaya tahlilan maka lakukanlah tahlilan.tapi jangan memaksakan diri dengan ngutang sana-sini. terima kasih.

  106. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
    Saya kira tulisan admin tidak ada yang bernada menghina, menjelek-jelekan, apalagi sampai mengkafirkan. Menurut saya, tulisan admin lebih bersifat mengingatkan. Bahkan yang mengingatkan sebetulnya bukan dia pribadi, tapi dalil-dalil yang dia kemukakan. Dan mengingatkan adalah kewajiban setiap muslim kepada saudara-saudaranya sesama muslim.
    Bagi yang diingatkan mestinya tidak perlu marah. Kalau memang tidak setuju dengan apa yang disampaikan admin, sanggahlah dengan menggunakan dalil-dalil yang mengacu kepada Al Qur’an dan As-sunnah. Dan itu perintah Rasulullah SAW jika terjadi perbedaan di kalangan umat. Jadi jangan sampai kita jadi seperti orang-orang kafir Qurais, yang malah memusuhi bahkan sampai berniat membunuh Rasulullah SAW ketika diingatkan dan disampaikan kebenaran kepada mereka.
    Terlepas dari berbagai dalil yang pro kontra, menurut saya, ada hal-hal yang mengganjal berkenaan dengan ritual tahlilan ini. Salah satunya soal penetapan waktu. Pada masa Walisongo mungkin bisa dimaklumi karena waktu itu adat hindu masih sangat kuat. Sekarang ini setelah sekian abad, kenapa tetap saja dipilih 3, 7, 40,100 hari, mendak 1, 2, dan 1000 hari yang jelas-jelas itu milik umat Hindu. Kok tidak ada kyai atau ulama berusaha mengubah supaya tidak sama dengan ritual agama lain.
    Kemudian soal mendoakan mayit. Seperti yang diutarakan salah satu penyanggah di atas, bagaimana kalau si mayit adalah ahli maksiat. Apalagi bila si mayit mati setelah menenggak oplosan atau mati di atas perut pelacur, dan seumur hidupnya gak pernah sholat, haruskah kita mendoakan orang yang mengaku Islam hanya saat dia membuat KTP. Padahal orang yang tidak pernah sholat tidak boleh disholati jenazahnya.
    Soal hidangan. Ada yang bilang itu adalah sodaqoh yang dihadiahkan bagi si mayat. Bagaimana jika si mayat adalah orang miskin, bahkan paling miskin di kampungnya. Pantaskah dia bersodaqoh kepada tetangga-tetangganya yang lebih berpunya.
    Soal kaya miskin ini, kita pun kadang dibuat mengurut dada. Bagaimana tidak, ketika yang meninggal orang kaya, yang datang tahlilan membludak, termasuk di antaranya para pemuka agama di kampung si mayit. Tapi sebaliknya, ketika yang meninggal orang yang tidak berpunya, yang datang bisa dihitung dengan jari.
    Yang lebih ironis adalah, sebagaimana sudah banyak disampaikan, pesta makan-makan di saat sedang berduka. Masak iya sih Islam begitu dholim kepada penganutnya. Di saat orang sedang dirundang duka, dia harus “berpesta” dengan masak besar untuk menjamu tamu-tamunya. Menurut saya kok lebih manusiawi orang nasrani di Amerika sebagaimana dipertontonkan di film-film, yang hanya menengok jenazah ke gereja kemudian mengantarkan ke pemakaman, tanpa ada minum-minum, apalagi makanan.
    Jadi menurut saya, tahlilan ini kok terasa tidak berpihak kepada orang miskin. Dan masak Islam begitu tega kepada umatnya yang harus direpotkan dengan masak-masak besar untuk menjamu tamu di saat dia sedang dilanda musibah kematian keluarganya.
    Anehnya kenapa begitu berat meninggalkan ritual yang jelas-jelas tidak ada perintahnya, bahkan beresiko bid’ah sebagaimana diperingatkan Rasulullah SAW.
    Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh…

  107. Pada umumnya umat Islam telah kehilangan hakikat dari Islam itu sendiri, kita lupa atau para Ulama telah lupa bahwa pokok – pokok agama langit adalah la ilaha ilalloh, baik agama ibrahim, daud, musa maupun muhammad dan umumnya agama nabi 2 terdahulu.
    Saya orang awam kadang bertanya, apa istimewanya orang Arab (: baca Timur Tengah ) mengapa para Rosul di turunkan untuk mereka. Apakah mereka orang yang sangat dicintai Alloh ataukah orang yang paling rusak pada masa itu?
    Bagi saya, ada baiknya mari sama – sama merenung…tidak ada orang yang benar secara keseluruhan maupun salah secara keseluruhan.
    Nabi Muhammad pun bukan orang yang tidak pernah melakukan kesalahan akan tetapi Alloh Yang Maha Benar senantiasa mengingatkan Nabi seketika melakukan kesalahan.Itu untuk membuktikan bahwa Nabi adalah manusia dan itu juga sunatulloh bahwa manusia adalah tempat salah dan lupa.
    Buat saudara2xku, kenalilah Alloh dengan sebenarnya….sehingga timbul kecintaanmu padaNya….dengan cinta itulah yang akan membawa kita berjalan sesuai dengan kehendakNya tanpa kita akan membantah maupun bertanya…karena kita CINTA DIA, Dzat Yang Maha Segalanya…ISLAM hanya satu sejak Adam sampai Muhammad…..wallohu a’lam bi showab

  108. bicara dari atas ke bawah dari zaman nabi MUHAMMAD SAW hingga zaman kita sekarang,,beribu2 kitab telah tertulis sebagai saksinya,,bejuta juta dalil muncul sebagai saksi dakwah nabi MUHAMMAD SAW..

    hanya satu yang menjadi saksi nyata dan paling benar yakni AL QURAN,,,

    jadi mengapa kita memperdebatkan suatu ibadah yang hanya karena tidak ada kebiasaan dari zaman NABI MUHAMMAD SAW

    mari melihat kebelakang ..NABI MUHAMMAD SAW berdakwah sesuai ALQURAN dan AL QURAN adalah kitab penyempurna dari kitab NABI NABI terdahulu.dan NABI MUHAMMAD SAW adalah NABI TERAKHIR sebagai NABI PENYEMPURNA.

    dan kita sebagai umat NABI TERAKHIR JUGA NABI PENYEMPURNA adalah sebagai apa dan untuk apa hidup di dunia ini???/

    jawaban nya adalah:

    kita adalah penerus NABI MUHAMMAD ,,kita lahir sebagai pendakwah,,sebagai penyempurna untuk agama agama lain.

    dan sampaikanlah pemikiran kita pada bagaimana penyampaian dakwah dan ibadah NABI MUHAMMAD SAW pada zaman nya,,,,yang terbatas oleh keadaan situasi dan umur..pemikiran ini membawa kita pada andaikan NABI MUHAMMAD SAW masih hidup?pertanyaan TAHLIL ini bisa terjawab sudah..
    melihat dari masa lalu itu yang bertujuan dari penyempurnaan,,salahkah ??? ibadah TAHLIL yang dibawa umat pewaris dakwah penyempurna agama.???
    mungkinkah ibadah TAHLIL adalah syafaat yang dibawa umat pewaris dakwah dan penyempurna sebagai penyempurna dari sebagian daripada ibadah??
    kenapa ada pro kontra??kita kembalikan pada zaman NABI MUHAMMAD yang pro kontra atas dakwah dan ajaran penyempurna.,!!!!
    jangan dibebankan hanya karena materi saja,,karena yang bersifat ibadah adalah yang bersifat berkorban,,ibadah haji,berqurban idul adha,zakat fitrah idul fitri,sodaqoh dan amal jariyah lainnya kalau tidak mau berkorban materi tak akan terlaksana semua itu,namanya uang kalo dipakai sayang ya gak bakalan jadi ibdah??

    sekian dan wassalamualaikum wr wb
    di tunggu komentarnya.

  109. TUNTUNAN DARI WARGA
    1. Bacaan Alfatihah pada sholat sebaiknya tetap mengucapkan Bassmallah (ucapan Bassmallah bukan lirih atau dibatin) alasannya : karena manusia tempatnya lupa, diberitahu saja lupa, sehingga menghindari kelupaan diri sebainya diucapkan, terutama bagi para imam sholat.

    2. Salam agar dibaca lengkap “Assalamu’alaikum warohmatullahi wa barokatuh” bukan hanya Assalamu’alaikum atau Assalamu’alaikum warohmatullah, alasannya karena itu doa yang baik, dibaca lengkap akan lebih baik.

    3. Sholat tahiyatul masjid tidak perlu menunggu adzan selesai, seperti yang terjadi pada sholat jum’at sering kita temui berdiri menunggu adzan selesai baru sholat tahiyatul masjid. Alasannya karena masuk masjid diawali dengan sholat tahiyatul masjid, kecuali menunggu adzan berdiri di luar masjid, itu lebih tepat.

    4. Sesudah sholat tidak perlu bersalaman, karena setelah sholat saatnya untuk berdoa. Kalaupun terpaksa bersalaman yang penting jangan menyentuh mengajak bersalaman pada orang yang sedang berdoa. Itu sangat mengganggu konsentrasi doa, itu berdosa.

    5. Niat sholat tidak perlu diucapkan, cukup di dalam hati. Dan niat dalam hati Allah sudah mengetahui.

    6. Pada saat Sholat Subuh tidak perlu qunut karena tidak dalam keadaan perang secara fisik.

    7. Tahillan untuk orang mati tidak ada. Yang ada tahlil diri sendiri untuk beribadah, mendekatkan diri semata-mata kepada Allah dan insya Allah bisa membersihkan diri dari unsur dunia.

    8. Mendoakan orang mati cukup melafalkan Khususon Arwahi (sebut namanya yang meninggal……. Allahuma firlahu warhamhu dst… untuk jenazah pria, Allahuma firlaha dst… untuk wanita. Diucapkan berkali-kali seikhlasnya. Jika orangtua sendiri ditambah Allahuma firli wali walidaya warham huma kama robbayani sohiro berkali-kali seiklasnya. Sebaiknya dilakukan setiap selesai sholat, bisa ditambah sepuluh hari sekali, sebulan sekali dll.

    9. Tolong buatkan format urut2-an mendoakan orang yang sudah mati, yang benar. Tidak seperti tahlilan di kampung-kampung.

  110. Banyak orang islam yang kurang cerdas, tidak konsekuen dengan ucapannya. Contohnya : 1. Tiada Tuhan selain Allah ;
    2. Hanya kepadMU kami menyembah dan hanya kepadaMu kami minta pertolongan.
    Faktanya masih mengharap-harap syafaat dari nabi Muhammad, sedangkan sudah ngaku2 hanya kepada Allah minta pertolongan. Cobalah dipikir-pikir lagi !!!
    Lho.. safaat itu ada….. !
    Benar !, tetapi safaat hanya diberikan kepada orang yang menyembah dan minta kepada Allah. Jadi sebaiknya jangan minta kepada Muhammad. Bukankah kalau dikatakan musrik anda tidak mau !?
    Ada yang lebih parah lagi…, Minta bantuan arwah Jailani Abdul Kadir, padalah sudah punya sahadat dan Iyakanak budu wa iya kanas ta’iin (Hanya kepadMU kami menyembah dan hanya kepadaMu kami minta pertolongan). Kenapa …. . ?
    Bukankah Muhammad bahkan Jailani Abdul Kadir hanyalah ciptaan. Kenapa tidak minta pada yang Mencipta ? Apakah Tuhannya kurang … ? Atau barangkali masih terlalu jauh siapa Tuhan itu ? Di mana ? Seperti apa dan Bagaimana Tuhan itu ?
    Ketahuilah Tuhan itu berada di atas langit (arsy), tetapi Tuhan telah meniupkan ruhNya ke dalam diri kita. Sehingga lengkap kita bisa hidup.
    Jadi dalam diri kita ada dzat yang disebut ruh. Ruh ini adalah sebagiannya dari ruh Allah, sehingga sekecil apapun tindakan,ucapan,pikiran,perasaan,batin,angan-angan,anggapan dan sejarah perbuatan diri kita Allah sangat tau.dan adanya Ruh inilah kita ditugaskan sebagai kholifah di muka bumi ini. Allah memiliki pemancar yang disebut Ruh.
    Adapun bagaimana Allah itu, seperti apa Allah itu, cobalah diuraikan sendiri menurut kapasitas kekuatan pikiran anda.
    Boleh percaya atau tidak bahwa Tuhan itu sekarang sedang menciptakan Alam yang baru, insya Allah untuk orang-orang yang tauhidnya lurus.Amin.
    Bersambung… .

  111. apa anda pernah mendengar kata seperti ini
    hanya ada tiga yang bisa di bawa mati
    1 amal yang saleh
    2 ilmu yang bermamfaat
    3 dan sedekah dan alam jariyah
    ini sangat bertentangan dengan tahlilan,jika memang tahlilan itu mendoakan si mayit,tahlilan itu tidak akan bermanfaat apa2 jika kita mendengar kata2 yang tiga ini

  112. nu pakai dasar asal baik, bukan benar menurut syari, ngomong bid’ah, musrik pak kyai gak pernah memberikan pengertian itu. yang ikut aja ra usah ngeyel, ra usah padu (orang bertanya terus menerus nama padu menurut kyai) kyai iku warosatul anbiya. .

    ngomong dowo yo ra ngerti, mung clingak clinguk koyo ketek di tulup.

    ra usah ngomong karo wong nu. ra gutul.

  113. Banyk masyrkat yg blum sholat di lingkungan kita cobalah membimbg mereka, & yg penting tetap laailaaha illallooh muhammadurrosuulullooh siapapun mereka, dimanapun mereka sahabat kita,& tdk anarki,trims.

Komentar ditutup.