Syura dalam Pandangan Islam dan Demokrasi

Sebagian kaum muslimin mengidentikkan antara syura dan demokrasi, menganggap sama antara keduanya, atau minimal membenarkan demokrasi karena musyawarah/syura juga diakui dalam sistem demokrasi. Artikel ini berusaha memaparkan syura secara ringkas dan nantinya akan berujung pada pemaparan sisi-sisi perbedaan antara syura dan demokrasi yang merupakan produk sekulerisme.

Definisi Syura

Menurut bahasa, syura memiliki dua pengertian, yaitu menampakkan dan memaparkan sesuatu atau mengambil sesuatu [Mu'jam Maqayis al-Lughah 3/226].

Sedangkan secara istilah, beberapa ulama terdahulu telah memberikan definisi syura, diantara mereka adalah Ar Raghib al-Ashfahani yang mendefinisikan syura sebagai proses mengemukakan pendapat dengan saling merevisi antara peserta syura [Al Mufradat fi Gharib al-Quran hlm. 207].

Ibnu al-Arabi al-Maliki mendefinisikannya dengan berkumpul untuk meminta pendapat (dalam suatu permasalahan) dimana peserta syura saling mengeluarkan pendapat yang dimiliki [Ahkam al-Quran 1/297].

Sedangkan definisi syura yang diberikan oleh pakar fikih kontemporer diantaranya adalah proses menelusuri pendapat para ahli dalam suatu permasalahan untuk mencapai solusi yang mendekati kebenaran [Asy Syura fi Zhilli Nizhami al-Hukm al-Islami hlm. 14].

Dari berbagai definisi yang disampaikan di atas, kita dapat mendefinisikan syura sebagai proses memaparkan berbagai pendapat yang beraneka ragam dan disertai sisi argumentatif dalam suatu perkara atau permasalahan, diuji oleh para ahli yang cerdas dan berakal, agar dapat mencetuskan solusi yang tepat dan terbaik untuk diamalkan sehingga tujuan yang diharapkan dapat terealisasikan [Asy Syura fi al-Kitab wa as-Sunnah hlm. 13].

Pensyari’atan Syura dalam Islam

Islam telah menuntunkan umatnya untuk bermusyawarah, baik itu di dalam kehidupan individu, keluarga, bermasyarakat dan bernegara.

Dalam kehidupan individu, para sahabat sering meminta pendapat rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam masalah-masalah yang bersifat personal. Sebagai contoh adalah tindakan Fathimah yang meminta pendapat kepada nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika Mu’awiyah dan Abu Jahm berkeinginan untuk melamarnya [HR. Muslim : 1480].

Dalam kehidupan berkeluarga, hal ini diterangkan dalam surat al-Baqarah ayat 233, dimana Allah berfirman,

فَإِنْ أَرَادَا فِصَالا عَنْ تَرَاضٍ مِنْهُمَا وَتَشَاوُرٍ فَلا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا وَإِنْ أَرَدْتُمْ أَنْ تَسْتَرْضِعُوا أَوْلادَكُمْ فَلا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ إِذَا سَلَّمْتُمْ مَا آتَيْتُمْ بِالْمَعْرُوفِ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ (٢٣٣)

Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha melihat apa yang kamu kerjakan“. [Al Baqarah : 233].

Imam Ibnu Katsir mengatakan, Maksud dari firman Allah (yang artinya), ” Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya” adalah apabila kedua orangtua sepakat untuk menyapih sebelum bayi berumur dua tahun, dan keduanya berpendapat hal itu mengandung kemaslahatan bagi bayi, serta keduanya telah bermusyawarah dan sepakat melakukannya, maka tidak ada dosa bagi keduanya. Dengan demikian, faidah yang terpetik dari hal ini adalah tidaklah cukup apabila hal ini hanya didukung oleh salah satu orang tua tanpa persetujuan yang lain. Dan tidak boleh salah satu dari kedua orang tua memilih untuk melakukannya tanpa bermusyawarah dengan yang lain [Tafsir al-Quran al-'Azhim 1/635].

Dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara, Al Quran telah menceritakan bahwa syura telah dilakukan oleh kaum terdahulu seperti kaum Sabaiyah yang dipimpin oleh ratunya, yaitu Balqis. Pada surat an-Naml ayat 29-34 menggambarkan musyawarah yang dilakukan oleh Balqis dan para pembesar dari kaumnya guna mencari solusi menghadapi nabi Sulaiman ‘alahissalam.

Demikian pula Allah telah memerintahkan rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam untuk bermusyawarah dengan para sahabatnya dalam setiap urusan. Allah Ta’ala berfirman,

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الأمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ (١٥٩)

Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu Berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu, Karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya”. [Ali 'Imran : 159].

Di dalam ayat yang lain, di surat Asy Syura ayat 38, Allah Ta’ala berfirman,

وَالَّذِينَ اسْتَجَابُوا لِرَبِّهِمْ وَأَقَامُوا الصَّلاةَ وَأَمْرُهُمْ شُورَى بَيْنَهُمْ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ

Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Rabb-nya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarat antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka”. [Asy Syura : 36-39].

Maksud firman Allah Ta’ala (yang artinya), “sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarat antara mereka” adalah mereka tidak melaksanakan suatu urusan sampai mereka saling bermusyawarah mengenai hal itu agar mereka saling mendukung dengan pendapat mereka seperti dalam masalah peperangan dan semisalnya [Tafsir al-Quran al-'Azhim 7/211].

Seluruh ayat al-Quran di atas menyatakan bahwasanya syura (musyawarah) disyari’atkan dalam agama Islam, bahkan sebagian ulama menyatakan bahwa syura adalah sebuah kewajiban, terlebih bagi pemimpin dan penguasa serta para pemangku jabatan. Ibnu Taimiyah mengatakan, “Sesungguhnya Allah Ta’ala memerintahkan nabi-Nya bermusyawarah untuk mempersatukan hati para sahabatnya, dan dapat dicontoh oleh orang-orang setelah beliau, serta agar beliau mampu menggali ide mereka dalam permasalahan yang di dalamnya tidak diturunkan wahyu, baik permasalahan yang terkait dengan peperangan, permasalahan parsial, dan selainnya. Dengan demikian, selain beliau shallallahu’alaihi wa sallam tentu lebih patut untuk bermusyawarah” [As Siyasah asy-Syar'iyah hlm. 126].

Sunnah nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menunjukkan betapa nabi shallallahu’alaihi wa sallam sangat memperhatikan untuk senantiasa bermusyawarah dengan para sahabatnya dalam berbagai urusan terutama urusan yang terkait dengan kepentingan orang banyak.

Beliau pernah bermusyawarah dengan para sahabat pada waktu perang Badar mengenai keberangkatan menghadang pasukan kafir Quraisy.

Selain itu, rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bermusyawarah untuk menentukan lokasi berkemah dan beliau menerima pendapat al-Mundzir bin ‘Amr yang menyarankan untuk berkemah di hadapan lawan.

Dalam perang Uhud, beliau meminta pendapat para sahabat sebelumnya, apakah tetap tinggal di Madinah hingga menunngu kedatangan musuh ataukah menyambut mereka di luar Madinah. Akhirnya, mayoritas sahabat menyarankan untuk keluar Madinah menghadapi musuh dan beliau pun menyetujuinya.

Dalam masalah lain, ketika terjadi peristiwa hadits al-ifki, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam meminta pendapat ‘Ali dan Usamah perihal ibunda ‘Aisyah radhiallahu ‘anhum.

Demikianlan, nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bermusyawarah dengan para sahabatnya baik dalam masalah perang maupun yang lain.

Urgensi dan Faedah Syura

Ibnu ‘Athiyah mengatakan, “Syura merupakan aturan terpenting dalam syari’at dan ketentuan hukum dalam Islam” [Al Muharrar al-Wajiz]. Apa yang dikatakan oleh beliau mengenai syura benar adanya karena Allah ta’ala telah menjadikan syura sebagai suatu kewajiban bagi hamba-Nya dalam mencari solusi berbagai persoalan yang membutuhkan kebersamaan pikiran dengan orang lain. Selain itu, Allah pun telah menjadikan syura sebagai salah satu nama surat dalam al-Quran al-Karim. Kedua hal ini cukup untuk menunjukkan betapa syura memiliki kedudukan yang penting dalam agama ini.

Amir al-Mukminin, ‘Ali radhiallahu ‘anhu juga pernah menerangkan manfaat dari syura. Beliau berkata, “Ada tujuh keutamaan syura, yaitu memperoleh solusi yang tepat, mendapatkan ide yang brilian, terhindar dari kesalahan, terjaga dari celaan, selamat dari kekecewaan, mempersatukan banyak hati, serta mengikuti atsar (dalil) [Al Aqd al-Farid hlm. 43].

Urgensi dan faedah syura banyak diterangkan oleh para ulama, diantaranya imam Fakhr ad-Din ar-Razy dalam Mafatih al-Ghaib 9/67-68. Secara ringkas beliau menyebutkan bahwa syura memiliki faedah antara lain adalah sebagai berikut :

a.  Musyawarah yang dilakukan nabi shallallahu’alaihi wa sallam dengan para sahabatnya menunjukkan ketinggian derajat mereka (di hadapan nabi) dan juga hal ini membuktikan betapa cintanya mereka kepada beliau dan kerelaan mereka dalam menaati beliau. Jika beliau tidak mengajak mereka bermusyawarah, tentulah hal ini merupakan bentuk penghinaan kepada mereka.

b. Musyawarah perlu diadakan karena bisa saja terlintas dalam benak seseorang pendapat yang mengandung kemaslahatan dan tidak terpikir oleh waliy al-amr (penguasa). Al Hasan pernah mengatakan,

مَا تَشَاوَرَ قَوْمٌ إِلَّا هُدُوا لِأَرْشَدِ أَمَرِهِمْ

Setiap kaum yang bermusyawarah, niscaya akan dibimbing sehingga mampu melaksanakan keputusan yang terbaik dalam permasalahan mereka” [Al Adab karya Ibnu Abi Syaibah 1/149].

c.  Al Hasan dan Sufyan ibn ‘Uyainah mengatakan, “Sesungguhnya nabi diperintahkan untuk bermusyawarah agar bisa dijadikan teladan bagi yang lain dan agar menjadi sunnah (kebiasaan) bagi umatnya”

d.  Syura memberitahukan kepada rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam dan juga para penguasa setelah beliau mengenai kadar akal dan pemahaman orang-orang yang mendampinginya, serta untuk mengetahui seberapa besar kecintaan dan keikhlasan mereka dalam menaati beliau. Dengan demikian, akan nampak baginya tingkatan mereka dalam keutamaan.

12  Perbedaan antara Syura dan Demokrasi

Telah disebutkan sebelumnya bahwa artikel ini berusaha untuk memaparkan sisi-sisi perbedaan antara syura dan demokrasi mengingat beberapa kalangan menyamakan antara keduanya. Meskipun, komparasi antara keduanya tidaklah tepat mengingat syura berarti meminta pendapat (thalab ar-ra’yi) sehingga dia adalah sebuah mekanisme pengambilan pendapat dalam Islam dan merupakan bagian dari proses sistem pemerintahan Islam (nizham as-Siyasah al-Islamiyah). Sedangkan demokrasi adalah suatu pandangan hidup dan kumpulan ketentuan untuk seluruh konstitusi, undang-undang, dan sistem pemerintahan, sehingga bukan sekedar proses pengambilan pendapat [Syura bukan Demokrasi karya M. Shiddiq al-Jawi]. Dengan demikian, yang tepat adalah ketika kita membandingkan antara system pemerintahan Islam dengan demokrasi itu sendiri.

Perbedaan antara sistem pemerintahan Islam yang salah satu landasannya adalah syura dengan sistem demokrasi terangkum ke dalam poin-poin berikut :

a.  Umat (rakyat) dalam suatu sistem demokrasi dapat didefinisikan sebagai sekumpulan manusia yang menempati suatu wilayah tertentu, dimana setiap individu di dalamnya berkumpul dikarenakan kesadaran untuk hidup bersama, dan diantara faktor yang membantu terbentuknya umat adalah adanya kesatuan ras dan bahasa [Mabadi Nizham al-Hukm fi al-Islam hlm. 489].

Sedangkan dalam sistem Islam, definisi umat sangatlah berbeda dengan apa yang disebutkan sebelumnya, karena dalam mendefinisikan umat, Islam tidaklah terbatas pada faktor kesatuan wilayah, ras, dan bahasa. Namun, umat dalam Islam memiliki definisi yang lebih luas karena akidah islamiyah-lah yang menjadi tali pengikat antara setiap individu muslim tanpa membeda-bedakan wilayah, ras, dan bahasa. Dengan demikian, meski kaum muslimin memiliki beraneka ragam dalam hal ras, bahasa, dan wilayah, mereka semua adalah satu umat, satu kesatuan dalam pandangan Islam [Asy Syura wa ad-Dimuqratiyyah al-Ghariyyah hlm. 25].

b.  Sistem demokrasi hanya berusaha untuk merealisasikan berbagai tujuan yang bersifat materil demi mengangkat martabat bangsa dari segi ekonomi, politik, dan militer. Sistem ini tidaklah memperhatikan aspek ruhiyah.

Berbeda tentunya dengan sistem Islam, dia tetap memperhatikan faktor-faktor tersebut tanpa mengenyampingkan aspek ruhiyah diniyah, bahkan aspek inilah yang menjadi dasar dan tujuan dalam sistem Islam.Dalam sistem Islam, aspek ruhiyah menjadi prioritas tujuan dan kemaslahatan manusia yang terkait dengan dunia mereka ikut beriringan di belakangnya [Asy Syura wa ad-Dimuqratiyyah al-Ghariyyah hlm. 25].

c. Di dalam sistem demokrasi, rakyat memegang kendali penuh. Suatu undang-undang disusun dan diubah berdasarkan opini atau pandangan masyarakat. Setiap peraturan yang ditolak oleh masyarakat, maka dapat dimentahkan, demikian pula peraturan baru yang sesuai dengan keinginan dan tujuan masyarakat dapat disusun dan diterapkan.

Berbeda halnya dengan sistem Islam, seluruh kendali berpatokan pada hukum Allah suhanahu wa ta’ala. Masyarakat tidaklah diperkenankan menetapkan suatu peraturan apapun kecuali peraturan tersebut sesuai dengan hukum Islam yang telah diterangkan-Nya dalam al-Quran dan lisan nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Demikian juga dalam permasalahan ijtihadiyah, suatu peraturan dibentuk sesuai dengan hukum-hukum politik yang sesuai dengan syari’at [An Nazhariyaat as-Siyaasiyah al-Islamiyah hlm. 338].

d. Kewenangan majelis syura dalam Islam terikat dengan nash-nash syari’at dan ketaatan kepada waliyul amr (pemerintah). Syura terbatas pada permasalahan yang tidak memiliki nash (dalil tegas) atau permasalahan yang memiliki nash namun indikasi yang ditunjukkan memiliki beberapa pemahaman. Adapun permasalahan yang memiliki nash yang jelas dan dengan indikasi hukum yang jelas, maka syura tidak lagi diperlukan. Syura hanya dibutuhkan dalam menentukan mekanisme pelaksanaan nash-nash syari’at.

Ibnu Hajar mengatakan, “Musyawarah dilakukan apabila dalam suatu permasalahan tidak terdapat nash syar’i yang menyatakan hukum secara jelas dan berada pada hukum mubah, sehingga mengandung kemungkinan yang sama antara melakukan atau tidak. Adapun permasalahan yang hukumnya telah diketahui, maka tidak memerlukan musyawarah [Fath al-Baari 3/3291].

Adapun dalam demokrasi, kewenangan parlemen bersifat mutlak. Benar undang-undang mengatur kewenangannya, namun sekali lagi undang-undang tersebut rentan akan perubahan [Asy Syura wa Atsaruha fi ad- Dimuqratiyah hlm. 427-428].

e. Syura yang berlandaskan Islam senantiasa terikat dengan nilai-nilai akhlaqiyah yang bersumber dari agama. Oleh karena itu, nilai-nilai tersebut bersifat tetap dan tidak tunduk terhadap berbagai perubahan kepentingan dan tujuan. Dengan demikian, nilai-nilai tersebutlah yang akan menetapkan hukum atas berbagai aktivitas dan tujuan umat.

Di sisi lain, demokrasi justru berpegang pada nilai-nilai yang relatif/nisbi karena dikontrol oleh beranka ragam kepentingan dan tujuan yang diinginkan oleh mayoritas [Asy Syura wa Atsaruha fi ad- Dimuqratiyah hlm. 427-428].

f. Demokrasi memiliki kaitan erat dengan eksistensi partai-partai politik, padahal hal ini tidak sejalan dengan ajaran Islam karena akan menumbuhkan ruh perpecahan dan bergolong-golongan.

g. Syari’at Islam telah menggariskan batasan-batasan syar’i yang bersifat tetap dan tidak boleh dilanggar oleh majelis syura. Berbagai batasan tersebut kekal selama Islam ada.

Adapun demokrasi tidak mengenal dan mengakui batasan yang tetap. Justru aturan-aturan yang dibuat dalam sistem demokrasi akan senantiasa berevolusi dan menghantarkan pada tercapainya hukum yang mengandung kezhaliman menyeluruh yang dibungkus dengan slogan hukum mayoritas [Fiqh asy-Syura wal al-Istisyarah hlm. 12].

h. Demokrasi menganggap rakyatlah yang memiliki kekuasaan tertinggi dalam suatu negara yang berdasar pada hukum mayoritas, suara mayoritaslah yang memegang kendali pensyari’atan suatu hukum dalam menghalalkan dan mengharamkan. Adapun di dalam sistem syura, rakyat tunduk dan taat kepada Allah dan rasul-Nya kemudian kepada para pemimpin kaum muslimin [Asy Syura la ad-Dimuqratiyah hlm. 40-41, Ad Dimuqratiyah Din hlm. 32].

i. Syura bertujuan untuk menghasilkan solusi yang selaras dengan al-haq meski bertentangan dengan suara mayoritas, sedangkan demokrasi justru sebaliknya lebih mementingkan solusi yang merupakan perwujudan suara mayoritas meski hal itu menyelisihi kebenaran [Hukm ad-Dimuqratiyah hlm. 32].

j. Kriteria ahli syura sangatlah berbeda dengan kriteria para konstituen dan anggota parlemen yang ada dalam sistem demokrasi. Al Mawardi telah menyebutkan kriteria ahli syura, beliau mengatakan, “Pertama, memiliki akal yang sempurna dan berpengalaman; Kedua, intens terhadap agama dan bertakwa karena keduanya merupakan pondasi seluruh kebaikan; Ketiga, memiliki karakter senang memberi nasehat dan penyayang, tidak dengki dan iri, dan jauhilah bermusyawarah dengan wanita; Keempat, berpikiran sehat, terbebas dari kegelisahan dan kebingungan yang menyibukkan; Kelima, tidak memiliki tendensi pribadi dan dikendalikan oleh hawa nafsu dalam membahas permasalahan yang menjadi topik musyawarah [Adab ad-Dunya wa ad-Din hlm. 367; Al 'Umdah fi I'dad al-'Uddah hlm. 116; Al Ahkam as-Sulthaniyah hlm. 6; Al Ahkam as-Sultaniyah karya Abu Yala hlm. 24; Ghiyats al-Umam hlm. 33].

Adapun dalam sistem demokrasi, setiap warga negara memiliki porsi yang sama dalam mengemukakan pendapat, baik dia seorang kafir, fasik (pelaku maksiat), zindik, ataupun sekuler. Al ‘Allamah Ahmad Muhammad Syakir mengatakan, “Diantara konsep yang telah terbukti dan tidak lagi membutuhkan dalil adalah bahwasanya rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memerintahkan para pemangku pemerintahan setelah beliau untuk bermusyawarah dengan mereka yang terkenal akan keshalihannya, menegakkan aturan-aturan Allah, bertakwa kepada-Nya, menegakkan shalat, menunaikan zakat dan berjihad di jalan-Nya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menyebut perihal mereka dalam sabdanya,

لِيَلِنِي مِنْكُمْ أُولُو الْأَحْلَامِ وَالنُّهَى

Hendaklah yang dekat denganku (dalam shaf shalat) adalah mereka yang cerdas serta berakal” [HR. Muslim: 974].

Mereka bukanlah kaum mulhid (atheis), bukanpula mereka yang memerangi agama Allah, tidakpula para pelaku maksiat yang tidak berusaha menahan diri dari kemungkaran, dan juga bukan mereka yang beranggapan bahwa mereka diperbolehkan menyusun syari’at dan undang-undang yang menyelisihi agama Allah serta mereka boleh menghancurkan syari’at Islam ['Umdat at-Tafsir 1/383-384].

k. Ahli syura mengedepankan musyawarah dan nasehat kepada pemimpin serta mereka wajib untuk menaatinya dalam permasalahan yang diperintahkannya. Dengan demikian, kekuasaan dipegang oleh pemimpin. Pemimpinlah yang menetapkan dan memberhentikan majelis syura bergantung pada maslahat yang dipandangnya [Al 'Umdah fi I'dad al-'Uddah 112].

Sedangkan dalam demokrasi, kekuasaan dipegang oleh parlemen, pemimpin wajib menaati dan parlemen memiliki kewenangan memberhentikan pemimpin dan menghalangi orang yang kredibel dari pemerintahan.

l.  Apabila terdapat nash syar’i dari al-Quran dan hadits, maka ahli syura wajib berpegang dengannya dan mengenyampingkan pendapat yang menyelisihi keduanya, baik pendapat tersebut merupakan pendapat minoritas ataupun mayoritas.

Al Bukhari berkata dalam Shahih-nya, “Para imam/pemimpin sepeninggal nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bermusyawarah dengan orang-orang berilmu yang amanah dalam permasalahan yang mubah agar mampu menemukan solusi yang termudah. Apabila al-Quran dan hadits telah jelas menerangkan suatu permasalahan, maka mereka tidak berpaling kepada selainnya dalam rangka mengikuti nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Abu Bakr telah berpandangan untuk memerangi kaum yang menolak membayar zakat, maka Umar pun mengatakan, “Bagaimana bisa anda memerangi mereka padahal rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, “Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka mengucapkan laa ilaha illallah. Jika mereka telah mengucapkannya, maka darah dan harta mereka telah terjaga kecuali dengan alasan yang hak dan kelak perhitungannya di sisi Allah ta’ala.” Maka Abu Bakr pun menjawab, “Demi Allah, saya akan memerangi orang yang memisah-misahkan sesuatu yang justru digabungkan oleh rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Kemudian Umar pun mengikuti pendapat beliau.

Abu Bakr tidak lagi butuh pada musyawarah dalam permasalahan di atas, karena beliau telah mengetahui ketetapan rasulullah terhadap mereka yang berusaha memisahkan antara shalat dan zakat serta berkeinginan merubah aturan dan hukum dalam agama [Shahih al-Bukhari 9/112; Asy-Syamilah].

Adapun di dalam demokrasi, maka nash-nash syari’at tidaklah berharga karena demokrasi dibangun di atas asas al-Laadiniyah/al-’Ilmaniyah (ateisme). Oleh karenanya, demokrasi seringkali menyelisihi berbagai ajaran prinsipil dalam agama Islam seperti penghalalan riba, zina, dan berbagai hukum yang tidak sejalan dengan apa yang diturunkan Allah ta’ala.

Kesimpulannya adalah tidak ada celah untuk menyamakan antara sistem yang dibentuk dan diridhai Allah untuk seluruh hamba-Nya dengan sebuah sistem dari manusia yang datang untuk menutup kekurangan, namun masih mengandung kekurangan, dan berusaha untuk mengurai permasalahan, namun dia sendiri merupakan masalah yang membutuhkan solusi [Asy Syura wa ad-Dimuqratiyyah al-Gharbiyyah hlm. 32].

Meskipun ada persamaan antara syura dan demokrasi sebagaimana yang dinyatakan oleh sebagian kalangan. Namun, terdapat perbedaan yang sangat substansial antara keduanya, mengingat bahwa memang syura adalah sebuah metode yang berasal dari Rabb al-basyar (Rabb manusia), yaitu Allah, sedangkan demokrasi merupakan buah pemikiran dari manusia yang lemah yang tentunya tidak lepas dari kekurangan.

Wallahu al-Muwaffiq.

Sumber rujukan :

  1. Asy Syura fi al-Kitab wa as-Sunnah wa ‘inda Ulama al-Muslimin karya Prof. Dr. Muhammad bin Ahmad bin Shalih ash-Shalih
  2. Asy Syura fi Dhlaui al-Quran wa as-Sunnah karya Prof. Dr. Hasan Dhliya ad-Din Muhammad ‘Atr
  3. Fitnah ad-Dimuqratiyah karya al-Imam Ahmad Walad al-Kiwari al-’Alawi asy-Syinqithi
  4. Makalah Nazharat Mu’ashirah fi Fiqh asy-Syura karya Prof. Dr. Ahmad ‘Ali al-Imam
  5. Syura bukan Demokrasi karya M. Shiddiq al-Jawi

Penulis: Muhammad Nur Ichwan Muslim

Sumber: http://www.muslim.or.id

About these ads

One comment on “Syura dalam Pandangan Islam dan Demokrasi

  1. MALAYSIA KAFIR

    KALIMAH ﻵﺍﻟﻪﺍﻷﺍﷲ BERERTI BAHAWA :

    1. Kerajaan Allah sahaja yang tertinggi dan paling berkuasa yang mengatasi dan menundukkan seluruh kerajaan manusia dan undang-undang manusia yang selain daripada Allah (9:33);

    2. Allah adalah Tuhan yang berkuasa, berdaulat dan berhak untuk menguat kuasakan undang-undang Allah ke atas manusia (5:44);

    3. Allah adalah Tuhan yang berkuasa, berdaulat dan berhak untuk membuat undang-undang untuk seluruh umat manusia (12:40);

    4. Allah adalah Tuhan yang berkuasa, berdaulat dan berhak untuk menghukum manusia dengan undang-undang Allah (5:44);

    5. Allah adalah Tuhan yang berkuasa, berdaulat dan berhak untuk memerintah bumi (3:26; 7:54);

    6. Allah adalah Tuhan yang berkuasa, berdaulat dan berhak untuk menghamba abdikan manusia kepada kuasa Allah, iaitu manusia menjadi para hamba kepada Allah (1:1; 21:24);

    7. Allah adalah Tuhan yang berkuasa, berdaulat dan berhak untuk disembah oleh manusia (4:36);

    8. Kalimah ﻵﺍﻟﻪﺍﻷﺍﷲ bererti penafian, penolakan, pengingkaran dan penentangan yang aktif dan total terhadap kerajaan dan undang-undang manusia seperti kerajaan dan undang-undang demokrasi Malaysia kita ini (4:60; 60:4);

    9. Kalimah ﻵﺍﻟﻪﺍﻷﺍﷲ bererti tidak wujud sikap dan dasar berkecuali, berdiam diri dan tanpa tindakan terhadap sesebuah kerajaan manusia dan undang-undang manusia yang kafir (4:97);

    10. Kalimah ﻵﺍﻟﻪﺍﻷﺍﷲ bererti memerangi kerajaan yang kafir dalam bentuk peperangan yang ofensif untuk kemudiannya digantikan dengan sebuah kerajaan Allah (2:251, 193; 22:40).

    KERAJAAN MALAYSIA DAN SISTEM POLITIK DEMOKRASI ADALAH KAFIR KERANA :

    1. Artikel 4 Perlembagaan Malaysia meletakkan status Perlembagaan Malaysia sebagai undang-undang yang tertinggi yang mengatasi al-Quran dan Hadis;

    2. Artikel 43 Perlembagaan Malaysia memberi kuasa kepada para pemerintah untuk menguat kuasakan undang-undang manusia ke atas umat manusia;

    3. Artikel 44 Perlembagaan Malaysia memberi kuasa kepada para pemerintah untuk membuat undang-undang manusia;

    4. Artikel 161 Perlembagaan Malaysia memberi kuasa kepada mahkamah untuk menghukum manusia dengan undang-undang manusia;

    5. Perlembagaan Malaysia menyerahkan kuasa dan hak kepada manusia untuk memerintah ke atas seluruh umat manusia (artikel 43, 44, 161);

    6. Perlembagaan Malaysia mewujudkan sistem manusia menjadi para hamba kepada manusia kerana manusia berada di bawah kuat kuasaan undang-undang demokrasi ciptaan manusia(artikel 43);

    7. Perlembagaan Malaysia mewujudkan sistem manusia menyembah manusia (artikel 43, 161);

    8. Perlembagaan Malaysia mewujudkan Tuhan-tuhan Manusia yang membuat undang-undang, yang memerintah ke atas manusia dan yang disembah oleh manusia (artikel 43, 44,
    161);

    9. Kepercayaan Kepada Tuhan dalam Rukun Negara mempunyai pengertian mengiktiraf kesemua Tuhan sebagai Tuhan-tuhan yang sah;

    10. Kerajaan Malaysia mengimani, menganuti dan mengamalkan agama demokrasi yang kafir dengan sekali gus ia manolak dan mengingkari kalimah ﻵﺍﻟﻪﺍﻷﺍﷲ.

    RUKUN NEGARA KAFIR

    Kepercayaan kepada Tuhan :

    1. Allah swt

    2. Jesus Kristus

    3. Tuhan Buddha

    4. Tuhan Hindu

    5. Tuhan Zoroaster

    6. Tuhan Appolo

    Kepercayaan kepada Tuhan dalam Rukun Negara dapat dianalisiskan sebagai mempunyai dua permasalahan yang besar:

    1. Tuhan tidak terkhusus kepada Allah sahaja dan dimaksudkan kepada semua Tuhan;

    2. Tidak ada penafian dan pengingkaran terhadap Tuhan-Tuhan yang lain, malah Rukun Negara mengiktiraf dan membenarkan kesemua Tuhan selain daripada Allah s.w.t.

    Bagi maksud Rukun Negara, Buddha juga Tuhan, Vishnu juga Tuhan, segala patung di kuil-kuil Hindu dan Cina itu juga Tuhan-Tuhan yang layak disembah, kesemua Tuhan itu diiktiraf dan diletakkan sama taraf dengan Allah s.w.t. Rukun Negara yang mengiktiraf dan yang menyama tarafkan kesemua Tuhan adalah kafir. Seseorang yang menyetujuinya serta ia tidak menolak dan mengingkarinya, ia mengalami kerosakan dalam pegangan dan amalannya akan kalimah ﻵﺍﻟﻪﺍﻷﺍﷲ yang mengeluarkan dirinya daripada agama Allah.

    AMALAN DEMOKRASI ADALAH KAFIR

    Kerajaan Malaysia adalah kafir kerana AQIDAHNYA adalah kafir. Seseorang yang mengamalkan sistem politik demokrasi bererti ia mengamalkan agama yang kafir yang mengeluarkannya daripada agama Allah. Kita tidak boleh melakukan IJTIHAD dan MASLAHAH bagi membolehkan kita untuk mengamalkan sistem politik demokrasi bagi tujuan untuk memperjuangkan Islam; pertama, kerana ianya adalah tergolong ke dalam bahagian AQIDAH yang tidak memberi sebarang ruang kepada kita untuk melakukan IJTIHAD dan MASLAHAH; kedua, sudah wujud keputusan yang muktamad serta yang jelas dan terang daripada Allah yang khusus melarang kita daripada mengamalkan sistem politik demokrasi kita ini bagi tujuan untuk memperjuangkan Islam (35:10, 60:4, 4:60).

    Firman Allah : Fatir 10
    Sesiapa yang mahukan kemuliaan (maka hendaklah ia berusaha mencarinya dengan jalan mematuhi perintah Allah), kerana bagi Allah jualah segala kemuliaan. Kepada Allahlah naiknya segala madah yang baik (yang menegaskan iman dan tauhid untuk dimasukkan ke dalam kira-kira balasan), dan amal yang soleh pula diangkat-Nya naik ( sebagai amal yang makbul – yang memberi kemuliaan kepada yang melakukannya). dan sebaliknya; orang-orang yang merancangkan kejahatan (untuk mendapat kemuliaan), adalah bagi mereka azab seksa yang berat; dan rancangan jahat mereka (kalau berkesanpun) akan rosak binasa.

    Orang-orang yang mengamalkan sistem politik demokrasi disifatkan Allah sebagai merancang untuk melakukan kejahatan yang akan diseksa di akhirat nanti! Ini adalah keputusan yang muktamad, serta yang jelas dan terang daripada Allah yang melarang kita daripada mengamalkan sistem politik demokrasi. Amalan agama demokrasi adalah persoalan AQIDAH – mengikut hukum Fiqh Islam, tiada maslahah dan ijtihad dalam persoalan Aqidah. Ayat ini (Fatir 10) dan ayat-ayat yang lain (4:60; 60:4) menolak Ijtihad at-Tanzil yang dibuat oleh PAS bagi membolehkan amalan politik demokrasi.

    Firman Allah : al-Mumtahanah 4
    “Kami berlepas diri daripada kamu dan daripada apa-apa yang kamu sembah yang lain daripada Allah. Kami mengingkari (agama) kamu, dan telah terang permusuhan dan kebencian di antara kami dan kamu selama-lamanya sehinggalah kamu menyembah Allah semata-mata.”

    Sikap kita terhadap demokrasi dan kerajaan demokrasi Malaysia kita yang kafir ini hanyalah dalam bentuk penafian, penolakan, pengingkaran dan penentangan yang aktif dan total terhadapnya, serta ianya diikuti dengan sikap kebencian dan permusuhan kita terhadapnya yang berkekalan dan berpanjangan sehingga agama demokrasi yang syirik dan kufur dan segala bentuk dan jenis kesyirikan dan kekufurannya itu mengalami keruntuhan dan kehancuran yang total, dan supaya akhirnya kekuasaan, dominasi dan “supremacy” itu hanya menjadi milik dan hak mutlak Allah sahaja di bumi ini. Membenci dan memusuhi kerajaan demokrasi kita ini adalah Aqidah Islam yang ditetapkan oleh Allah swt!

    Firman Allah: an-Nisa 60
    Tidakkah engkau perhatikan bahawa orang-orang yang mendakwakan bahawa mereka beriman kepada yang diturunkan kepada engkau dan yang diturunkan sebelum daripada engkau, mereka hendak meminta hukum kepada taghut, sedangkan mereka disuruh supaya kufurkan terhadap Taghut. Syaitan menghendaki supaya ia menyesatkan mereka dengan kesesatan yang jauh.

    Takfir bererti mengisytiharkan kesyirikan dan kekufuran agama demokrasi dan sistem politik demokrasi kita ini, takfir bererti tidak mengamalkan agama demokrasi dan sistem politik demokrasi kita yang syirik dan kufur ini, takfir bererti mengasing dan memisahkan diri kita daripadanya, takfir bererti menafi, menolak, mengingkari dan menentangnya, takfir bererti tidak berkompromi dengannya dan sentiasa berkonfrantasi, bermusuhan dan membencinya. Takfir adalah syarat keimanan kita kepada kalimah ﻵﺍﻟﻪﺍﻷﺍﷲ, tanpa mempraktik dan mengamalkan konsep TAKFIR terhadap agama demokrasi, kerajaan demokrasi, peraturan dan undang-undang demokrasi dan segala institusi demokrasi di dalam negara kita ini ianya bererti kita tidak beriman dengan kalimah ﻵﺍﻟﻪﺍﻷﺍﷲ yang mengeluarkan kita daripada agama Allah.

    UMNO DAN PAS YANG MENGAMALKAN AGAMA DEMOKRASI ADALAH KAFIR KERANA :

    1. Mereka melantik ahli-ahli Parlimen dan Dun sebagai Tuhan-tuhan Manusia (Taghut) yang kafir.

    2. Mereka mengamalkan agama yang kafir, mereka menghalal dan membolehkan amalannya serta mereka menyetujui dan meredhai amalannya itu;

    3. Mereka mengiktiraf bahawa Perlembagaan Malaysia adalah undang-undang yang tertinggi yang mengatasi undang-undang al-Quran;

    4. Mereka mengakui dan mengiktiraf semua Tuhan, iaitu mereka mengiktiraf Allah sebagai Tuhan kita dan mereka juga mengiktiraf Tuhan-tuhan yang lain sebagai Tuhan-tuhan yang sah yang bererti mereka melakukan syirik terhadap Allah;

    5. Mereka mempertahan, memperkasa dan menjadi para pendukung kepada agama demokrasi;

    6. Mereka membuat undang-undang manusia yang kafir;

    7. Mereka menghukum manusia dengan undang-undang manusia;

    8. Mereka adalah berkuasa dan berdaulat untuk memerintah ke atas umat manusia;

    9. Mereka berada di bawah kuat kuasa undang-undang manusia yang menjadikan mereka sebagai para hamba kepada manusia;

    10. Mereka mewujudkan sistem manusia menyembah manusia kerana seluruh umat manusia mentaati dan mematuhi undang-undang demokrasi ciptaan manusia;

    PARA PENGIKUT UMNO DAN PAS SERTA SELURUH UMAT ISLAM SEKELIAN YANG MENGAMALKAN AGAMA DEMOKRASI ADALAH ORANG-ORANG KAFIR, ZALIM DAN FASIK KERANA :

    1. Mereka melantik ahli-ahli Parlimen dan Dun sebagai Tuhan-tuhan Manusia yang kafir.

    2. Mereka mengamalkan agama yang kafir, mereka menghalal dan membolehkan amalannya
    dan mereka menyetujui dan meredhainya bersekali dengan amalannya itu;

    3. Mereka mengiktiraf bahawa Perlembagaan Malaysia adalah undang-undang yang tertinggi yang mengatasi undang-undang al-Quran;

    4. Mereka mengakui dan mengiktiraf semua Tuhan, iaitu mereka mengiktiraf Allah sebagai Tuhan kita dan mereka juga mengiktiraf Tuhan-tuhan yang lain sebagai Tuhan-tuhan yang sah yang bererti mereka melakukan syirik terhadap Allah;

    5. Mereka mempertahan, memperkasa dan menjadi para pendukung kepada agama demokrasi;

    6. Mereka menyerahkan kuasa kepada para pemimpin untuk membuat undang-undang manusia yang kafir;

    7. Mereka menyerahkan kuasa kepada para pemimpin mereka untuk menghukum manusia dengan undang-undang manusia;

    8. Mereka menyerahkan kuasa kepada para pemimpin mereka yang berkuasa dan berdaulat untuk memerintah ke atas umat manusia;

    9. Mereka menjadikan diri mereka sebagai para hamba kepada manusia kerana mereka berada di bawah kuat kuasa undang-undang manusia;

    10. Mereka menyembah manusia kerana mereka mentaati dan mematuhi undang-undang demokrasi;

    Kerajaan demokrasi Malaysia kita ini adalah kerajaan manusia yang kafir. UMNO dan PAS serta sesiapa sahajapun yang mengamalkannya ianya bererti bahawa mereka mengamalkan agama manusia yang kafir. Ini adalah perbuatan mereka yang kafir yang sudah semestinya mengeluarkan mereka daripada agama Allah.

    UMAT ISLAM YANG MENGAMALKAN SISTEM POLITIK DEMOKRASI MEMBATALKAN SYAHADAH MEREKA KERANA MEREKA MELAKUKAN PERKARA-PERKARA BERIKUT :

    1. Mempercayai kerajaan demokrasi adalah Islam atau bersesuaian dengan Islam;

    2. Mengamalkan sistem politik demokrasi yang bererti mengamalkan agama yang kafir;

    3. Melantik ahli-ahli Parlimen dan Dun sebagai Tuhan-tuhan Manusia;

    4. Menyerahkan kuasa untuk membuat undang-undang kepada ahli-ahli Parlimen dan Dun;

    5. Menyerahkan kuasa kepada kerajaan untuk menjalan dan menguat kuasakan undang-undang;

    6. Menghukum dan mengadili manusia dengan undang-undang manusia;

    7. Berada di bawah kuat kuasa undang-undang demokrasi yang bererti menjadi para hamba
    kepada manusia yang mewujudkan sistem pengabdian manausia kepada manusia;

    8. Mentaati dan mematuhi undang-undang demokrasi yang bererti menyembah manusia;

    9. Menyetujui dan meredhai sistem politik demokrasi bererti beriman kepada agama demokrasi;

    10. Tidak mengisytiharkan kekufuran demokrasi, tidak menolak dan mengkufur ingkarkannya serta tidak mengisytiharkan untuk menghapuskannya melalui Jihad, Perang dan Revolusi.

    Seluruh umat Islam di Malaysia kita kini adalah orang-orang kafir kerana sikap dan pemikiran kita adalah kafir serta sistem kehidupan kita adalah kafir seperti mana yang digariskan di atas ini.

    UMAT ISLAM YANG BERADA DI BAWAH KERAJAAN DEMOKRASI DAN KUAT KUASA UNDANG-UNDANG DEMOKRASI MEMELIHARA KESEMPURNAAN AQIDAH ISLAM MEREKA KERANA MEREKA MELAKUKAN PERKARA-PERKARA BERIKUT :

    1. Mempercayai kekufuran kerajaan demokrasi serta mengisytiharkan kekufurannya;

    2. Tidak mengamalkan sistem politik demokrasi;

    3. Menjauhi dan memisahkan diri kita daripada kerajaan demokrasi;

    4. Menolak dan mengkufur ingkarkan kerajaan demokrasi;

    5. Tidak berkompromi dengan kerajaan demokrasi;

    6. Memusuhi dan membenci sistem politik demokrasi dan kerajaan demokrasi;

    7. Mengancam, mengganggu dan mencabar kerajaan demokrasi, serta hidup di sepanjang
    masa sebagai penderhaka dan pemberontak yang aktif terhadap Kerajaan demokrasi;

    8. Berkonfrantasi sepanjang masa terhadap kerajaan demokrasi;

    9. Mengisytiharkan Jihad, Perang dan Revolusi untuk menghapuskan demokrasi adalah Fardhu Ain;

    10. Buat persediaan untuk melancarkan Jihad, Perang dan Revolusi ke atas kerajaan demokrasi.

    Ini adalah system kehidupan Islam di bawah kerajaan demokrasi yang kafir. Sistem kehidupan Islam seperti ini adalah METOD ISLAM dalam perjuangan Islam untuk menghapuskan sesuatu kekuasaan kafir dan sekali gus ianya adalah juga METOD ISLAM untuk menegakkan kerajaan Allah di bumi.

    METOD ISLAM ADALAH METOD PERJUANGAN RASULULLAH SAW.

    Apabila sistem kehidupan Rasulullah saw semasa dalam era Mekah dahulu itu ditaati, dipatuhi dan diamalkan semua sekali di Malaysia kita ini; pertama sekali, ia menyempurnakan pegangan dan amalan kita akan AQIDAH kita; kedua, ia akan membawa perjuangan Islam kita kepada Jihad, Perang dan Revolusi.

    SIKAP DAN TINDAKAN RASULULLAH SAW TERHADAP AGAMA DAN KEKUASAAN JAHILIYAH :

    1. Mengisytiharkan kalimah ﻵﺍﻟﻪﺍﻷﺍﷲ untuk menegakkan kekuasaan Islam dan sistem kehidupan Islam, serta matlamat untuk menghapuskan kekuasaan Jahiliyah.

    2. Mengisytiharkan agama jahiliyah Mekah sebagai agama yang syirik dan kufur.

    3. Tidak mengamal, mengimani dan menganuti agama Jahiliyah.

    4. Tidak membolehkan amalan agama Jahiliyah bagi tujuan perjuangan Islam.

    5. Tidak mengiktiraf dan bersetuju terhadap agama Jahiliyah.

    6. Tidak bersetuju untuk menyerahkan hak dan kuasa untuk membuat peraturan dan undang-
    undang kepada manusia.

    7. Tidak mentaati peraturan dan undang-undang manusia.

    8. Menafi, menolak, mengingkari dan menentang dengan terbuka, aktif dan total terhadap agama Jahiliyah.

    9. Memisah dan mengasingkan diri daripada kepimpinan kufur dan kekuasaan kufur serta untuk memusuhi dan membencinya.

    10. Mengamalkan sikap tidak berkompromi dan non-konformis terhadap agama Jahiliyah.

    11. Mencabar dan mengancam agama Jahiliyah yang sedang berkuasa dan berdaulat.

    12. Bersedia dan sanggup untuk dizalimi dan ditindas oleh kekuasaan Jahiliyah dengan ketara dan berpajangan.

    13. Setelah memperolehi kekuatan, Islam akan melancarkan Jihad dan Perang terhadap Jahiliyah untuk menghapuskan sistem pengabdian manusia kepada kuasa manusia dan untuk mengembalikan pengabdian seluruh umat manusia kepada Allah sahaja.
    Inilah jalan dan metod perjuangan Rasulullah saw semasa dalam era Mekah yang sama sekali berbeza dan berkontradiksi dengan sistem kehidupan seluruh umat Islam kita di Malaysia kini.

    Baginda memisah dan mengasingkan kumpulan umat Islam daripada masyarakat Jahiliyah dan meletakka mereka di bawah kepimpinan yang baru yang dipimpin oleh beliau sendiri yang mencabar dan mengancam kepimpinan Jahiliyah. Baginda mengamalkan sikap dan tindakan-tindakan penafian, penolakan, pengingkaran dan penentangan yang terbuka, aktif dan total terhadap agama Jahiliyah, kepimpinan Jahiliyah dan kerajaan Jahiliyah Mekah.

    Sebaliknya jalan perjuangan kita adalah jalan yang sama sekali berkontradiksi dengan jalan Rasulullah saw kerana kita mengamalkan agama demokrasi yang melibatkan kita dengan kesyirikan dan kekufuran yang mengeluarkan seluruh kita ini daripada agama Allah – ini adalah kerana mereka melakukan perkara-perkara berikut :

    1. Tidak mengisytiharkan matlamatnya untuk menghapuskan agama demokrasi sebagai agama yang syirik dan kufur;

    2. Tidak mengisytiharkan bahawa demokrasi ini adalah agama yang syirik dan kufur ;

    3. Mengamal dan menganuti agama demokrasi yang bererti mereka menganuti dan mengamalkan agama manusia yang syirik dan kufur ;

    4. Memboleh dan menghalalkan amalan agama demokrasi sebagai jalan untuk memperjuangkan Islam;

    5. Mengiktiraf, bersetuju dan meredhai agama demokrasi;

    6. Bersetuju dan redha untuk menyerahkan hak dan kuasa untuk membuat peraturan dan undang-undang kepada manusia ;

    7. Mentaati dan mematuhi peraturan dan undang-undang demokrasi ciptaan manusia;

    8. Tidak menafi, menolak, mengingkari dan menentang dengan aktif dan total terhadap agama demokrasi yang syirik dan kufur ;

    9. Tidak memisahkan diri daripada kepimpinan kufur dan kekuasaan kufur serta tidak memusuhi dan membencinya;

    10. Tidak mengamalkan sikap tidak berkompromi dan non-konformis terhadap agama Jahiliyah

    11. Tidak mencabar dan mengancam agama Jahiliyah yang sedang berkuasa dan berdaulat.

    12. Tidak akan dizalimi dan ditindas oleh kekuasaan Jahiliyah kerana cara berdakwah yang tidak mencabar dan mengancam kekuatan dan kekuasaan Jahiliyah;

    13. Tidak bersedia untuk melancarkan Jihad dan Perang terhadap Jahiliyah dan kekuasaan jahiliah serta tidak bercadang untuk menghapuskan sistem pengabdian manusia kepada kuasa manusia.

    Umat Islam kita memilih jalan dan metod perjuangan yang syirik dan kufur. Al-Quran menyatakan dengan jelas dan terang bahawa perjuangan yang berbeza dan berkonflik dengan jalan dan metod daripada Allah dan Rasul-Nya adalah kesyirikan dan kekufuran :

    Firman Allah : al-Imran 32
    Katakanlah : Taatlah kepada Allah dan Rasul, jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak kasihkan orang-orang kafir.

    Kehidupan seluruh massa umat Islam di Malaysia kita ini adalah satu kontradiksi yang total dengan kehidupan Rasulullah saw dan para pengikut Baginda semasa di zaman Mekah itu, kehidupan kita kini juga berbeza dan berkontradiksi dengan segala konsep dan prinsip yang terkandung dalam kalimah ﻵﺍﻟﻪﺍﻷﺍﷲ. Kesemuanya ini bererti bahawa sistem kehidupan seluruh massa umat Islam kita kini adalah syirik dan kufur yang mengeluarkan seluruh umat Islam kita ini daripada agama Allah.

    Sistem kehidupan Rasulullah saw di zaman Mekah dahulu itu adalah METOD ISLAM dalam perjuangan Islam untuk menghapuskan kekuasaan kufur dan untuk menegakkan satu kekuasaan Islam. Apabila kita mengamalkan sistem kehidupan Rasulullah saw dan para pengikut Baginda semasa di zaman Mekah seperti mana yang di gariskan di atas ini di Malaysia kita pada masa ini, itu adalah satu Proses Revolusi yang akan membawa Pergerakan Islam di Malaysia kita ini kepada Jihad, Perang dan Revolusi.

    JIHAD, PERANG DAN REVOLUSI :

    Firman Allah : al-Hajj 40
    Sekiranya Allah tidak menjatuhkan segolongan manusia dengan segolongan yang lain, nescaya runtuhlah tempat-tempat pertapaan serta gereja-gereja, dan sinagog-sinagog dan juga masjid-masjid yang sentiasa disebut nama Allah dengan banyak padanya.

    Firman Allah :al-Baqarah 251
    Sekiranya Allah tidak menahan segolongan manusia dengan segolongan yang lain nescaya rosak binasalah bumi ini.

    Allah memerintahkan kita supaya melancarkan Jihad, Perang dan Revolusi dalam bentuk yang OFENSIF ke atas Kerajaan Malaysia sehingga ianya mengalami keruntuhan dan kehancuran yang total untuk kemudiannya digantikan dengan kerajaan Allah. Perang OFENSIF bererti menyerang dan memerangi kerajaan Malaysia atau musuh-musuh Islam yang lain tanpa terlebih dahulu kita ini diserang dan diperangi oleh mereka. Kerajaan Malaysia adalah penindasan, kezaliman dan kerosakan di sisi kalimah ﻵﺍﻟﻪﺍﻷﺍﷲ kerana ianya berada di bawah sistem PENGABDIAN MANUSIA KEPADA KUASA MANUSIA, iaitu manusia menjadi para hamba kepada manusia kerana mereka berada di bawah kuat kuasa undang-undang manusia. Allah memerintahkan kita supaya MEMBERONTAK terhadap kerajaan Malaysia kita ini dalam bentuk yang OFENSIF yang bertujuan untuk menghapuskan sistem PENGABDIAN MANUSIA KEPADA KUASA MANUSIA yang wujud dan berlaku di dalamnya sehingga ianya mengalami keruntuhan dan kehancuran yang total untuk kemudiannya digantikan dengan sebuah kerajaan Allah yang akan menegakkan sistem PENGABDIAN MANUSIA KEPADA ALLAH.

    Firman Allah: al-Baqarah 193
    Dan berperanglah sehingga tiada lagi fitnah (penindasan) dan jadilah agama untuk Allah.

    Kerajaan Malaysia bersekali dengan segala peraturan dan undang-undangnya adalah disifatkan Allah sebagai “FITNAH” iaitu PENINDASAN kerana ianya adalah ciptaan manusia yang selain daripada Allah. Selagi penindasan ini wujud, selama itulah Jihad, Perang dan Revolusi adalah diperintahkan Allah untuk dilancarkan terhadap kerajaan demokrasi Malaysia kita ini sehingga penindasan ini, iaitu kerajaan Malaysia kita ini bersekali dengan segala peraturan dan undang-undangnya adalah terhapus semua sekali untuk kemudiannya digantikan dengan kerajaan Allah (2:193).

    JIHAD, PERANG DAN REVOLUSI ADALAH AQIDAH

    Ayat-ayat 2:251; 22:40 dan 2:193 adalah Jihad, Perang dan Revolusi yang bertujuan untuk :

    1. Menghapuskan kerajaan demokrasi atau mana-mana kerajaan manusia yang kafir;

    2. Menegakkan kerajaan Allah di bumi.

    Ini adalah ayat-ayat al-Quran yang berbentuk umum, kekal, muktamad dan final yang memerintahkan kita untuk melancarkan JIHAD, PERANG DAN REVOLUSI terhadap kerajaan demokrasi Malaysia dalam bentuknya yang OFENSIF dan untuk kesemua ZAMAN dan ERA. Perang di sini adalah bertujuan untuk menghapuskan sistem PENGABDIAN MANUSIA KEPADA KUASA MANUSIA dan juga FITNAH yang wujud, beroperasi dan berkuat kuasa di dalam kerajaan Malaysia yang kafir. Jihad, Perang dan Revolusi mengikut ayat-ayat 2:193, 251 dan 22:40 yang sedang dibicarakan di sini adalah AQIDAH kerana ianya adalah Jihad, Perang dan Revolusi yang bertujuan untuk menghapuskan Taghut dan untuk menegakkan Tauhid, iaitu ianya dilancarkan dalam bentuk yang OFENSIF yang bertujuan untuk menghapuskan Uluhiyah dan Rububiyah Manusia dan untuk menegakkan Uluhiyah dan Rububiyah Allah dan kalimah ﻵﺍﻟﻪﺍﻷﺍﷲ .

    Jihad, Perang dan Revolusi yang bertujuan untuk menghapuskan Taghut dan untuk menegakkan Tauhid adalah FARDHU AIN yang diperintah dan diwajibkan ke atas setiap umat Islam dan untuk kesemua masa dan zaman.

    Dalam sejarah kebangkitan dan penaklukan Islam di zaman keagungan Islam, para angkatan Islam menyerang, memerangi dan menakluki Rom, Sepanyol, Perancis, Balkan, Russia, Asia Tengah, Farsi, India dan Afrika Utara dengan Jihad, Perang dan Revolusi dalam bentuk yang OFENSIF, iaitu menyerang dan memerangi musuh-musuh Islam sebelum dan tanpa terlebih dahulu diserang dan diperangi atau dizalimi dan disakiti oleh seluruh mereka itu. Secara umumnya majoriti daripada Jihad dan Perang yang dilancarkan oleh Rasulullah saw, yang kemudiannya diikuti oleh para Khulafa’ ar Rasyidin dan Negara-negara Islam yang wujud silih berganti pada zaman-zaman Medinah, Umayyah, Abasiyah di Baghdad, Andalus di Sepanyol, Seljuk dan Uthmaniyah di Turki dan lain-lain pusat kekuasaan Islam ke atas negara-negara kafir adalah dalam bentuk yang OFENSIF, iaitu menyerang dan memerangi mereka tanpa terlebih dahulu diserang dan diperangi oleh mereka itu yang bertujuan untuk menghapuskan penindasan dan kezaliman yang lahir akibat daripada sistem PENGABDIAN MANUSIA KEPADA KUASA MANUSIA yang wujud dan berkuat kuasa di dalam negara-negara kafir tersebut.

    METOD ISLAM

    METOD ISLAM dalam perjuangan Islam adalah terdiri daripada DUA PERINGKAT perjuangan :

    1. Proses Revolusi;

    2. Jihad, Perang dan Revolusi.

    PROSES REVOLUSI adalah terdiri daripada SIKAP dan TINDAKAN-TINDAKAN seperti berikut :

    1. Deklarasi kekufuran demokrasi dan kerajaan demokrasi;

    2. Penolakan total terhadap kerajaan demokrasi;

    3. Tanpa kompromi dengan kerajaan demokrasi yang kafir;

    4. Konfrantasi Terbuka terhadap kerajaan demokrasi.

    PROSES REVOLUSI adalah METOD ISLAM dalam sesuatu Perjuangan Islam yang akan membawa sesuatu PERGERAKAN ISLAM itu kepada JIHAD, PERANG dan REVOLUSI. Proses Revolusi ini adalah satu fasa yang amat penting dan “crucial” dalam sesuatu perjuangan Islam yang membolehkan sesuatu Pergerakan Islam itu untuk menuju kepada gerakan Jihad, Perang dan Revolusi. Tanpa Proses Revolusi ini sesuatu Pergerakan Islam itu tidak boleh mengoperasikan gerakan Jihad, Perang dan Revolusi.
    Huraian lebih detail mengenai PROSES REVOLUSI dalam perjuangan kita untuk menghapuskan kerajaan demokrasi Malaysia pada zaman kita kini adalah seperti berikut :

    1. Proses Revolusi adalah satu fasa perjuangan yang wujud dalam bentuk konflik secara total dan terbuka di antara Pergerakan Islam dengan kerajaan demokrasi yang syirik dan kufur yang akhirnya akan membawa kepada Jihad, Perang dan Revolusi;

    2. Proses Revolusi ini akan memakan masa yang agak lama, mungkin generasi demi generasi, yang kemudianya akan membawa kepada kebangkitan massa ummah yang akan membesar dan mengembang kepada Jihad, Perang dan Revolusi;

    3. Proses Revolusi ini adalah satu fasa perjuangan yang membolehkan sesuatu Pergerakan Islam itu untuk mengumpul, membina dan menjana KEKUATANNYA daripada segala sumber daripada dalam Pergerakan Islam itu sendiri dan juga segala sumber daripada persekitarannya;

    4. Ia bermula daripada satu Pergerakan Islam yang kecil sehingga ia membesar dengan mendapat sokongan dan penglibatan daripada seluruh massa umat Islam di persekitarannya;

    5. Pergerakan Islam amat memerlukan kepada segala KEKUATAN untuk mengatasi musuh-musuhnya, iaitu kekuatan iman dan ketaqwaan, kekuatan jiwa dan rohani, kekuatan tekad dan keazaman, kekuatan semangat dan komitmen yang amat mendalam kepada perjuangan, kekuatan perpaduan sesama para pejuang Islam, kekuatan dalam bentuk kefahaman yang mendalam mengenai Aqidah Islam dan juga Metod Islam, serta kekuatan fizikal dalam bentuk material, persenjataan dan latihan – segala kekuatan ini adalah amat diperlukan kerana ianya adalah untuk tujuan merampas kuasa politik negara yang kufur itu dengan Jihad, Perang dan Revolusi;

    6. Kebangkitan Islam dimulakan dengan pembentukan sebuah Pergerakan Islam yang MENDEKLARASIKAN matlamat perjuangannya secara terbuka untuk menghapuskan kerajaan demokrasi yang syirik dan kufur ini untuk kemudianya digantikan dengan sebuah kerajaan Allah melalui Jihad, Perang dan Revolusi;

    7. Pergerakan Islam mengamalkan sikap dan tindakan-tindakan PENENTANGAN TOTAL dan TANPA KOMPROMI terhadap kerajaan demokrasi yang syirik dan kufur ini;

    8. Pergerakan Islam mengelakkan diri mereka daripada mengamalkan sistem politik demokrasi, mereka memisah dan mengasingkan diri mereka daripadanya, mereka menolak kepimpinan yang sedia ada dan mereka berhimpun di bawah satu kepimpinan yang baru;

    9. Pergerakan Islam mengoperasikan proses penyebaran Aqidah dan Pemikiran Islam dalam bentuk TARBIYAH, TINDAKAN dan PERGERAKAN, dan bukan hanya tarbiyah demi tarbiyah sahaja tanpa tindakan dan pergerakan;

    10. Pergerakan Islam sentiasa bertindak aktif, agresif dan militen dalam MENCABAR, MENGGANGGU dan MENGANCAM kerajaan demokrasi yang syirik dan kufur ini;

    11. Sesebuah kerajaan demokrasi itu tidak diberi pilihan yang lain melainkan hanya untuk bertindak balas dalam bentuk MENINDAS dan MENZALIMI sesebuah Pergerakan Islam yang berbentuk agresif, militen, radikal dan revolusyeneri ini;

    12. Tindak balas yang zalim dan menindas sesebuah kerajaan demokrasi terhadap Pergerakan Islam ini hanyalah sekadar untuk menyelamatkan kerajaan mereka daripada mengalami kehancuran, mengelakkan pengusiran mereka daripada takhta pemerintahan mereka dan mengelakkan kehilangan segala harta dan kepentingan mereka – ia bertindak untuk mempertahan dan mengekalkan status quo;

    13. “ACTIONS” dalam bentuk segala agitasi dan desakan yang aktif, agresif dan militen daripada Pergerakan Islam akan menimbulkan “REACTIONS” daripada kerajaan demokrasi, iaitu “reactions” daripada pihak kerajaan dalam bentuk tindakan-tindakan yang tegas dan keras dalam membenteraskan kebangkitan Islam ini, kemudian “REACTIONS’ ini pula akan menimbulkan “COUNTER-REACTIONS” daripada Pergerakan Islam yang bertindak semakin agresif dan militen terhadap kerajaan;

    14. Segala “ACTIONS’, “REACTIONS” dan “COUNTER-REACTIONS” dalam bentuk segala tindakan dan serangan yang aktif, agresif dan militen yang saling berbalas-balas di antara kedua-dua pihak yang berkonflik ini akan merebak, menyemarak dan memuncak kepada satu situasi KONFRANTASI TERBUKA yang bersifat semakin hangat, getir dan sengit dari masa ke masa – situasi inilah yang menghidup, merangsang, menyegar dan mengkesinambungkan segala aktiviti Jihad, Perang dan Revolusi di kalangan para pejuang Islam;

    15. Suasana kehangatan konflik dalam bentuk segala tindakan yang saling berbalas-balas di antara kedua-dua pihak yang berkonflik itu akan menyumbangkan kepada kekesanan gerakan TARBIYAH yang dijalankan oleh Pergerakan Islam di kalangan massa umat Islam dan sekali gus ianya juga membantu untuk mencapai peningkatan tahap KETAQWAAN di kalangan mereka (massa umat Islam) yang diharapkan agar mereka itu akan akhirnya terserap ke dalam perjuangan dan Pergerakan Islam;

    16. Konflik ini adalah konflik hanya kerana AQIDAH semata-mata yang berbentuk AGAMA menentang AGAMA, dan ianya bukanlah konflik kerana bangsa, negara dan tanah air, atau kerana ekonomi, teknologi dan sebarang faktor yang lain daripada AQIDAH;

    17. Konflik ini adalah sesuatu yang DIPAKSAKAN ke atas kekuasaan demokrasi yang syirik dan kufur ini, iaitu sesuatu yang dicipta dan diwujudkan dengan sengaja, sedar dan terancang oleh Pergerakan Islam yang bersifat dan berbentuk agresif, militen, radikal dan revolusyeneri;

    18. Tanpa konflik seperti ini, umat Islam tidak akan mengalami kebangkitan, dan hal ini akan hanya mengakibatkan kelesuan, kelembapan dan akhirnya kelenyapan yang total kepada perjuangan Islam;

    19. Pergerakan Islam sedar bahawa mereka sebenarnya menanggung risiko yang amat besar, iaitu setelah melalui jalan-jalan yang berliku-liku dan mengalami segala pahit getir, yang memakan masa generasi demi generasi, mereka menghadapi dua kemungkinan – samada perjuangan mereka akan berakhir dengan menempa kejayaan atau mereka akan tumpas di bumi, namun mereka tetap dijamin untuk mencatat kejayaan dan kemenangan yang amat
    gemilang di sisi Allah swt di akhirat nanti!

    20. Pergerakan Islam tidak mengharapkan orang lain atau pihak yang lain untuk membantu mereka dalam mengatasi musuh-musuh mereka – mereka mengalah, mengatasi dan merampas kekuasaan politik itu dengan kekuatan yang ada pada mereka sendiri yang terkumpul, terjana dan terbina semasa dalam perjalanannya melalui proses TARBIYAH, TINDAKAN dan PERGERAKAN.

    Inilah PROSES REVOLUSI yang berperanan sebagai satu proses radikalisasi dan aktivasi massa umat Islam yang akan membawa kepada KEBANGKITAN, PERANG dan REVOLUSI dalam fasa yang kemudiannya nanti. Hanya melalui amalan PROSES REVOLUSI ini sahaja yang berkeupayaan untuk membawa sesuatu perjuangan Islam itu kepada JIHAD, PERANG dan REVOLUSI. Allah menyeru dan memerintahkan kita supaya membebaskan diri kita daripada belenggu kerajaan demokrasi yang kafir yang sedang berkuasa dan berdaulat ke atas kita ini dengan Jihad, Perang dan Revolusi.

    Sekian, terima kasih.

    Wan Solehah al-Halbani
    Lubuk Terua, Temerloh, PAHANG DM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s